
Sosok yang tak asing lagi. enam tahun sudah tak bertemu. tak ada sedikitpun yang berubah dari Mama. wajahnya masih tetap terlihat menyeramkan saat berhadapan dengan Dara.
"Kamu..! kamu, kenapa ada disini?! dimana anakku?! Dasar rubah licik!
Dara membulatkan mata karena terkejut mendengar makian Mama.
"rubah licik? aku? tunggu dulu. aku harus bagaimana ini? apa aku tutup saja pintunya? ah! tidak mungkin. apa aku kabur saja? tapi kabur kemana? tunggu! aku harus tenang. aku tidak boleh terlihat takut dan lemah lagi." ucap Dara dalam hati.
"Kenapa kamu diam?! dimana anakku?! kenapa kamu ada disini?! hidup kami sudah sangat damai saat kamu pergi. tidakkah kau harus tahu malu? dasar perempuan murahan."sudah entah seperti apa wajah Mama saat marah. jari telunjuk nya terus mengarah ke arah Dara. matanya melotot seakan ingin lari dari wajahnya.
Dara mencoba tersenyum senatural mungkin. tak lupa menarik nafas dan menghembuskan perlahan untuk mengurangi kegugupannya.
"oh,.. rupanya Mama ya? aku hampir lupa tadi. tapi saat Mama membentak dan memakiku aku jadi langsung menyadari. tidak ada Mama mertua yang mulutnya setajam ini. kecuali Mama." masih dengan senyum yang terus mengembang.
"Aku tidak sudi kau panggil Mama.!" begitu marah hingga saat berbicara bibirnya terlihat gemetar.
"Oh begitu ya,.. ya sudah tidak apa-apa. mulai sekarang akan ku panggil nyonya saja bagaimana?" tetap tersenyum. tapi hati sudah menahan geram.
"Jangan banyak bicara! minggir! aku akan membawa anakku pulang." mencoba mendorong tubuh Dara. tapi sayangnya Dara masih tetap menghalangi.
"Jojo, kau dengar itu? Mommy sedang di tindas. ayo bantu Mommy." ucap Jean sembari menarik tangan Jojo yang sedang diam mematung mendengarkan apa yang diucapkan Dara dan Mama.
"Tunggu!" menahan tangan Jean.
"jangan mengganggu Mommy. kalau kita keluar, Mommy akan menjadi tidak berdaya. Mommy pasti tidak akan berkata apa-apa." Jojo membuka sedikit pintunya. dan melihat orang yang sedang berbicara dengan Dara melalui pantulan kaca. menutup kembali pintu kamarnya.
"Who is she?" Jean penasaran dengan orang yang menindas Dara.
"Aku tidak yakin. tapi, kemungkinan itu Grandma." jawab Jojo.
"Dia jahat. aku tidak suka dia." ucap Jean dengan wajah ketakutan.
"Tenanglah. ada Daddy. kita tidak boleh keluar untuk membantu Mommy. pasti Mommy akan merasa tidak nyaman nanti." ucap Jojo sembari mengelus kepala Jean menenangkan.
Mama menerobos masuk dengan paksa. Dara hanya bisa pasrah. melihat anak-anak atau tidak, Dara tidak mempermasalahkan hal itu. karena Dara memiliki rencana tersendiri.
"Dimana kau sembunyikan anakku?!" bertanya sembari membuka salah satu pintu kamar. untunglah yang dibuka adalah kamar Braga dan Dara.
"Nyonya, anak mu akan muncul dengan sendirinya. tidak perlu khawatir. dia sudah sangat dewasa." ucap Dara sembari merapihkan rambut yang telah ia ikat tadi.
Saat akan membuka pintu kamar Jean dan Jojo, Braga keluar dari kamar mandi dan berjalan ke ruang tamu karena mendengar suara berisik.
__ADS_1
"Mama?,.." Braga yang terkejut melihat Mama datang dengan wajah marahnya. berharap anak-anak tak mendengar ucapan yang menyakitkan dari mulut Mama.
Mama berjalan mendekati Braga.
"kenapa kamu tinggal dengan wanita itu?!" bertanya pada Braga sembari menunjuk Dara dengan wajah marah.
"Tentu saja aku akan tinggal disini. ini tempat kami tinggal." ucap Braga dengan santai sembari mengusap rambut di kepalanya.
"Kenapa kamu dan wanita itu tinggal bersama? kalian sudah bercerai. Mama tidak akan setuju. cepat. bereskan semua pakaianmu." Mama mendorong tubuh Braga agar segera bertindak.
"Tidak. tidak akan terjadi. pergilah Ma,. aku tidak ingin bertengkar denganmu." berjalan mendekati Dara dan memeluk Dara dari belakang. mendekatkan wajahnya di bahu Dara.
"Sayang,.. apa kamu tega mengusirku?" tanya Braga dengan wajah manjanya.
"Ah,.. tentu tidak Sayangku. bagaimana mungkin. lalu, kau akan lebih memilih tinggal ditempat yang sempit ini?" Dara dan Braga mulai saling menggoda.
"Asalkan bersamamu, bahkan di bawah jembatan aku tidak masalah." mencium pipi Dara.
"Diam kalian!" sudah semakin menggila melihat tingkah Braga yang biasa dingin dan berwibawa kini berubah seperti anak-anak yang sedang dimabuk cinta.
"dengar baik-baik Braga. Mama tidak sudi punya menantu seperti dia. lebih baik kamu bersama Hana. dia adalah Ibu dari anak kadung mu.
"Tidak akan terjadi Istriku sayang. kalau kau mau bunuh diri, ajak aku. aku tidak mau hidup kalau kau mati." ucap Braga yang masih memeluk Dara.
"Baiklah,.. kalau Mamamu terus memaksa kita berpisah, kita bunuh diri bersama bagaimana?
"Tentu. dengan senang hati sayangku.
"Hentikan!! aku muak melihat kalian." Mama berjalan mendekati Dara. Braga mengangkat wajahnya dan berdiri tegak disamping Dara. bersiap sebelum Mama menyakiti Dara.
"kau, seharusnya sadar diri. kau telah meninggalkan anakku. kalian sudah bercerai. dan ingat ini. Braga dan Hana sudah menikah. jadi kamu tidak boleh ada diantara mereka.
"Hahaha, maaf Nyoya. tapi kami masih belum bercerai. ngomong-ngomong, dulu anda juga membawa Hana masuk kedalam pernikahan kami. kenapa sekarang aku tidak boleh?" tanya Dara dengan wajah meledek.
"Kenapa masih bertanya? kamu belum sadar juga? kamu mandul!! apa kamu tidak ingat? kamu mandul!!!" berharap kata mandul akan membuat Dara menjadi rendah diri seperti dulu.
"Ma. kami,-
Dara memegang tangan Braga. menghentikan ucapan Braga.
"Terimakasih Nyonya. saya tidak ingin berdebat lagi dengan anda. bisakah anda pergi sekarang?" sebelum anak-anak mendengar lebih jauh tentang hinaan Mama, Dara mengambil inisiatif agar menghentikan perdebatan ini.
__ADS_1
Mama menyeringai jahat. puas membuat Dara kehilangan kepercayaan diri.
"kenapa? kamu masih sakit hati mendengar kata mandul? memang itulah dirimu. dasar mandul!!" ucap Mama dan langsung berjalan keluar.
Setelah Mama keluar. Braga memegang kedua sisi bahu Dara.
"kenapa kamu tidak memberi tahu tentang anak-anak kita?
"Nanti saja mas. aku hanya tidak begitu rela anakku bertemu Mamamu. maaf, aku begitu jahat. aku,.
Braga memeluk Dara.
"tidak. bukan kau yang jahat. aku yang paling bersalah. maaf Dara, sebagai suami mu, aku tidak bisa melakukan apa yang seharusnya aku lakukan.
"Kau bisa membawa anak-anak bertemu keluargamu nanti. dan pastikan. aku tidak mau Mamamu juga membenci dan memaki anak-anakku.
"Iya. aku janji. aku akan mengenalkan anak-anak kepada Papa dan Maria. mereka pasti sangat bahagia.
"Iya benar. Mas, seandainya Mama mengira anak-anak bukan anak kandungmu bagaimana?
"Hanya orang buta yang tidak percaya. wajah kami sangat mirip. tidak akan ada yang bisa menyangkalnya.
"Aku berharap begitu." Dara mengeratkan pelukannya.
"Sayang, aku akan pulang kerumah sebentar. ada beberapa dokumen yang harus aku ambil. sekalian, aku akan membawa semua dokumen penting agar tak perlu sering kesana.
"Tidak.! jangan Mas.
Braga mengerutkan dahi. melepaskan pelukannya. menatap Dara.
"kenapa?
"Aku ingin ikut bersamamu saat kau pulang mengambil dokumen. bawa aku sesering mungkin untuk kerumah. boleh?
Braga tersenyum. mengetahui bahwa ada rencana dibalik ini semua.
"baiklah. mulai sekarang, jangan ragu meminta apapun.
"Tentu saja aku tidak akan ragu-ragu lagi.
........................
__ADS_1