
Sepulang dari rumah orang tua Braga, Jojo dan Jean menjadi semakin tak banyak bicara.
Dara dan Braga saling tatap dan bertanya. ada apa dengan anak-anak.
Braga memutuskan untuk mengajak bicara Jojo yang sedang sibuk dengan buku yang ia baca. Dara mendekati Jean yang sedang memainkan game online miliknya.
Tak lama kemudian, Dara dan Braga kembali ke sofa. Dara berwajah cemberut. sedangkan Braga, memangku wajahnya menggunakan tangan kirinya.
Dara mendekati Braga. berbicara sangat pelan. berharap tak terdengar oleh anak-anak.
"Bagaiman dengan usahamu?" tanya Dara.
"Heh,,,.... Jojo bilang, dia sedang berkonsentrasi membaca. tidak mau diganggu." ucap Braga dengan wajah lesu. Dara juga ikut menghela nafas.
"bagaimana dengan mu?
Dara hanya tertunduk lemas.
"anak cerewet itu juga tidak mau diganggu. dia sedang memainkan gamenya. dia bilang, sedang memecahkan skor baru yang sangat sulit dilakukan. bahkan orang dewasa juga belum tentu bisa melakukannya. jadi dia menyuruhku jangan bersuara kalau ingin berada didekatnya.
Braga dan Dara hanya mendesah sebal. saling memeluk dan memberikan semangat.
Beberapa jam berlalu. Jojo dan Jean bersiap untuk tidur. seperti biasa, Jean membaringkan tubuhnya dan Jojo mengusap kepalanya.
Dara dan Braga mencoba untuk melihat anak-anak. dan mencoba mengajak bicara mereka. Dara dan Braga berjalan pelan mendekati Jojo dan Jean.
Jojo hanya menggelengkan kepala. melihat tingkah orang tuanya yang seperti anak-anak.
"Hei sayangku,... kau belum tidur?" tanya Dara berbisik didekat telinga Jojo.
"Tidak perlu berbisik. aku belum tidur." ucap Jean sembari membuka matanya.
"Iya. mereka seperti pencuri. padahal ini adalah kamar anaknya sendiri." ucap Jojo sembari menutup buku yang tadi ia baca. meletakkannya di atas meja disamping tempat tidur.
Jean bangkit dari posisi berbaring. duduk bersila di atas tempat tidur. menatap Braga dan Dara lekat.
"aku sudah tidak tahan lagi mogok bicara....!" ucap Jean mengagetkan Braga dan Dara.
"Baguslah. memang tidak baik mogok bicarakan? iya kan Mommy? tanya Braga sembari tersenyum.
Dara mengangguk bahagia. akhirnya mereka sudah mau berbicara batinnya.
"Lalu, apa yang terjadi hari ini dirumah Oma? kenapa kalian terlihat murung?" tanya Dara penasaran.
"Lebih tepatnya kami sedang berpikir. bukan murung. kenapa membuang-buang waktu hanya untuk murung." timpal Jojo. sembari meraih ponsel yang tidak jauh darinya.
Dara menarik nafas dan membuangnya perlahan. menahan marah karena jawaban Jojo yang menjengkelkan. sebisa mungkin Dara tetap tersenyum. Braga terus tersenyum memandangi Dara yang berusaha keras menahan emosinya.
"Apa yang sedang kalian pikirkan? tanya Braga sembari duduk di atas tempat tidur dan berdampingan dengan Jean.
"Tidakkah kalian merasa ada yang aneh dengan Oma?" tanya Jean yang terlihat begitu meyakinkan.
"Aneh?" Dara. Braga.
__ADS_1
Braga dan Dara saling tatap. seolah bertanya apa yang sedang Jean maksudkan.
"Ternyata bukan hanya Mommy yang tidak memiliki kepekaan. Daddy pun begitu." ucap Jojo. matanya terus menatap layar ponsel. jemarinya juga sibuk menekan layar ponsel.
"Apa maksud mu? kami sedang bicara. kenapa kau sibuk sendiri. sudah Mommy bilang, saat orang lain bicara, dengarkan jangan sibuk sendiri." ucap Dara bernada membentak.
"Mendengarkan adalah tugas telinga. mata dan jari ku tidak perlu ikut campur." jawab Jojo masih terus sibuk dengan ponselnya.
"Mommy benar-benar akan memandikan mu dengan air hangat dan mengolesi tubuhmu dengan cream gula. agar bicara mu lebih hangat dan manis." ucap Dara. wajahnya terlihat kesal.
"Itu hanya akan membuang uang Mommy percuma. yang berbicara adalah mulutku. dan yang memerintah adalah otakku. tidak ada hubungannya dengan kulitku kan?" masih dengan posisi yang sama.
Braga terkekeh melihat Dara yang begitu susah mengendalikan emosinya.
"sudahlah tidak perlu bertengkar hanya karena ini. kembalilah pada pembahasan tadi." timpal Braga.
"Iya Daddy benar. aku juga malas mendengar Jojo dan Mommy bertengkar. Mommy hanya akan terlihat sedang berbicara sendiri." ucap Jean sembari menatap Jojo.
"Terserah." jawab Jojo.
"Menurutmu apa yang aneh dari Oma? " tanya Braga kembali ke pembahasan awal.
"Oma bilang, dia benci Mommy karena mandul. sekarang, dia masih terus membenci Mommy. dia selalu berkata, kami pasti bukan anak Mommy. tapi, matanya tidak bisa berbohong saat melihat wajah kami. matanya sangat yakin bahwa kami adalah anak Mommy dan Daddy. tapi sepertinya, Oma ada alasan lain yang membuatnya membenci Mommy." ucap Jean. wajahnya benar-benar terlihat meyakinkan.
"I think so." timpal Jojo.
Braga dan Dara terdiam saling berpikir mengenai pendapat Jean dan Jojo.
"Sebenarnya bukan hanya itu, Oma tidak menyukai Mommy karena ada dua alasan." Dara tersenyum dan mengangkat dua jarinya ke samping wajahnya.
"Oma menganggap Mommy mandul. dan satunya lagi, Mommy dan Daddy berbeda keyakinan sampai saat ini." ucap Dara.
"Oma bener-benar belum dewasa." ucap Jojo. menghentikan aktivitasnya.
"Apa maksutnya?" tanya Dara. Braga terdiam seolah sudah mengetahui apa yang akan dia dengar dari mulut Jojo.
"Keyakinan, Ras , Suku , Negara dan yang lainya, tidak ada masalah selama dua orang saling mencintai. aku rasa Oma tidak sekuno itu. " ucap Jojo.
"Ya. kau benar Jojo." Jean mengacungkan jempolnya.
"Aku hampir tidak pernah salah." ucap Jojo penuh kepercayaan diri.
"Aku rasa, kalian benar. sekarang tidurlah. biarkan ini, Mommy dan Daddy saja yang menyelesaikan." ucap Braga. bangkit dari duduknya. mengelus rambut anak-anak nya bergantian sebelum meninggalkan kamar Jean dan Jojo.
Braga dan Dara berada didalam kamar mereka. saling menatap seolah bertanya satu sama lain.
"Bagaimana menurutmu Mas?" tanya Dara yang begitu menginginkan jawaban.
"Aku belum bisa menjawab pertanyaan mu. maukah kau menunggu sedikit lebih lama?" menggenggam jemari Dara.
Dara hanya bisa diam tersenyum dan mengangguk.
"Baiklah,.. anak-anak sudah tidak ada masalah. sekarang aku yang punya masalah." ucap Braga membuyarkan suasana hening diantara mereka.
__ADS_1
"Apa masalahmu?" tanya Dara bingung. sejak kapan suaminya begitu transparan membicarakan masalah dengannya.
"Ayolah,.. ini baru pukul dua puluh satu. kita punya banyak waktu. iya kan?" tanya Braga. wajahnya sudah mulai berubah mesum.
"Kau masih punya selera untuk itu Mas?
"Tentu saja. ini masalah lain. tidak ada kaitannya dengan apapun.
"Aku sedang datang bulan." cegah Dara.
"Heh,......?! aku sangat tahu kapan kau datang bulan. butuh waktu lima belas hari dari sekarang. iya kan?" tangannya sudah mulai menggerayangi tubuh Dara.
"Kau tidak boleh memaksa." Dara.
"Lalu, kau mau berteriak minta tolong?" Braga.
"Tidak." Dara.
"Aku harus bagaimana sekarang?" Braga.
"Tidak ada. ayo cepat. lanjutkan saja." Dara.
"Aku tahu kau akan berkata begitu." Braga.
Dibalik pintu kamar Dara dan Braga.
"Jo, apa mereka sudah selesai berdiskusi?" tanya Jean yang sedang menunggu Jojo menguping pembicaraan orang tuanya.
"Heh,,...?! sudah. kita kembali kekamar saja." Jojo menarik tangan Jean agar mengikutinya.
"Tapi aku penasaran. aku mau masuk saja dan bertanya pada Daddy dan Mommy.
Jean sudah bersiap untuk membalikkan tubuhnya menuju kamar Dara dan Braga kembali. dengan cepat Jojo menahan langkah Jean.
"Berhenti. jangan masuk kekamar mereka." ada rasa canggung di hati Jojo.
"Aku sudah tidak sabar lagi. aku benar-benar tidak tahan dengan Nenek jahat itu." jawab Jean sedikit emosi.
"Lebih baik kita masuk kekamar." ajak Jojo yang sudah meraih jemari Jean.
"Tidak mau!" bentak Jean.
"Jangan membuat mereka canggung.ayo cepat ikut aku." Jojo terus memaksa Jean.
"Apa maksudmu? aku anak mereka. mengapa aku membuat mereka canggung?" masih teguh pendirian.
"Mereka sedang membuat adik." jawab Jojo. wajahnya memerah saat mengatakan itu.
Jean terkejut lalu terkekeh.
"baiklah,.. terimakasih banyak sudah mencegahku masuk. ayo kita kekamar kita dan mendiskusikan masalah Oma.
"Baiklah." jawab Jojo.
__ADS_1
...........................