Ibu Dari Anak Suamiku

Ibu Dari Anak Suamiku
Sup daging sapi


__ADS_3

Hari terus berlalu. satu minggu sudah Selli berada dikediaman orang tua Braga. hari demi hari ia lewati dengan penuh siasat. membayangkan kehidupan indah yang akan dijalaninya setelah Dara pergi dari hidup Braga. semakin dipikirkan semakin membuat ketamakan yang tak terpuaskan.


Selli mendandani dirinya hingga terlihat sempurna. wajah cantik dan postur tubuh yang bagus. dress berwarna hitam yang ia kenakan menambah kesan berani dan anggun. tak lupa, ia memakai anting-anting pemberian Braga saat masa pacaran mereka dulu. Selli tersenyum menatap dirinya di cermin. meraih tasnya dan bersiap menuju ke kantor Braga.


Dengan percaya dirinya, Selli berjalan tanpa menghiraukan apapun. sudah seperti Nyonya besar. batin orang-orang yang melihatnya. beberapa orang yang melihat Selli hendak menaiki lift khusus untuk presdir dan para petinggi mencoba menghentikan. mengingatkan dan memberi tahu bahwa ada beberapa prosedur yang harus dilalui jika ingin menemui presdir.


"Enyah lah! apa kau tidak tahu aku siapa? berani sekali menghalau ku. aku akan memberi tahu tunangan ku Braga, kalau kalian mencoba untuk mempersulit ku untuk menemuinya." ancam Selli kepada seorang resepsionis yang mencoba menghentikannya.


"Maaf Nyonya. kalau begitu, silahkan tunggu sebentar disana. aku akan menghubungi presdir terlebih dahulu." ucap resepsionis sembari menunjuk bangku yang ada tak jauh dari mereka berdiri.


"Kau hanya resepsionis tapi bertingkah seperti bos saja. aku benar-benar akan membuatmu dipecat." ucap Selli. matanya mulai tak bisa menahan marah. jari telunjuknya mendorong dan menunjuk-nunjuk dada resepsionis berkali-kali.


"Maaf Nyonya. takutnya, presdir sedang ada rapat akhir tahun hari ini. saya perlu menghubungi beliau, agar Nyonya tidak perlu mencarinya lagi nanti." ucap resepsionis. wajahnya masih menunduk menghormati.


"Huh!!! menyebalkan. kalau begitu cepat hubungi dia!!!!" bentak Selli yang tak sabaran.


"Baik.


Selli dengan wajah kesalnya duduk dikursi yang tadi tunjukan oleh resepsionis.


Diruangan Braga.


"Saka, beri aku rangkuman singkat tentang rapat tadi. aku benar-benar kehilangan fokus hari ini." ucap Braga sembari berjalan meninggalkan ruang rapat dan menuju ruang kerjanya.


"Baik pak presdir." ucap Saka yang sedikit bingung. sejak kapan presdirnya bisa kehilangan fokus. batinnya. berjalan terus mengikuti Braga dari belakang.


Sesampainya diruangan Presdir. Braga langsung duduk dikursi nya. memeriksa beberapa berkas yang di mejanya. semetara Saka, dia menunggu di luar ruangan.


Tak lama kemudian, Saka mengetuk pintu dan meminta izin untuk masuk. Braga mempersilahkan masuk.


"Ada apa?" tanya Braga sembari menutup berkas yang sempat ia buka dan lihat tadi.


"Ada seorang perempuan, namanya Selli ingin bertemu dengan anda. bagaimana pak presdir?" tanya Saka yang sedikit ragu. tak berani terlalu dekat dengan Braga.


"Usir." jawab Braga dengan nada datar. kembali melihat berkas yang ia tutup.

__ADS_1


"wanita itu gila ya? dia datang kesini untuk apa? Dara sudah marah dua hari ini. aku tidak mau membuatnya lebih marah lagi kalau tahu tentang ini." batin Braga sembari mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. saat ia diberi obat perangsang oleh Hana. dia menjadikan itu sebagai alasan untuk melakukan kegiatan suami istri tanpa batas waktu. dan saat Dara menyadari itu hanya akal-akalan Braga saja, Dara menjadi kesal dan mendiamkan Braga.


"Apa?!" Selli benar-benar marah karena kehilangan muka saat resepsionis menyampaikan apa yang presdirnya katakan mengenai Selli.


"Iya Nyonya. maaf,. tapi itulah yang presdir kami katakan." ucap resepsionis itu. kedua tangannya saling bergandengan. kepalanya menunduk menghindari tatapan tajam yang menakutkan.


Selli mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. langsung menghubungi Mama. menyampaikan apa yang terjadi. Selli menyerahkan ponsel kepada resepsionis untuk Mama berbicara. setelah menutup sambungan teleponnya, resepsionis itu terlihat berat hati juga ketakutan mempersilahkan Selli untuk naik lift dan langsung menemui Braga.


sementara diruang kerja Braga.


lagi-lagi Braga tak bisa berkonsentrasi dengan baik. merasa percuma membaca berkas ditangannya, dia menutup berkas itu dengan kasar. menyenderkan kepalanya di senderan kursi. menatap langit-langit. pikiranya teras memikirkan istrinya yang kini sedang merajuk. tiba-tiba terlintas sebuah ide dibenaknya. Braga meraih ponsel yang ada di mejanya. menghubungi Dara.


'Hallo. ada apa?


'Sayang,. aku sakit. bisa jemput aku?' Braga.


'Bohong!


'Tidak. ayolah.. aku benar-benar sakit.' Braga.


'Bagian mana yang sakit?


'Eh?,... tadi pagi kau baik-baik saja kan?'


'Itu tadi pagi. aku sakit sekarang. kau mau aku mati disini? kau sibuk mencurigai ku. seharusnya kau berlari kesini dan menyelamatkan suamimu.' Braga.


'Baiklah. tunggu. aku akan sampai dua puluh menit jika tidak terhalang macet.'


'Iya aku tunggu. jangan sampai tidak datang. aku sudah melarang semua orang untuk membantuku.' Braga.


'Baiklah.


Suara pintu terbuka. Braga mengerutkan dahi bingung juga kaget. bagaimana bisa, perintah yang ia berikan begitu mudah dilanggar.


"Saka!!!!." panggil Braga dengan nada membentak. geram juga tidak percaya dengan apa yang terjadi.

__ADS_1


Dengan tergesa-gesa Saka berjalan setengah berlari. mendekat ke arah Braga. menjaga jarak beberapa langkah. takut akan kemarahan Braga.


"ada yang bisa saya bantu pak presdir?" tanya Saka. wajahnya tertunduk.


"Kenapa dia bisa datang kesini. siapa yang memberi izin untuk dia masuk? siapa yang membiarkan dia bisa sampai disini?!" tanya Braga dengan nada membentak. jari telunjuknya mengarah ke arah Selli yang berada tepat disamping kanan Saka.


"Maaf pak. Nyonya besar yang memberikan izin. saya sudah mencoba menghalangi. tapi tidak berhasil." ucap Saka yang mencoba membela diri.


"lihatlah wahai perempuan di samping ku. gara-gara anda, saya juga kena badai kemarahannya kan? untung saja aku gagal menjadi adik iparnya." batin Saka.


Tanpa sadar, sambungan telepon belum terputus. Dara terus mendengarkan dan dengan cepat memesan taxi menuju perusahaan Braga.


"Braga, tenanglah... Mama menyuruhku kemari. dia menyuruhku membawakan sup daging sapi kesukaanmu." ucap Selli mencoba untuk mengakhiri kemarahan Braga. berharap, sup yang ia bawa mampu membawa Braga hanyut dalam kenangan di masa lalu.


"Apa? sup daging sapi? kau yakin Mama yang menyuruhmu?" tanya Braga. ada rasa tak percaya diwajahnya.


"Sebenarnya, Mama hanya menyuruhku untuk membawa makanan untuk mu. yang aku ingat, sup daging sapi adalah makanan yang paling kau suka. iya kan?


"Aku tidak menyukai sup daging lagi. aku lebih suka gado-gado." jawab Braga penuh percaya diri.


Saka mengerutkan dahi mendengar jawaban Braga.


"yang benar saja? gado-gado itu makanan kesukaan Nyonya muda kan? kemarin saat makan siang dia memesan sup daging sapi kan?" tanya Saka dalam hati.


Sesampainya Dara di perusahaan Braga. begitu banyak pasang mata yang melihat Dara sembari tersenyum. mereka menyapa Dara dengan bahagia. begitu juga Dara. membalas sapaan mereka dan tersenyum penuh kesopanan.


'Itu nyonya presdir kan? aku dengar dia menghilang selama ini.


'iya itu dia. dia masih tetap cantik dan ramah seperti dulu.' bisik para karyawan.


Sesampainya diruangan Braga. dua penjaga dan juga Saka kini tengah berada di depan pintu ruangan Braga. semua menundukan kepala memberi salam kepada Dara. Saka tersenyum menyambut kedatangan Dara dan langsung mempersilahkan masuk.


Dara menghela nafasnya saat melihat ada wanita yang kini tengah duduk dihadapan Braga.


"masih belum pergi ternyata? jadi, ini yang dikirim Mama untuk memisahkan kami ya?" tanya Dara dalam hati.

__ADS_1


"Sayang,.. kamu sudah datang?" tanya Braga. bangkit dari duduknya. menghampiri Dara dan langsung memeluknya.


................


__ADS_2