Ibu Dari Anak Suamiku

Ibu Dari Anak Suamiku
Bertemu Jean dan Jojo part 2


__ADS_3

Perdebatan masih berlangsung hingga Braga pergi meninggalkan rumah untuk menghadiri rapat dikantor. Jojo, Jean beserta semua anggota penghuni rumah tengah duduk diruang keluarga. tak ketinggalan dua pembantu rumah tangga yang terus memandangi Jojo dan Jean dari kejauhan.


tampan dan sangat cantik. itulah yang ada dibenak mereka saat melihat Jojo dan Jean.


Mama dan Hana masih menatap Jojo dan Jean dengan tatapan tak suka. berbeda dengan Jean yang memilih tak perduli dan menyibukkan diri menggambar bersama Maria. Jojo membalas tatapan tajam mereka dengan wajah dingin yang seakan menusuk bagi siapa yang menatap nya.


"Kenapa kau menatap ku begitu? tidakkah seharusnya kau menghormati orang yang lebih tua darimu?" tanya Mama dengan nada jengkel.


"Aku hanya membalas tatapan mu Nenek." ucap Jojo dengan wajah dingin yang tak memliki ekspresi.


"Kau pikir kau pantas memanggilku Nenek? kampungan sekali." ketus Mama.


"Aku ingin memanggilmu Grandma. tapi, terlalu bagus. panggilan Nenek lebih cocok untukmu." belum juga berubah ekspresinya. seakan tak pernah dan tak akan luntur wajah dingin Jojo.


Papa terkekeh mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Jojo.


"Apa kau tahu? kau sangat mirip dengan Daddy mu saat kecil. cara bicara, wajah. semuanya sangat mirip. Opa seperti Dejavu." ucap Papa sembari membelai rambut Jojo lembut. kasih sayang yang terasa nyata tanpa kebohongan.


"Aku tidak tahu itu pujian atau apa. tapi terimakasih Opa." jawab Jojo. matanya masih menatap Mama dan Hana bergantian.


"Iya. tidak bisa disangkal lagi. kau benar-benar anaknya Braga." ucap Papa tersenyum senang. kejutan yang diberikan Dara membuat harinya akan semakin bahagia.


"Berhentilah berkata anaknya Braga." saut Mama.


"aku tidak yakin wanita mandul itu bisa memiliki anak." masih tak mau mengakui.


"Nenek, kau bisa memeriksa sendiri. kau orang yang cukup pandai bukan?" ucap Jojo. matanya lekat menatap Ameera yang sedang sibuk memainkan boneka kesukaannya. seharusnya kata-kata itu bisa membuatnya lebih pandai bukan.batin Jojo.


"Dasar anak aneh. sikap mu seperti gundukan es. bicaramu sangat menyebalkan. dari Panti Asuhan mana kau berasal? ucap Mama masih mencoba untuk mencari sebuah celah dari kemungkinan.


Jean meletakkan kertas dan pensil yang kini tengah ia pegang. wajah seriusnya berubah menjadi marah. Jojo hanya tersenyum sinis menanggapi ucapan Mama.

__ADS_1


"tidakkah Nenek merasa kalau Nenek sangat menyebalkan? kenapa merasa kami berasal dari panti asuhan? Mommy kami susah payah melahirkan kami. dia harus dioperasi demi melahirkan kami. dia harus bekerja untuk kehidupan kami selama di Belanda. tidak masalah Nenek bilang kami bukan anak Mommy. tapi jangan mengatakan didepan Mommy. dia akan sangat menderita. dan kalau boleh memilih, aku juga tidak mau punya Nenek yang jahat seperti kamu." ucap Jean lalu berlari memeluk Jojo yang diam mendengarkan setiap ucapan yang keluar dari mulut Jean.


"Kenapa kau menangis karena seorang Nenek yang belum dewasa?" tanya Jojo kepada Jean sembari menepuk punggung Jean pelan karena sudah mulai sesegukan.


"Dasar anak tidak tahu sopan santun." bentak Mama sembari berjalan mendekati Jojo dan Jean. wajahnya seolah ingin melakukan kekerasan kepada Jojo.


Papa yang sudah tidak bisa menahan emosinya begitu marah melihat Mama yang mulai mendekati Jojo. dengan cepat Papa menghalangi Mama. berdiri didepan Jojo dan Jean.


"Apa yang akan kau lakukan?! kenapa kau mendekati cucuku?!" tanya Papa dengan wajah marahnya. baru kali ini Papa terlihat sangat Marah. membuat keberanian Mama sedikit memudar. tapi tidak dengan Hana. semakin lama semakin membenci Jojo dan Jean.


"Aku hanya ingin, memberikan pelajaran kepada anak tidak tahu sopan santun itu." jawab Mama tegas. tapi sudah terlihat tak begitu marah lagi.


"Tidak ada yang boleh menyakiti cucuku. tidak kau dan juga kamu Hana. mulai sekarang, jaga sikap dan ucapan mu. jangan membuatku ingin menendang mu keluar." ucap Papa tegas. matanya benar-benar terlihat marah saat ini.


Mama terdiam tanpa kata. mengepal tangan kuat menahan emosi. tak mau berdebat dengan Papa. Mama pergi meninggalkan mereka.


Hana masih duduk menatap Jojo dan Jean dengan tatapan marah.


"Hei,.....hei,....." Maria menjentikkan jarinya beberapa kali didepan wajah Hana.


"rencana jahat apa yang sedang kau rencanakan hah?,..!" tanya Maria. alis sebelahnya terangkat ke atas. wajah menyelidik begitu nampak terlihat.


"Jangan berkata tanpa bukti." semakin lama semakin menyebalkan saja Maria. batin Hana.


"Heh,..! lalu kenapa kau menatap keponakanku begitu. tatapan mu seperti seekor serigala yang sedang mengintai mangsanya." ucap Maria sembari menatap Hana yang terlihat begitu cemburu.


"Aku tidak ingin berdebat denganmu. bukan urusanmu juga aku ingin melakukan apa." Hana bangkit dari duduknya. bersiap meninggalkan ruang keluarga.


"Aku harap kau tidak melewati batasan mu Hana. jangan bertindak seperti seorang Istri. jangan merendahkan dirimu dengan terus bertingkah seperti itu." ucap Papa tanpa menatap Hana.


Hana menghentikan langkahnya. mendengar ucapan Papa. menahan marah hingga bibirnya gemetar.

__ADS_1


"aku akan melakukan apa yang aku inginkan. aku adalah Hana. aku tidak akan menyerah hingga akhir. " batin Hana lalu berjalan mendekati Ameera dan mengajaknya pergi.


"Hei sayang,.. semua yang menyebalkan sudah pergi. bagaimana kalau kita bermain di taman saja?" ajak Maria. merasa kalau rumah sudah membuat mereka tertekan.


"Baiklah. Jean kau suka bunga kan? kita akan pergi ke taman. sudah jangan menangis." bujuk Jojo sembari menenangkan Jean yang masih terisak di pelukannya.


Tak lama kemudian. Jojo, Jean, Papa dan Maria berjalan menuju taman. terlihat Hana yang sedang memarahi anak salah satu pembantu. Ameera menangis dengan kencangnya.


"Apa kau tidak punya mata? kau selalu membuat Ameera celaka. kau mau aku pukul lagi?!" bentak Hana kepada anak salah satu pembantu yang baru berusia lima tahunan itu.


"Apa yang kamu katakan?! kau membentak anak kecil ini? apa kesalahannya?" tanya Papa terheran dengan kata-kata yang terucap dari bibir Hana.


"Dia selalu mengganggu Ameera. kemarin mencuri mainan Ameera. sekarang mendorong Ameera hingga jatuh tersungkur. lihat,. tangan dan kaki Ameera lecet begini."Hana menunjuk bagian yang lecet dari tubuh Ameera.


"Maaf Nyonya. saya tidak sengaja." pinta anak kecil itu dengan wajah sedihnya. tangannya mengatup memohon ampun.


"Tiap kali kau membuat kesalahan, kau selalu mengemis ampun. tapi besok selalu kau ulangi." Jawab Hana dengan nada marah.


"Dia cuma anak-anak. lagi pula, dia sudah seperti keluarga kan? kenapa kau kasar begitu." protes Maria.


"Hei,.. siapa namamu?" tanya Jean.


"Aku Lilu." jawab anak itu. wajahnya masih tertunduk ketakutan.


Jean mendekati Lilu dan mengalungkan tangannya dileher Lilu.


"aku tahu kau tidak sengaja. jika kau salah, kau hanya perlu meminta maaf. jika orang nya tidak mau memaafkan, dia lah yang akan rugi. karena, hati orang yang sulit memberi maaf, tidak akan damai hidupnya." ucap Jean. wajah cantiknya begitu jelas terlihat saat tersenyum ke arah Lilu.


"Diam!! kau tidak berhak mengatakan itu. kau bukan siapa-siapa disini." bentak Hana yang merasa telah direndahkan dihadapan anak pembantu.


...............................

__ADS_1


__ADS_2