
dara melihat Tangan Braga yang telah dibalut kain perban.
" jadi semalam ke kamar Hana dan meminta dia mengobati lukanya. bagus sekali mas. akan ku ingat ini sebagai bekal ku untuk membencimu.
Braga menarik kedua tangannya ke bawah meja. membuka kain perban perlahan. lalu membuang begitu saja di bawah meja.
" aku tau kamu pasti sudah berpikir buruk karena perban ini. " batin Braga.
" tangan kamu kenapa mas?
tanya Maria yang melihat jemari Braga yang terluka.
" tidak ada. hanya kecelakaan kecil.
dara menghela nafas melihat perban di tangan Braga sudah tidak ada.
" tadi tanganmu memakai perban mas, kenapa tiba tiba menghilang.
Braga menatap tajam Maria.
" sudah kulepas.
" kenapa?
hah! aku tau, kau pasti takut kak Dara marah kan? batin Maria.
" tidak apa apa. kita lanjutkan saja sarapannya. tidak usah membahas apapun lagi.
" aku benar benar mulai membencimu mas. maaf, aku tidak bisa menahan hatiku yang begitu berhasrat ingin membencimu. " batin Dara. entah salah paham atau bukan. sudah tak ingin memperdulikan lagi.
setelah sarapan selesai, Dara masuk kamar. mengganti bajunya dengan sebuah dress polos berwarna hitam. panjang selutut.
Dara menghias wajahnya senatural mungkin.
" baiklah,.. ini sudah cukup. oh iya,.. sepatu hadiah dari Maria kemarin dimana aku simpan ya?
Dara membuka beberapa laci yang ada dimeja riasnya. tak sengaja Dara melihat tumpukkan pembalut yang masih terlihat awet. Dara mengerutkan dahi.
" aku, sejak kapan aku tidak datang bulan? kenapa masih sebanyak ini? apa mungkin?, tapi, sudahlah, tidak perlu di pikirkan. " dara menutup kembali laci yang berisi tumpukan pembalut.
Braga masuk kedalam kamar. membuka kemari dan memilih pakaiannya sendiri.
" kenapa dara tidak menyiapkan baju untukku? apa dia masih marah? bukankah seharusnya dia bersikap baik padaku? aku melihatnya berselingkuh.tapi dia memusuhiku. " batin Braga.
setelah selesai memilih baju, Braga terus menatap Dara yang begitu cantik hari ini.
" sayang, kamu mau kemana?
" ke acara ulang tahun Thania mas.
menatap Braga sebentar.
Braga tak menjawab. tapi wajahnya berubah menjadi penuh curiga.
" apa kau mau bertemu bima? jika benar, aku benar benar tidak tahu lagi harus berbuat apa" batin braga.
" kamu mau ikut mas?
" em?! ah, tidak usah.
" kenapa aku menolak? aku benar benar reflek. aku tidak mau menolak. " batin braga.
Dara tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
" apa?! dia menolak ku? huh! apa karena Hana semalam membuatmu bahagia? sekarang kau berani menolak pergi dengan ku?
Braga mendekati dara yang tengah memakai memakai gelang kecil ditangannya.
" sayang, apa aku harus ikut?
" tidak apa apa kalau kamu sibuk. aku tidak mau memaksa kamu ikut.
" kamu pikir aku akan merengek dan memaksamu ikut? tidak akan mas. Dara yang selalu memaksa untuk pergi kemanapun bersamamu itu, dia sudah mati. " batin Dara.
Dara bangkit dari meja riasnya. mendekati Braga yang tengah berdiri menatap nya.
" ayo mas, aku bantu kamu pakai bajumu.
" iya.
Braga mengikuti Dara dan berjalan dibelakangnya.
" ini baju yang kamu pilih tadi mas?
" iya.
Dara menghembuskan nafas kasarnya.
" dengarkan aku mas, jika kamu memakai setelan berwarna silver, jangan gunakan dasi berwarna cream ini. pakai yang warna hitam garis garis ini. " dara menunjukkan sebuah dasi. "kalau kamu pakai setelan yang gelap, pakailah dasi yang terang. sebaliknya, kalau kamu pakai setelan yang agak terang, pakai dasi yang gelap. kamu terlihat lebih bagus berpakaian begitu.
ucap Dara sembari menyiapkan baju untuk Braga.
Braga terdiam mematung. matanya merah menahan tangis.
" Dara, kamu berniat meninggalkan aku?
dara membeku seketika menghentikan tangannya yang tengah sibuk.
Dara menarik nafas dan menghembuskan pelan.
" kenapa kamu berpikir begitu?
tanya dara tanpa memandang Braga dan mulai menyelesaikan pekerjaannya.
" kamu sedang meninggalkan pesan untukku?
" tidak.
" kalau begitu, jangan memberitahuku tentang apa yang biasa kau lakukan untukku. aku tidak mau melakukanya sendiri. aku akan terus bergantung padamu.
memeluk Dara erat.
" aku hanya memberi tahu mas.
" tapi itu seperti pesan, bahwa aku harus bisa mengurus diriku sendiri.
" aku tidak mengatakan itu.
" kalau begitu jangan mengatakan yang seperti tadi. itu menakutkan.
" iya.
Dara mencoba melepaskan diri dari pelukan Braga.
" jangan dilepas. biarkan seperti ini. sebentar lagi. entah mengapa, aku merasa kamu sedang menjauhiku.
" sejujurnya, aku tidak ingin menjauhi mu mas, tapi juga tidak ingin lagi bersama mu. aku mencintaimu. tapi, aku juga membencimu. aku juga masih sulit mengendalikan hatiku. " batin dara.
__ADS_1
" Dara, aku tidak pernah menangisi orang lain selain kamu dan mama. aku sadar, aku tidak punya kekuatan untuk tegas kepada mama. tapi, aku juga tidak bisa kalau tidak ada kamu. maka, beri aku sedikit waktu untuk membujuk mama. setelah itu, kita akan hidup berdua saja. " ucap Braga sembari mengeratkan pelukannya.
" tidak kah kau merasa bahwa kamu sangat egois? " ucap dara lirih.
Braga mengendurkan pelukannya menatap Dara.
" apa menurutmu aku begitu egois?
" iya. " dara menatap braga.
" kau terluka karena dilema tentang hubunganku dengan mamamu. aku terluka karena mamamu. dan mamamu terluka karena aku. sejauh apa kau ingin lebih menyakiti kita dan mama?
Braga melepaskan pelukannya. mata merahnya terus menatap Dara.
" kamu begitu ingin berpisah dariku?
" karena hanya itu yang bisa membuat rumah ini menjadi tenang.
" aku tidak mau berpisah. tapi juga tidak mau dengan mamamu. setiap kata yang keluar dari bibirnya, tidak lain dari mencelaku. " batin dara.
" apa kamu?, kamu benar benar,
mata braga mulai tidak fokus. pikiranya mulai bekerja dan menyimpulkan kesimpulannya sendiri.
" apa yang coba kamu ucapkan mas?
Tanya Dara curiga.
" kamu, benarkah kamu berselingkuh dengan bima?
" jangan menuduhku sembarangan mas.
Dara terlihat marah. matanya menatap Braga tajam. orang yang begitu dia cintai menuduhnya berselingkuh.
" kamu berubah semenjak kamu dan bima dekat akhir akhir ini.
Dara menghela nafas. meraih tas kecil yang sudah ia siapkan. lalu pergi meninggalkan kamar begitu saja.
didalam perjalanan. satu pesan masuk ke ponsel Dara.
lia: dara, ulang tahun Thania dibatalkan. tania masuk rumah sakit. aku baru menerima pesan dari Ibunya Thania. sekarang aku menuju rumah sakit untuk menjenguk Thania.
Dara: baiklah beri tahu aku, dimana alamat rumah sakitnya.
sesampainya dirumah sakit, Dara langsung menuju kamar Thania. setelah selesai menjenguk Thania, Dara hendak kembali kerumah.
" Dara!
Dara mencari sumber suara yang memanggil namanya.
" mas Bima?
Bima berjalan mendekati Dara. seperti biasa, wajah Bima selalu dihiasi senyum ramahnya.
" hai,.. sepertinya kita berjodoh ya, kita selalu bertemu tidak sengaja. " ucap Bima sembari tertawa.
Dara juga ikut tertawa. mereka berbicara dengan akrabnya. tidak ada rasa canggung sama sekali.
" sayang!,..
" mas braga?
...............
__ADS_1