
Hampa itulah yang dirasakan Braga dan kedua anaknya. Menjalani hari tanpa adanya Dara sudah seperti bumi tanpa matahari. Jika bukan untuk anak-anaknya, mungkin Braga tidak akan sekuat seperti sekarang ini.
Hari ini, Braga datang kerumah orang tuanya setelah mendapat pesan dari Maria. Sesampainya disana, Braga langsung berjalan masuk untuk menemui Mama yang akhir-akhir ini memburuk kesehatannya.
"Ma,..." Panggil Braga seraya membuka pintu kamar Mama.
"Braga?... Sini nak." Mama mengulurkan telapak tangannya dan disambut hangat oleh Braga.
"Mama kenapa bisa sampai begini? kita kerumah sakit saja ya?" Ajak Braga sembari berlutut dan menggenggam jemari Mama.
"Tidak perlu nak. Mama tidak mau pergi kerumah sakit. Mama mau disini saja." Ucap Mama. Suaranya terdengar sangat sakit hingga ada rintihan yang menyela di tiap kata.
"Sakit apa Mama saya dok?" Tanya Braga kepada dokter yang masih berada dikamar Mama setelah memeriksa keadaan Mama.
"Tensi darah Nyonya sangat tinggi juga demam dan kelelahan." Jawab Dokter itu sembari membereskan peralatan medisnya.
"Kenapa bisa sampai begini? apa tidak akan ada masalah dok?" Tanya Braga memastikan. Berharap keadaan Mama akan baik-baik saja.
"Saya berharap, Nyonya kembali stabil secepat mungkin. Sangat penting menjaga emosi Nyonya. Jangan biarkan dia memiliki banyak pikiran. Nyonya memiliki riwayat Darah tinggi yang parah." Ucap dokter itu sembari menulis resep obat.
"Maksudnya? darah tinggi parah?" Braga kebingungan. Pasalnya, Mama tidak memiliki beban pikiran apapun. Terlebih saat Dara pergi. Itu adalah hal yang diinginkannya bukan?.
"Ibu kandung Nyonya meninggal karena darah tinggi. Beliau mengalami pecah pembuluh darah pada otak. Saya hanya mengingatkan Tuan. Tidak bermaksut menakuti." Ucap Dokter itu sembari menyerahkan selembar kertas yang bertuliskan nama-nama obat yang perlu dibeli ke apotik.
"Baik." Braga terdiam sesaat. Menatap Mama yang kini mulai tertidur.
"Kenapa? aku sudah cukup menderita kehilangan istriku. Aku tidak mau lagi kehilangan Mama." Braga mengelus rambut Mama yang mulai beruban.
Braga bangun dari posisinya. Bersiap untuk meninggalkan Mama yang mulai terlelap untuk membeli obat di apotik.
"Braga....." Panggil Mama dengan suara berat juga lirih. Benar-benar terdengar sangat kesakitan. Membuat Braga membeku tak berdaya mendengarnya.
__ADS_1
"Iya Ma?.. Ada apa?" Tanya Braga kembali menggenggam jemari Mama dan duduk dipinggiran tempat tidur.
"Bisakah Mama minta kamu melakukan satu hal?" Pinta Mama dengan suara beratnya.
"Iya tentu saja. Apapun akan aku lakukan. Asalkan Mama sembuh." Jawab Braga dengan bersungguh-sungguh. tak ada yang dapat ia pikirkan lagi selain kesembuhan sang Mama.
"Benarkah?" Mama memastikan. Tangannya terangkat ke atas untuk memegang pipi Braga. Ada setetes air mata yang jatuh dari mata Mama.
Braga menyeka air mata Mama dengan lembut.
"Iya Ma. Katakan saja. Tapi jangan menangis lagi." Ucap Braga. Benar-benar tidak tega melihat Mama nya yang terlihat sangat kesakitan.
"Bisakah kamu menikahi Selli?" Tanya Mama sembari menatap Braga penuh harap. Wajahnya yang terlihat amat pucat kini menjadi senjata ampuh baginya.
Braga terdiam dengan tatapan tak percaya. melepaskan genggaman tangan Mama dan bangkit dari posisinya.
"Ma,.. Aku akan melakukan apapun. Tapi tidak untuk yang ini." Jawab Braga. Tegas tapi masih terlihat tak tega melihat Mamanya yang sakit.
"Itu hanya ada di masa lalu Ma. Sekarang aku punya Dara. Aku tidak bisa menghianati nya." Ucap Braga yang sudah menaikan intonasinya.
"Dara sudah mati! Mama tidak mau kamu hanyut dalam kesedihan ini. Kamu harus mencoba untuk bahagia dengan yang lain Braga." Ucap Mama sembari menatap tajam Braga yang terlihat bersikukuh tak mau mengabulkan keinginannya.
"Sudahlah Ma. Istirahat saja dulu. Nanti kita bicarakan lagi. Aku akan pergi ke apotik." Ucap Braga yang tiba-tiba mengingat saran dari dokter.
Sementara didalam kamar Hana.
"Dasar rubah jompo ini pintar sekali akting nya." Ucap Hana yang sedari tadi mendengarkan Braga dan Mama berbicara melalui ponsel yang tersambung dengan alat penyadap yang terpasang dikamar Mama.
"Aku tidak akan mengusik kalian kali ini. Silahkan lakukan apa yang ingin kalian lakukan. Kalian pikir, dengan me mata-mataiku akan mendapatkan sesuatu? kalian tidak akan mendapatkan apapun." Ucap Hana sembari tersenyum menatap pantulan wajahnya di cermin.
Dikamar Selli.
__ADS_1
"Apa sebenarnya rencana Hana? aku tahu dia pasti memiliki rencana. Tapi apa? orang-orang yang ku suruh untuk mematai itu tidak berguna. Tidak ada sedikitpun yang mencurigakan. Apa jangan-janangan dia menyadari jika sedang ada yang me mata-matai?" Gumam Selli sembari berjalan ke kanan dan kiri.
"Apalagi yang Mama inginkan? aku harus bagaimana? aku tidak mau menghianati Dara. Kita sudah berjanji kan? tapi, bagaimana kalau terjadi sesuatu?" Tanya Braga pada dirinya sendiri sembari mengemudikan mobilnya menuju apotik terdekat.
Setelah berhasil menebus obat untuk Mama, Braga mengentikan mobilnya saat melintasi sebuah taman yang sering ia kunjungi bersama dengan Dara. Sebuah bangku panjang yang menghadap ke danau menjadi saksi bisu cinta Braga dan Dara.
Braga duduk dikursi itu dan menatap danau yang terlihat sangat tenang saat malam hari. Braga menarik nafas dan menghembuskan perlahan.
"Sayang,... Kamu dimana? ini sudah lima bulan kamu menghilang. Bagaimana keadaan bayi kita? apa kalian baik-baik saja? aku dan anak-anak merindukan mu. Kau tahu? Jojo yang pendiam kini semakin menjadi pendiam. Jean yang biasanya periang dan suka protes juga menjadi pendiam. Kami semua hampa tanpa dirimu. Kapan kau kembali? apa kau,.. kau.. Tidak akan kembali?" Ucap Braga yang mulai terisak. Langit gelap dan suasana yang amat hening menjadi saksi cinta yang kini sedang terluka.
"Mommy,.... Where are you? I miss you Mommy." Ucap Jean sembari menatap photo Dara yang tengah ia pegang.
"Mommy,.. kalau Mommy kembali, aku janji tidak akan nakal lagi. Aku akan memanggil Jojo dengan sebutan Kakak. Aku akan jadi anak yang baik dan tidak suka merengek lagi. promis." ucap Jean sembari memberikan jari telunjuknya di depan Photo Dara.
Jojo menutup Pintu perlahan setelah mendengar apa yang dikatakan Jean didalam kamar. Berjalan ke balkon dan menatap jutaan bintang uang bersinar di langit.
"Mommy,.. aku harap, Mommy bukan salah satu bintang yang ada di atas sana. Aku harap Mommy baik-baik saja. Mom,... kembalilah.. Daddy dan Jean selalu menangis saat tidur dan,. me to. Mommy,... Jika Mommy kembali, aku juga berjanji akan sering tersenyum. Jadi kembalilah Mommy. Aku,.. aku juga tidak bisa jika tidak ada Mommy." Jojo mulai meneteskan air mata saat menatap jutaan bintang di langit.
"Mommy kamu pasti baik-baik saja." Ucap Ameera sembari tersenyum menatap Jojo.
Jojo menghapus air matanya dengan cepat saat menyadari jika Ameera melihatnya menangis.
"Kenapa kamu ada disini?" Tanya Jojo yang kaget melihat Ameera ada disampingnya.
"Aku tidak bisa tidur. Tadinya aku ingin mengajak Jean bermain. Tapi Jean sedang menangis dan kau juga." Ucap Ameera dengan wajah polosnya.
"Kau? sejak kapan kau begitu sopan?" Tanya Jojo. Heran melihat Ameera yang biasanya manja kini terlihat sedikit berbeda.
"Mommy mu yang mengajariku." Jawab Ameera sembari tersenyum menatap Jojo dan langsung beralih menatap Bintang.
"Mommy mu bilang, aku adalah Kakak kalian. Jadi aku tidak boleh terlalu manja.
__ADS_1
..................................