Ibu Dari Anak Suamiku

Ibu Dari Anak Suamiku
Pertemuan Dara dan Braga part 1


__ADS_3

Keheningan terjadi sesaat setelah suara lantang Pingkan terdengar. tak lama, suara bisik mulai menyusul. semua mata menatap Dara dengan tatapan heran. Braga sempat melihat ke arah yang sama. hanya saja, nampak punggung Dara. sadar Braga tak begitu tertarik, Pingkan melancarkan aksinya kembali.


"Kenapa kamu masih diam?! bukan kah kamu harus meminta maaf?" benar-benar semakin lantang suara Pingkan. wajah yang dibuat sesempurna mungkin agar memancarkan aura kemarahan yang sesungguhnya.


Dara sempat terkejut melihat Pingkan yang terlihat begitu marah.


"kamu benar-benar marah?" tanya Dara setengah berbisik.


"Tentu saja! memang apa lagi?! kamu banyak tanya sekali ya?!. aku tidak mau tahu. bawakan gaun pesta yang sama persis seperti yang kupakai sekarang." masih dengan akting yang sempurna.


Dara semakin tak berani mengangkat wajahnya.


"ta,tapi, gaun yang kau kenakan adalah gaun edisi terbatas. dan hanya diproduksi di Belanda. bagaimana caranya aku mendapatkannya sekarang?" panik dan gugup. wajah dan intonasi Pingkan terlihat tak seperti berpura pura.


"Baiklah. sebutkan siapa nama mu. dimana alamat, dan nomor telepon. aku akan menagihnya nanti.


"Tak bisakah kau berbaik hati sedikit?" saut Braga dari kejauhan yang mulai tak tahan mendengar keributan karena hal sepele.


"Tuan Braga. aku harus mendisiplinkan wanita ini." ucap Pingkan dengan wajah liciknya.


"Biar aku saja yang mengganti gaun mu." sudah mulai muak dengan ucapan sahabat semasa kuliahnya itu.belum berubah juga anak ini. batin Braga.


"Tidak. aku hanya ingin dia yang menggantinya. sebutkan nama mu alamat dan nomor telepon.


Mendengar ucapan Pingkan. Dara mendesah lega. menyadari jika dia tidak benar-benar marah.


"Pingkan. sudahlah. jangan begini aku mohon." ucap Dara berbisik.


Pingkan meraih Ponselnya.


"baiklah. kau sudah memberi tahu namamu. eh, siapa namamu tadi? aku sudah lupa.


Dara membulatkan matanya. sedikit menggelengkan kepala. lalu mendekati telinga Pingkan.


"tidak Pingkan. aku mohon. hentikan.

__ADS_1


"Baiklah. namamu adalah, Kindara larasati. dan tolong berikan nomor telepon mu. Pingkan menyerahkan ponselnya kepada Dara. ada senyum kemenangan diwajahnya.


Braga terperanjak mendengar nama yang disebutkan oleh Pingkan. langsung berlari mendekati sosok yang kini tengah menjadi sorotan. meraih lengan kanannya dan mengarahkan tubuhnya untuk menghadapnya. dengan tangan gemetar, Braga meraih dagu dan mengangkat wajah Dara agar tegak.


"Tidak! aku harus bagaiman? aku, apa aku harus lari? tapi sudah tidak mungkin kan? baiklah,... tenang....tenang.... biarkan semua terjadi.


Braga membulatkan matanya. ada genangan air mata kerinduan.


"Dara?" Braga langsung memeluk tubuh Dara erat. matanya mulai meneteskan air mata. bahkan suara isak tangis juga terdengar meskipun lirih. seperti mimpi baginya. sosok yang selalu ia nantikan dan rindukan selama bertahun tahun, kini nyata ada dihadapannya.


Dara hanya terdiam mematung. rasanya masih seperti mimpi. orang yang ingin ia hindari, kini justru memeluk tubuhnya dengan erat. Dara merasakan kerinduan yang amat besar dari pelukan yang diberikan Braga.


"Tunggu. tunggu." Erick melepaskan tangan Braga dari tubuh Dara dengan paksa. menarik tubuh dara hingga berada dibelakang tubuhnya.


Pingkan tersenyum." ini menarik sekali. pertunjukan akan segera dimulai. batin Pingkan.


Braga mengerutkan dahinya bingung menatap Erick yang begitu sibuk meraih Dara dari dekapannya.


"Apa mau mu? dan siapa kamu?" tanya Braga dengan wajah super dinginnya.


"Benarkah? . Braga.


"Iya!. Erick.


"Tapi aku tidak perduli." Braga berjalan mendekati Dara dan meraih tangan kanan Dara.


Dengan cepat Erick menahan tangan kiri Dara.


"anda tidak memiliki hak atas kekasih ku Tuan." sudah tidak ada cara lagi untuk mencegah Braga. berharap kata-kata ini akan membuat Braga menghentikan tindakannya.


Braga berdecih sebal.


"wanita yang kau sebut kekasih, adalah Istriku. kau, jangan berani berkata sembarangan. Istriku, tidak akan mungkin menghianati ku.


Erick menelan ludahnya sendiri. mulai gugup. ternyata apa yang ia ucapkan hanya akan menjadi senjata untuk menghancurkan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Sudah cukup!." Dara menghempaskan tangannya dari genggaman dua pria yang sedang tidak waras ini.


"jangan mempermalukan diri kalian begini.


Dara melangkahkan kaki keluar dari kerumunan pesta. dengan cepat, Braga mengikuti langkah kaki Dara. sementara Erick meminta maaf terlebih dulu atas kejadian yang kurang mengenakkan barusan. lalu mengejar Dara dan laki-laki yang mengaku suaminya itu.


Diluar gedung. Dara mulai menangis sembari berjalan. Braga mengikutinya dari belakang tanpa mengatakan apapun. sampai akhirnya, Dara berada dipinggir jalan raya. Dara hendak menyebrang tapi sama sekali tak melihat lampu yang kini berwarna hijau. dengan cepat, Braga menarik lengan Dara. membuat tubuh Dara terjerambah di pelukan Braga.


"Sudah. ini cukup. sudah cukup Sayang. jangan mencoba lagi melarikan diri dariku." Braga memeluk tubuh Dara erat.


Tak tahan lagi. Dara menangis sejadi jadinya tanpa menghiraukan keadaan sekitar. dan dari kejauhan. Erick hanya memandangi Dara yang kini berada dipelukan seorang pria.


"Sudah bertahun aku tidak bertemu dengan mu. aku berharap, aku akan memiliki kesempatan. Dara, aku pernah mengatakan bahwa aku menyukaimu saat sekolah menengah pertama. aku tidak berbohong Dara. perasaanku masih sama. aku masih menyukaimu. saat aku tahu kau sudah menikah begitu cepat, dan aku juga mengalami begitu masa menyakitkan, aku mulai melampiaskan kepada banyak wanita. tapi, jika aku diberikan kesempatan untuk bersamamu, aku berjanji tidak akan pernah menghianati mu sedikitpun." batin Erick. tanganya mengepal kuat matanya mulai berair. melihat Dara berada dipelukan seorang pria. Erick menyunggingkan senyumnya.


"aku tahu. kalian sudah bercerai. jadi, biarkan aku membuat kesempatan untuk membuktikan kesungguhan dari cinta yang aku pendam selama ini untuk mu Dara.


Erick membalikkan tubuhnya semakin menjauh dari Dara dan Braga. menjauh saat ini adalah pilihan terbaik. tapi tidak untuk besok. mulai besok, Erick akan mulai menunjukkan aksinya. membuat Dara jatuh cinta dengan caranya sendiri.


"Kenapa kita bertemu lagi Mas? aku sudah mencoba menghindari. kenapa masih bisa bertemu dengan mu?" ucap Dara sembari terisak dan masih berada dipelukan Braga.


"Dara,. tidak baik kita terus berada disini. ini terlalu berbahaya." Braga melepas pelukannya. meraih jemari Dara dan menggandengnya.


"ikut aku." Braga menghentikan Taksi. kalau menunggu Raka, akan lebih lama lagi dia berada dipinggir jalan.


"Kemana mas?" Rasanya ingin memberontak. tapi tubuhnya tak mengizinkan. Dara hanya bisa mengikuti langkah kaki Braga.


Tak lama kemudian, Braga dan Dara telah sampai disebuah gedung Apartemen. Braga masih menggandeng tangan Dara dan mengajaknya Masuk ke dalam.


"Kita mau ngapain kesini Mas?" bingung. untuk apa membawa ke tempat begini. batin Dara.


"Kamu akan tahu nanti saat sudah masuk kedalam." ucap Braga sembari memencet kode sandi pintu.


"Mas. ingat mas. kita kan sudah bercerai.


........................

__ADS_1


__ADS_2