
Aku merindukan mu Braga. aku memang berniat kembali. dan sekarang aku menemukan penyokong untukku berada di sampingmu. aku pernah menyakitimu. aku pernah meninggalkan dan menghianati mu. tapi aku janji. aku, tidak akan melakukannya lagi. aku akan menjadi milik mu seorang. begitu juga kau. kau adalah milikku. dari awal, kau hanya milikku. Selli.
"Aku benar-benar merindukanmu Mas." Selli sudah berjalan mendekat dan ingin memeluk Braga.
Jojo dan Jean menatap tajam Selli. melangkahkan kaki cepat dan berdiri didepan Braga untuk menghalangi Selli yang akan memeluk Daddy nya.
Selli menghentikan langkahnya seketika. melihat dua orang anak yang menghalangi benar-benar membuat hati nya kesal. tapi dengan wajah palsunya, Selli mampu menyembunyikan rasa kesalnya.
"Hei anak-anak manis,... ayolah,.. aku adalah sahabat dekat Papa kalian. aku sudah lama tidak berjumpa dengan Papa kalian. kami sangat merindukan satu sama lain." ucap Selli membujuk Jojo dan Jean agar memberinya izin untuk memeluk Braga.
"Stay away." ucap Jojo. memerintah layaknya orang dewasa. matanya yang tajam dan wajah nya yang terkesan dingin, membuat Selli teringat dengan Braga semasa kuliah. bukan rasa takut yang ia dapat. justru, membuat hatinya semakin merindukan Braga.
"Apa aku tidak boleh memeluk Papa kalian?" tanya Selly. tubuhnya membungkuk menatap Jean dan Jojo bergantian. ada senyum yang terlihat manis diwajahnya.
"Bibi,.." panggil Jean yang masih tegak berdiri disamping Jojo.
"Iya,.." masih dengan posisi yang sama dan masih tersenyum manis.
"Bibi,.. kau terlihat menggunakan wajah palsu." ucap Jean. wajahnya benar-benar terlihat senang sesaat setelah mengatakan itu.
Senyum diwajah Selli sontak memudar. senyum dingin Jojo juga nampak terlihat dibibirnya.
"Sial!!!! anak-anak ini sangat sulit untuk ditipu. aku tahu itu. aku harus berhati-hati. aku yakin, mereka lebih harus diwaspadai dibanding Ibu mereka." batin Selli yang kini sudah menegakkan tubuhnya.
"benarkah? maafkan aku. wajahku memang begini. tapi aku sungguh tulus." ucap Selli. kembali tersenyum meski tak dibuat semanis tadi. ada sedikit bercampur kesal diwajahnya. dan entah mengapa, sulit untuk menahannya.
"Selli,. kenapa ada disini?" tanya Braga yang masih terlihat tak percaya. tangannya memegangi kedua pundak anaknya. memundurkan. dan membuat mereka berdiri sejajar.
"Ich vermisse dich, wirklich. kann ich lange bleiben Ich habe keine Unterkunft." jawab Selli menggunakan bahasa Jerman. ( aku merindukan mu. benar-benar merindukan mu. bisakah aku tinggal. aku tidak ada tempat.)
"Wird ein Problem sein" ( akan ada masalah.) jawab Braga. matanya terlihat tak senang mendengar kalimat Selli.
Jojo dan Jean terkekeh mendengarnya.
"Bibi,.. kau bilang kalian adalah sahabat. kenapa Bibi mengungkapkan rasa rindumu itu? Bibi menggunakan bahasa Jerman agar kami tidak paham ya?" tanya Jean sembari tersenyum sinis. matanya menatap Selli dengan tajam.
__ADS_1
"Bibi sangat berhati-hati sekali." timpal Jojo. mata tajamnya benar-benar seperti belati yang terus menusuk.
Wajah sendu Selli seketika berubah menjadi sedikit kesal.
"anak-anak ini, bahkan mengerti bahasa Jerman. bukankah Tante bilang usianya baru lima tahun? anak-anak ini perlu aku singkirkan." batin Selli. matanya menatap marah kepada Jojo.
"tentu saja aku merindukan Papa kalian. kami sudah lama sekali tidak bertemu. " kembali tersenyum. membuang jauh-jauh rasa kesalnya untuk sementara ini.
Jojo dan Jean menanggapi sinis ucapan Selli.
"Jangan asal mengungkapkan rindu. jika kau merindukan ku sebagai sahabat, kau tidak perlu begitu antusias nya untuk memberitahu ku." ucap Braga. Jojo dan Jean mengangguk kan kepala. tanda setuju.
"Tapi aku, aku kembali kesini,...
"Mommy,..!" panggil Jean dan bersiap akan melangkah memanggil Dara yang menunggu di dalam mobil.
Braga membulatkan mata terkejut. dengan cepat, Braga menghentikan langkah Jean.
"tunggu sayang. kenapa memanggil Mommy?" tanya Braga. wajahnya terlihat khawatir.
"Ok. Daddy tidak akan dekat-dekat Bibi Selli. jangan beri tahu Mommy. akan menjadi rumit kalau Mommy marah. bisakah kau membantu Daddy hari ini?" pinta Braga. wajah tampan berkharisma itu berubah menjadi manja seketika.
"Heh?! baik lah. lagi pula, Mommy sangat menyeramkan saat marah. lebih baik tidak memprovokasinya kan?" ucap Jean sembari tersenyum.
"Apa?!!! Mas Braga yang selalu beraksi dingin dan jarang berbicara bisa berekspresi begitu? menjijikan sekali. memang apa bagusnya istri Mas Braga? heh.... liat saja. aku akan mengobrak abrik kebahagiaan kalian. benar-benar tidak pantas untuk kalian bahagia." batin Selli.
Sementara Hana yang melihat adegan ini, hanya tersenyum. entah apa yang sedang ia pikirkan.
Tak lama, Braga memutuskan untuk berangkat bekerja. meninggalkan anak-anaknya bersama Maria.
Mama dan Selli berada didalam kamar.
"sepertinya, kau harus berusaha sekuat tenaga. aku tidak mau membuang waktu dan uangku percuma." ucap Mama menatap Selli yang kini berdiri dihadapannya.
"Tenang saja. jika cara lembut dan manis tidak bisa, maka cara yang sedikit kasar dan sakit pasti akan berhasil." jawab Selli. bibirnya menyunggingkan senyum licik.
__ADS_1
"Dengar,. jangan sampai gagal. aku benar-benar tidak mau melihat Dara lagi dirumah ini. ataupun, anak-anak Dara." ucap Mama yang terlihat sangat licik saat itu. ucapan juga wajahnya.
"Kenapa kau begitu membenci Dara? aku sangat penasaran. apa penyebab kebencian yang sangat mendarah daging itu." tanya Selli yang merasa begitu penasaran.
"Sebuah dendam dan luka lama. aku akan membalaskan semua itu kepada Dara. karena ini juga termasuk kesalahannya." ucap Mama yang semakin tak bisa mengontrol rasa benci yang terlihat diwajahnya.
"Anda benar-benar Ibu mertua yang sangat kejam Nyonya." ucap Selli sembari tersenyum.
"Kekejaman ku, membuahkan untung untukmu kan?" sebuah kata yang mengandung penekanan. tidak terelakkan.
"Harus aku akui. kau benar. dan aku, tidak akan melewatkan keberuntungan ini." ucap Selli.
"Ck.... ck.....ck..... kalian benar-benar ya? lihat saja. aku juga akan ikut kedalam permainan kalian. kita lihat, siapa yang akan merasa menang nanti." ucap Hana sembari memegang ponsel yang terhubung dengan alat penyadap yang diam-diam ia pasang dibawah tempat tidur Mama.
Di taman samping rumah Braga.
Jojo dan Jean duduk disebuah bangku panjang berwarna putih. menghadap jejeran bunga-bunga indah yang beragam jenis.
"Jo,. apa menurutmu Bibi itu tidak akan mengganggu Daddy?" tanya Jean sembari meraih kertas dan pensil disamping duduknya.
"Iya. wajahnya terlihat Fake." jawab Jojo yang sibuk dengan permainan game online nya.
"Aku juga merasa begitu." ujar Jean. tangannya mulai menggerakkan pensil untuk menggambar.
"Berhati-hatilah. jangan mendekatinya jika tidak ada aku atau tante Maria." ucap Jojo. yang merasa bahwa Selli sangat berbahaya.
"Iya. tadi, aku sangat merinding saat melihat wajahnya tersenyum tapi matanya terlihat seperti ingin mencekik. apa dia jahat sekali? apa dia akan menyakiti kita?" tanya Jean. matanya menatap bunga-bunga dihadapannya. tak sadar, pensil yang ia gunakan, membuat kertasnya robek karena tekanan yang kuat dari tangannya.
"Sepertinya begitu. maka dengarkan kata-kataku tadi." ucap Jojo mengingatkan.
"Kita harus memberi tahu Daddy." ucap Jean sembari meletakkan kertas dan pensilnya.
"Tidak ada bukti. kalau ingin mengatakan sesuatu, kita butuh bukti." ucap Jojo sembari mengakhiri gamenya.
"Ayo kita cari!!!!" ajak Jean.
__ADS_1
........................