
Dara tengah menatap dirinya di cermin. gaun polos berwarna navi warna yang menjadi kesukaannya melekat cantik ditubuhnya. sebuah kalung mini menghiasi lehernya. Dara menghela nafasnya.
"bagaimana kalau aku benar-benar bertemu Mas Braga? ah,..! membayangkannya membuat perutku sakit. kalau aku tidak datang, Pingkan akan mengolok ku. dan si Pirang menyebalkan itu pasti akan marah."
Dara mengingat pesan yang dikirimkan Erick saat malam. bahwa Dara harus datang.
"Mommy..! "panggil Jean sembari membuka pintu. menyadarkan Dara dari lamunannya.
"Iya sayang." Dara membalikkan tubuhnya menghadap Jean.
"Wuah....!! Mommy, you look so pretty. " Jean menatap Dara dengan tatapan kagum.
"Terimakasih sayang. ada apa kamu cari Mommy? " tanya Dara sembari berjongkok didepan Jean.
"Em,.. Jojo bilang, Mommy akan pergi. Jojo menyuruhku untuk mengingatkan Mommy. sekarang sudah pukul tujuh.
Dara mengerutkan dahinya bingung.
"sejak kapan Jojo menjadi tidak khawatir saat Mommy nya pergi menghadiri pesta. " batin Dara.
"Jojo, dia tidak keberatan sama sekali Mommy pergi ke pesta?" coba menanyakan ke Jean. karena ini diluar kebiasaan Jojo.
"Tidak." ucap Jean sembari menggelengkan kepala.
"Ah, sudahlah. mungkin dia sedang malas melarang ku pergi. padahal aku ingin sekali dua anak ini merengek jadi aku punya alasan untuk tidak hadir ke pesta itu. " batin Dara.
"Mommy,..!" panggil Jojo sembari membuka pintu. hanya kepalanya saja yang masuk kedalam.
"ada seseorang yang sedang menunggu Mommy. dia bilang namanya Erick.
"Baiklah. itu Bos Mommy. sekarang Mommy harus berangkat. kalian tidak masalah jika Mommy pergi sekarang?
"ayolah anak-anak, merengek lah. batin Dara.
Jojo dan Jean saling menatap. alis mereka saling mengangkat. menanyakan pendapat masing masing menggunakan bahasa ekspresi.
"kami tidak masalah Mommy. pergilah. aku akan menjaga Jean. lagi pula dirumah ada Nenek Kakek dan Uncle. tidak akan ada masalah apapun. " ucap Jojo.
"Ba,baiklah kalau begitu. " Dara berjalan keluar dengan wajah lesu.
__ADS_1
Jojo berjalan dibelakang Dara hingga sampai ke mobil Erick yang tengah terparkir didepan rumah Dara.
Erick tersenyum kagum melihat Dara yang begitu cantik malam ini. namun, tatapan itu sesaat menghilang saat menatap wajah Jojo yang begitu dingin dan tajam menatap nya.
Erick menganggukan kepala dan tersenyum kepada Jojo. namun sayang, tak ada respon apapun dari Jojo. Erick memutuskan untuk mendekati dan menyapa Jojo.
"Halo anak tampan. apa kabar?" Erick membungkuk untuk mendekatkan wajahnya agar bertatapan dengan Jojo.
"Aku baik. aku tidak suka banyak bisa basi. dengarkan ini dengan seksama. jangan macam-macam dengan Mommy ku. jangan biarkan Mommy minum alkohol. jangan biarkan Mommy digoda oleh pria. pastikan Mommy makan dengan baik. dan pulang sebelum larut. aku akan masuk. semoga anda mengingat dengan baik ucapan ku tadi. jika anda gagal. anda akan berhadapan dengan ku. " Jojo meninggalkan Dara dan Erick yang mematung mendengar ucapan Jojo.
Erick menggaruk tengkuknya. Dara menutup bibirnya karena terkejut mendengar Jojo memberikan perintah kepada Bos nya.
"Maaf kan anak saya Tuan. dia memang agak berbeda dari anak lainya yang seumuran. " ucap Dara yang merasa tak enak hati.
"Aku tidak menyangka. anak sekecil itu sangat suka memerintah. dia begitu dingin tapi juga dewasa. dia pasti sangat menyayangimu. aku penasaran.siapa Ayah dari anak mu itu?" Erick berbicara tanpa menatap Dara. matanya lekat memandangi Jojo yang sudah tak nampak lagi.
"kenapa tadi kau memanggilku Tuan? aku sudah memperingatkan mu kan?" kalimat penuh penekanan.
"Oh,. iya. maksutnya Erick.
Sesampainya disebuah gedung Hotel bintang lima. dimana pesta diselenggarakan. selama dalam perjalanan, Dara terus menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan. Erick hanya bisa menghela nafas melihat apa yang Dara lakukan.
Dara dan Erick berjalan beriringan. Erick meraih tangan Dara dan mengaitkannya di lengan kanannya. lalu tersenyum senang sembari menatap Dara. lain halnya dengan Dara yang benar-benar ingin menarik kembali tangannya.
"Baiklah,... sabar Dara. tenangkan dirimu. kau hanya menyentuh jasnya. iya hanya jasnya. " batin Dara.
Saat Erick dan Dara masuk ke dalam, banyak mata yang menatap mereka. wajah cantik Dara yang nampak familiar dan juga wajah Erick yang tampan dan berwibawa membuat banyak para tamu mengagumi mereka berdua.
Dara dan Erick ikut bergabung dengan para pembisnis lainya. Erick mencoba berbaur dan seramah mungkin. lain halnya dengan Dara. matanya sibuk menyusuri ruangan. mencari keberadaan Braga yang tak kunjung terlihat.
"Dia tidak datang ya? apa?! kenapa aku kecewa? apa aku ini sudah tidak waras ya? " batin Dara yang sibuk mengumpat dirinya sendiri.
Tak lama kemudian. beberapa tamu undangan mulai berbisik Dara yang sibuk menikmati hidangan pesta sama sekali tak menghiraukan. namun, saat beberapa wanita dibelakangnya berbisik dengan nada yang cukup jelas. Dara mulai menguping.
'Hei lihat itu. dia pembisnis nomor satu yang selalu sukses.
'Iya. dia juga sangat tampan.
'benar. ku dengar dia seorang duda. kita masih memiliki kesempatan untuk mendekatinya.
__ADS_1
Dara mulai penasaran dengan sosok yang sedang dibicarakan itu.
"seberapa tampan dan hebat memangnya pria itu? sampai-sampai mereka merendahkan dirinya begitu.
Dara mengikuti tatapan para tamu pada sosok yang sedang dibincangkan. Dara membulatkan matanya karena terkejut. jarinya menutupi bibirnya yang tengah terbuka. dengan cepat Dara membalikkan tubuhnya. menundukan kepala berniat kabur secara diam-diam setelah memastikan Erick tengah berada jauh dari dirinya.
Dara menghentikan langkahnya karena melihat sepasang kaki perempuan berdiri tegak didepannya. Dara mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang mengganggu jalannya untuk segera pergi meninggalkan pesta.
"Hahaha..... ternyata kamu Pingkan. aku kira siapa?" Dara menjadi lebih gugup melihat wajah Pingkan yang terlihat menyeringai.
" Kamu mau kemana Dara?" tanya Pingkan dengan senyum penuh kecurigaan. sebenarnya, Pingkan sudah memperhatikan gerak gerik Dara tanpa disadari oleh Dara.
"Aku, em,.. aku cuma mau ke toilet saja." mencoba mencari alasan yang masuk akal.
"Oh,.. aku kira, kau ingin lari saat melihat Braga mu itu. " masih dengan senyum penuh kecurigaan.
Dara mencoba mengatur nafasnya. menenangkan dirinya saat ini adalah hal yang paling utama. karena disaat gugup, tak ada ide bagus yang akan dihasilkan oleh otak.
"tentu tidak. aku akan berada disini sampai acaranya selesai. kau tenang saja. " Dara mencoba tersenyum senatural mungkin.
"Hahaha,.... benarkah? aku tiba-tiba ingin membuktikan kesungguhan mu Dara.
Dara membulatkan matanya. entah apalagi rencana sahabat nya ini. batin Dara.
"Dara, tolong pegang gelas ku. aku ingin mengambil kue itu." Pingkan menunjuk kue yang berada tak jauh dari Dara.
Dara keheranan. masih sempat juga dia ingin memakan kue.
"baiklah." Dara meraih gelas yang ada ditangan Pingkan. dengan cepat, Pingkan menekan tangan Dara. menumpahkan minuman ke gaun pestanya. membuat seolah olah Dara sengaja melakukannya.
"Ah!!!! kamu kenapa menumpahkan minuman ini kepada ku?!" Pingkan berteriak begitu lantang. membuat semua mata mengarah kepada mereka.
Dara membulatkan mata terkejut. menundukan kepala dan mendekati Pingkan.
"apa yang kau lakukan? semua orang melihat ke arah kita. hentikan tingkah konyol mu ini.
"Iya kau benar. bahkan, Braga mu tercinta juga melihat kearah kita.
........................
__ADS_1