
Entah mengapa, rasa gelisah terus menghampiri Braga. membuat hatinya tak tenang sesampainya dikantor. semakin dipikirkan, semakin membuat gelisah. akhirnya, Braga memutuskan untuk melihat rekaman CCTV yang berada dirumah kedua orang tuanya.
"Saka...!" panggil Braga sembari memundurkan kursi agar menjadi sedikit lebih leluasa. menjauhkan berkas-berkas yang sedari tadi hanya ia tatap tapi tak diperiksa.
"Iya, ada yang bisa saya bantu pak presdir?" tanya Saka yang langsung masuk keruangan Braga. untunglah dia stand by didepan pintu saat itu.
"Berikan aku rekaman CCTV yang ada dirumah orang tuaku." perintah Braga yang teringat dengan kedua anaknya.
"Baik." Saka berjalan keluar ruangan. sesaat kemudian, ia kembali dengan sebuah Tab ditangannya. membuka rekaman CCTV dan mengeceknya. matanya terlihat sangat terkejut. ada keraguan saat akan menyerahkan kepada Braga. tapi, tak ada pilihan lain. tak mau banyak membuang waktu, Saka menyerahkan Tabnya kepada Braga dengan hati-hati.
"Apa yang membuatmu begitu lama memberikannya padaku?" tanya Braga yang memperhatikan raut wajah Saka yang terlihat tegang saat melihat rekaman CCTV itu.
"jawablah. aku ingin tahu lebih dulu darimu." mengulangi pertanyaannya.
"Emmm,.. begini saja pak presdir," Saka membantu Braga untuk melihat pokok dari panjangnya rekaman CCTV hari ini. setelah selesai membantu, Saka memundurkan langkahnya. sedikit menjauhi Braga.
"jauh-jauh ah, aku takut terkena hantaman benda-benda disini." batin Saka.
Melihat rekaman yang sedang ia tonton, Braga mulai mengepalkan tangannya. puncaknya adalah, saat Hana menampar pipi Jojo. Braga tak mampu menahan amarahnya lagi. meletakkan Tab itu dengan kasar.
"Saka!" panggil Braga dengan nada membentak. membuat Saka yang berdiri tidak jauh darinya terperanjak.
"Iya presdir." Saka berjalan mendekati Braga yang terlihat kesal.
"Batalkan meeting sore ini. kita pulang kerumah sekarang." ucap Braga sembari menahan marah.
"Baik." Saka bergegas menyusul Braga dan membukakan pintu untuk Braga lewat. Sesaat Saka mengelus dada dan mendesah lega.
"ah,.. untung saja hanya Tab yang dibanting. biasanya di akan membuat ruangannya seperti terkena beliung kan? oh iya,.. aku hampir lupa, sekarang kan Nyonya sudah kembali. tempramen presdir pasti otomatis membaik kan?" gumam Saka dalam hati.
"Saka!!!!" bentak Braga yang sedari tadi menunggu Saka yang sibuk melamun sembari memegangi pintu.
"I,..iya, pak presdir." Saka berjalan setengah berlari. berjalan mengikuti Braga dari belakang.
"Kau jangan membuang waktuku." ucap Braga sembari melangkahkan kaki menuju lift khusus untuk para petinggi.
"Baik. maaf pak presdir." ucap Saka.
"untunglah kau batal menjadi kakak ipar ku." ucap Saka sembari mengingat saat dia dan Maria mengakhiri hubungan mereka.
__ADS_1
Sesampainya dirumah. tak berkata apapun, Braga langsung mencari keberadaan Hana.
"Braga?,.. akhirnya kamu pulang nak. ayo cepat ganti baju. teman-teman Ameera sudah banyak berkumpul diruangan tengah." ucap Mama menghentikan langkah kaki Braga.
Tak menatap Mama sedikitpun.
"Hana dimana?" tak mau membuang waktu, Braga langsung pada intinya saja.
"Dia ada diruang tengah nak, kamu ganti baju saja dulu. ayo,..Mama bantu pilih baju yang senada dengan Hana." ucap Mama lembut sembari mengandeng lengan Braga.
"Jangan membuatku lebih marah lagi." ucap Braga yang sudah mulai tak dapat mengontrol kemarahannya.
"kamu kenapa Ga? pulang-pulang sudah emosi begini." tanya Mama. wajahnya terlihat bingung.
"Ma, aku tahu Mama pasti paham kenapa aku marah. jangan membuang waktu. panggil Hana kesini." ucap Braga. matanya menatap Mama dengan tatapan marah.
"Mama tidak mengerti. sudahlah. apapun itu, kita selesaikan saat pesta ulang tahun Ameera selesai." ucap Mama dan langsung meninggalkan Braga sendirian.
Sudah hilang kesabaran. Braga berjalan keruang tengah. mendekati Hana. sumringah dan terlihat senang. itulah yang terlihat diwajah Hana saat melihat Braga datang. berjalan cepat dan langsung menarik lengan Hana untuk mengikutinya.
Sesampainya diruang keluarga. Braga melepaskan cengkeramannya. menatap Hana dengan tajam.
"Kamu kenapa Mas?" tanya Hana sembari memegangi lengan bekas cengkraman Braga.
Hana mengaduh kesakitan sembari mencoba melepaskan tangan Braga.
"aku tidak tahu apa maksud mu.
Semakin bertele-tele. semakin pula membuat Braga geram.
'plakkk.......!
Braga menampar pipi Hana sekuat mungkin. nampak ada setitik darah berada disudut bibirnya. Hana memegangi pipinya. matanya mulai meneteskan air mata.
"Kenapa kau memukulku?" tanya Hana. matanya lekat menatap Braga dengan kesal.
"Karena kau memukul anakku. aku tidak pernah menampar wanita seumur hidupku. tapi karena kau menyakiti putraku dengan cara itu, maka aku akan melakukan hal yang sama." Braga mengepalkan tangannya. seolah sedang menahan diri untuk tidak melakukan lebih.
"Dia lah yang memprovokasi ku! anak itu yang membuat aku sulit menahan diri." ucap Hana. mencoba membela diri agar tak terlihat terlalu salah.
__ADS_1
"Apa kau lupa? aku memasang CCTV dirumah ini beserta rekaman suara. apa kau mau membela diri lagi?!
Hana terdiam sesaat.
"untung saja, balkon tidak ada CCTV nya." batin Hana.
"Sudah cukup!!" saut Mama.
"ini adalah hari ulang tahun Ameera. buang dulu rasa marah mu." ucap Mama sembari mengelus punggung Braga.
"Setelah acara ini selesai, bawa semua barang mu. aku tidak ingin melihatmu lagi." Braga berjalan meninggalkan Hana dan Mama.
"Mama harus membantu aku. aku tidak mau kalau harus keluar dari rumah ini." ucap Hana setelah memastikan Braga menjauh. menarik lengan Mama memohon pertolongan.
"kita lihat saja nanti. jalankan saja rencana mu dulu. kalau berhasil, baru aku akan membantumu bertahan disini." jawab Mama sembari menepis tangan Hana. berjalan menuju ruang tengah. tempat pesta ulang tahun Ameera diadakan.
"Hei Jo. menurutmu, apakah Bibi jahat itu akan pergi?" tanya Jean yang sedari tadi mengintip perkelahian antara Hana dan Braga.
"Tidak tahu. dia punya rencana. kita tidak boleh lengah." jawab Jojo yang masih dalam keadaan berjongkok dibelakang sofa ruang tamu.
"Hei,..... kalian,. Tante sudah lelah bermain petak umpet. Tante selalu mendapat peran untuk mencari kalian. sudah ya..., Tante lelah." ucap Maria yang terengah-engah sedari tadi mondar mandir mencari Jojo dan Jean.
Jojo dan Jean hanya bisa tersenyum. puas mengerjai Tantenya.
Saat pesta ulang tahun Ameera selesai. waktunya untuk makan malam tiba. Braga menghubungi Dara untuk memastikan jam berapa Dara akan pulang. setelah selesai, Braga kembali kemeja makan.
Hana membantu Bibi didapur. menyiapkan air minum dan mencampur serbuk obat di minuman Braga. dan memastikan tak ada yang menyadari hal itu. lalu mengantarnya ke meja makan.
"Kenapa masih ada disini?" tanya Braga yang berwajah marah. melihat Hana masih ada dirumah, membuat kekesalannya tak kunjung hilang.
"Maaf mas. hari ini adalah hari ulang tahun Ameera. aku tidak mungkin meninggalkannya dihari ini." ucap Hana sembari mengambil posisi untuk duduk.
Setelah makan malam selesai, Braga langsung masuk keruang kerja. Jojo Maria Jean berada diruang tamu. mata Jojo terus memandangi pintu ruang kerja Braga.
Saat Braga akan bangkit untuk mengambil sebuah berkas, tiba-tiba kepalanya terasa berat. seluruh tubuhnya menjadi panas. nafas mulai tak beraturan. bagian area sensitifnya mula terasa sesak.
"aku kenapa? panas!" ucap Braga yang mulai membuka kancing bajunya. meraih remote AC dan menambah suhu dingin diruangan nya.
Sepuluh menit berlalu, keadaan Braga tak kunjung membaik. menit demi menit membuat tubuhnya tersiksa. terdengar suara ketukan pintu. nampaklah Hana yang masuk begitu saja keruangan kerja Braga.
__ADS_1
Hana terus berjalan mendekati Braga. wajahnya terlihat gembira dengan senyum yang mengembang. setelah dekat dengan Braga, Hana menempelkan telapak tangannya di bagian dada Braga yang terlihat bidang dan kekar.
......................