
Tak ada lagi cara untuk mengelak. menyingkirkan rasa malu dan membuang jauh kesadaran diri. menyadari, jika semua orang pasti dapat dengan mudah menebak. siapa orang yang sudah memasuki ruang kerja milik Braga.
"Aku. aku yang sudah masuk keruang kerjamu." ucap Hana. wajahnya tertunduk. tangannya mengepal kuat.
Braga mengakhiri sambungan teleponnya. menatap Hana tajam.
"apa yang kau cari?" marah bercampur curiga. pasalnya, tak ada yang di izinkan boleh memasuki ruang kerjanya. kecuali, Bibi dan Dara. apalagi, saat melihat beberapa dokumen yang sudah Braga susun rapi, berubah posisi.
"Aku hanya merapikan ruang kerjamu." tidak mungkin mengatakan sejujurnya dihadapan semua orang. menutupi adalah ide yang terpikirkan saat ini.
"Apa yang kau cari?!" sudah mulai tinggi intonasinya. wajah marah sudah tidak tertahankan lagi.
"Aku hanya,.-" berhenti berucap saat melihat Braga yang terlihat begitu marah. sudah tidak bisa lagi menutupi. batin Hana.
"aku membutuhkan beberapa lembar identitas mu." suaranya sedikit bergetar.
Braga menahan marah. tangannya mengepal.
"apa yang akan kau lakukan?
"Apa lagi?! tentu saja mendaftarkan pernikahan kita. ini sudah waktunya kita menikah. Ameera sudah besar Mas. aku tidak mau Ameera menyandang status anak haram." ucap Hana lantang. suaranya bergetar menahan tangis.
Dara menatap Hana marah. hanya bisa menatap marah dan tak ingin mengucapkan apapun. Mama terus mengelus punggung Hana. seolah menguatkan. Papa hanya bisa menahan amarahnya. mau ikut campur, tapi ini masalah rumah tangga anaknya.
Braga terkekeh mendengar ucapan Hana yang sama sekali tak masuk akal menurutnya.
"apa kau bilang? anak haram? apa kau bodoh?!
Mendengar ucapan Braga, Hana menjadi sulit menahan kemarahannya.
"tentu saja. semua teman-teman Ameera mengira bahwa, Ameera tidak memiliki Papa. aku mohon Mas, lakukan ini demi anak kita." wajah memelas yang dipenuhi air mata. sembari menggenggam tangan Braga.
Melihat Hana menggenggam tangannya, Braga menjadi sangat Marah.
"singkirkan tanganmu!
Bergetar tangan hana karena takut dengan bentak kan Braga.
"memang apa kesalahanku Mas? aku dibawa kerumah ini hanya untuk melahirkan anakmu. aku hanya ingin yang terbaik untuk anak kita. apa itu sulit?
"Tidak ada yang membawamu kesini. kaulah yang menyodorkan dirimu sendiri. kau yang memanfaatkan sifat buruknya Mama.
"Baiklah. anggap saja itu benar. tapi yang paling penting adalah Ameera. mari kita tinggalkan semua hanya untuk Ameera. bisakah?" mencoba memelas untuk mendapatkan perhatian dari Braga.
"Aku hanya mengingatkan ini. sejak Ameera lahir, namaku dan nama Dara yang tercantum di catatan sipil sebagai walinya." menegaskan.
Seperti sambaran petir. Hana menutup bibirnya rapat menggunakan telapak tangannya. air matanya jatuh berurai. hatinya sakit. hingga terasa sesak.
__ADS_1
Dara dan yang lain sangat terkejut dengan apa yang Braga ucapkan.
"Kamu sudah tidak waras!" bentak Mama.
"Bukankah itu perjanjian awalnya?" mengingatkan Mama kembali. perjanjian yang telah disepakati bersama.
"Demi Tuhan!! demi Tuhan aku tidak akan menerimanya. wanita mandul itu tidak pantas untuk anak ku." menunjuk Dara dengan wajah penuh kemarahan.
Lagi-lagi mandul. kata mandul hanya akan membuat telinga para wanita yang belum memiliki anak terasa panas. dengan marahnya, Dara mendekati Hana.
'Plak!!!!!!!
Dara menampar pipi Hana. matanya menatap Hana marah.
"jagalah ucapan mu!" bentak Dara.
"Berani sekali kamu! kenapa kau begitu marah?! kau memang tidak pantas menjadi walinya Ameera. aku tidak sudi dan tidak akan pernah rela." bentak Mama.
"Dengar ini baik-baik. aku bersumpah. tidak akan memberikan anakku kepada wanita mandul itu. dan aku akan melakukan apapun demi anakku." ucap Hana dengan tegas dan wajah marah. matanya masih sembab dan digenangi air mata.
Kata sumpah dari mulut Hana membuat Braga emosi.
"Berhenti menggunakan Ameera sebagai alasan. itu tidak masuk akal." ucap Maria.
"Lakukanlah." Dara menatap Hana dengan kesungguhan di matanya.
"Mari kita lihat. siapa yang akan menang. cinta kami, atau obsesi mu yang akan menang." ucap Dara.
"Jangan berani menantangku.! kau tidak memiliki apapun selain cintamu. tapi aku, memiliki Ameera untuk kupertahankan. Ameera lebih penting dari rasa cintamu." mencoba menjatuhkan Dara.
"Baiklah. kita lihat saja. kau memiliki Ameera untuk dijadikan senjata. dan senjataku, akan ku perlihatkan besok." ucap Dara sembari tersenyum sinis.
"Apa yang mau kau perlihatkan? tubuhmu kah? atau kemandulan mu?" bantah Mama.
Dara tersenyum. hanya bisa tersenyum menahan segala kemarahan dihati.
"Kalian berdua sudah diluar batas." ucap Papa sembari memegangi dadanya yang mulai sakit.
Dengan cepat, Dara dan Maria mengantar Papa ke kamar untuk istirahat. Maria mengambil segelas air hangat untuk diberikan kepada Papa. penuh rasa penyesalan. Dara menggenggam telapak tangan Papa.
"Maaf Pa. aku tidak bermaksut begitu.
"Tidak. ini bukan kesalahan mu. Papa hanya merasa gagal menjadi suami dan Papa mertua yang baik." ucap Papa yang tengah berbaring memegangi dadanya.
"Ini semua karena kamu!!." ucap Mama yang masuk kekamar. seperti biasa. jari telunjuk Mama terus mengarah kepada Dara.
"Keluar,...." ucap Papa lirih.
__ADS_1
Dara semakin terlihat sedih. Mama tersenyum menang.
"baik Pa.
"Bukan kamu.
spontan Dara menghentikan langkahnya. menatap Papa bingung.
"Keluarlah Ma. aku tidak ingin melihatmu dulu." seketika, senyum penuh kemenangan diwajah Mama menghilang seketika. berubah menjadi tatapan tajam. seperti belati yang siap menusuk Dara kapanpun.
Dengan marah, Mama meninggalkan kamar Papa tanpa kata. Dara kembali duduk dikursi samping tempat tidur Papa.
"apa yang akan kau tunjukan besok?" tanya Papa penasaran. mengingat ucapan Dara yang terlihat bersungguh-sungguh.
Dara tersenyum sembari mengelus telapak tangan Papa.
"ini kejutan untuk Papa. semoga Papa bahagia saat melihatnya.
Papa mengangguk dan tersenyum.
Malam semakin larut. Dara dan Braga telah kembali ke Apartemen.
Ditempat tidur.
"Sayang kamu yakin untuk besok?" ucap Braga sembari memeluk Dara yang tengah terbaring membelakanginya.
"Iya. anggap saja, ini khusus untuk Papa. dia sangat menyayangiku. aku tidak ingin menyembunyikan Jojo dan Jean lagi.
"Baiklah. kau harus tidur sekarang. besok kau juga harus bekerja. tidak baik tidur terlalu malam. besok, aku akan pulang kerumah bersama anak-anak.
"Kau akan menungguku pulang bekerja?
"Tidak. aku akan datang pagi. sebenarnya, aku lupa membawa satu dokumen lagi. aku akan membutuhkan dokumen itu di jam sebelas siang.
"Baiklah. pastikan anak-anak tidak diperlakukan dengan buruk.
"Iya. aku akan menjemputnya kembali saat jam kantor selesai. akan ada Maria dan Papa yang menemani mereka.
"Baiklah. aku bisa tenang sekarang.
Saat pagi tiba. Jojo dan Jean telah tiba di teras rumah orang tua Braga. dengan telaten, Braga membukakan pintu untuk Jojo dan Jean.
menggandeng tangan Jojo dan Jean untuk masuk kedalam.
"Wuah,,,,......!!! itu. Papa lihat itu. itu mereka." Maria berjalan setengah berlari dengan riangnya. menghampiri Jojo dan Jean.
.........................
__ADS_1