Ibu Dari Anak Suamiku

Ibu Dari Anak Suamiku
Tentang Selli


__ADS_3

Selli membanting tasnya ke lantai. mengingat betapa menjijikan nya sikap Braga saat ini.


"kalian benar-benar mau mempermainkan aku ya." Selli menyunggingkan senyum liciknya.


"lihatlah. aku bukan orang yang suka berbelas kasih. aku tidak akan banyak berdiam diri seperti Hana. kalian lihat saja." ucap Selli yang terus merasa kesal mengingat Braga yang begitu lembut terhadap istrinya.


Braga dan Dara pulang ke rumah orang tua Braga untuk menjemput Jojo dan Jean.


sesampainya disana, Dara dan Braga masuk kedalam untuk menjemput anak-anak mereka.


Dara mengelilingi tiap sudut ruangan. mencari keberadaan Selli.


"Cari apa sayang?" tanya Braga yang penasaran melihat Dara seperti sedang mencari sesuatu.


"Itu, aku cari anak-anak Mas." ucap Dara langsung menghentikan tatapan mencarinya.


"Mereka sedang bersiap. kita tunggu disini saja." ucap Braga sembari menunjuk sofa diruang tamu. menarik tangan Dara. membuatnya jatuh dipangkuan Braga.


"Mas! duduk dengan posisi seperti ini tidak nyaman kalau ada dirumah orang tuamu." ucap Dara sembari mencoba untuk bangkit dari posisinya.


"Jangan bergerak terus. kalau aku bereaksi, maka jangan salah kan aku." ucap Braga sembari menahan gerakan dari tubuh Dara. setelah Dara tak lagi mencoba menjauh, Braga memeluknya erat.


"kamu diam selama itu apa tidak merasa rindu pada suamimu ini?" tanya Braga yang terlihat manja. menciumi punggung Dara.


"Itu hanya dua hari." jawab Dara.


"Bukankah itu cukup lama?" tanya Braga yang semakin mengeratkan pelukannya.


"Dasar gila! lihat saja. akan ku buat keharmonisan kalian menjadi penderitaan." gumam Selli dari kejauhan sembari melihat Dara dan Braga.


"Dia menyeramkan." ujar Jean sembari meremas pundak Jojo.

__ADS_1


"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Hana yang entah dari kapan berada di belakang Jojo dan Jean yang sedang memperhatikan Selli.


Jojo dan Jean terperanjak. memutarkan tubuhnya menghadap ke Hana.


"Kenapa Bibi mengagetkan kami?" tanya Jean sedikit kesal.


"Aku hanya bingung. situasi macam apa ini? Selli sedang mengawasi Mommy dan Daddy kalian. lalu kalian mengawasi Selli. dan aku mengawasi kalian. apa kita sedang main detektif-detektifan?" tanya Hana sembari melipat kedua lengannya ke arah dada.


"Diam lah bibi. aku tahu kau membenci kami. tapi kami tidak sedang mengawasi Bibi kan? jadi apa ruginya untuk Bibi?" tanya Jean setengah berbisik.


"Tenanglah. aku tidak akan ikut campur. aku hanya ingin mengatakan ini. jangan terlalu ikut campur masalah ini. lebih baik tidak membuat Selli marah." ucap Hana dan langsung meninggalkan Jojo dan Jean.


"Apa yang dia katakan?" tanya Jean kebingungan. tangannya menggoyangkan pundak Jojo meminta jawaban.


"Dia mengingatkan kita. dia tahu banyak hal tentang Bibi Selli. dia khawatir tentang keselamatan kita." ucap Jojo sembari terus memandangi punggung Hana yang mulai tak terlihat lagi.


"Dia mengkhawatirkan kita? kenapa? bukankah dia benci kita?" tanya Jean yang semakin penasaran.


"Dia,.. aku tidak yakin. tapi, setidaknya dia tidak menyeramkan seperti Bibi Selli." ucap Jojo sembari menggandeng tangan Jean menuju ruang tamu dimana Dara dan Braga berada.


"Jo,.. apakah Bibi selli memiliki niat yang jahat?" tanya Jean sembari mengambil posisi duduk disamping Jojo yang sedang sibuk dengan ponselnya.


"Kau tidak sebodoh itu kan? Bibi Selli memiliki kemampuan mengendalikan emosi diwajahnya. itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang terbiasa dan terlatih secara alami." jawab Jojo tanpa menatap Jean. matanya lekat menatap layar ponsel.


"Bagaimana caranya kita mencegah dia agar tidak menyakiti Mommy?" tanya Jean yang mulai khawatir. tanganya mulai terasa dingin. membayangkan sesuatu yang buruk menimpa Mommy nya, membuat matanya mulai memerah.


Jojo tersentak mendengar pertanyaan Jean. langsung meletakkan ponselnya. menatap Jean lekat. memegang jemarinya.


"terus awasi dia. sepintar apapun kita, kita hanya anak-anak. pasti ada masanya kita akan tertipu. tapi, kita hanya bisa mencari bukti dan terus mengawasinya. hanya itu yang bisa kita lakukan.


"Bagaimana kalau kita bilang Daddy saja? meskipun kita tidak memiliki bukti, pasti Daddy akan mendengarkan kita." ucap Jean yang semakin terlihat ketakutan.

__ADS_1


"Daddy sudah menyadari itu." ucap Jojo sembari mengingat tatapan kebencian dan kewaspadaan Braga saat pertama kali bertemu dengan Selli pagi hari itu.


"Kenapa Daddy diam? apa Daddy juga takut?" tanya Jean.


"Tidak. bukan takut. Daddy seperti memiliki perasaan tidak tega." ucap Jojo.


"Apa Bibi orang yang penting untuk Daddy?


"Mungkin iya. tapi itu hanya masa lalu Daddy." ujar Jojo. matanya lekat menatap photo keluarga yang berada di atas meja belajarnya.


"Jojo,... aku takut. aku takut Bibi itu akan menyakiti Mommy." ucap Jean dengan suara yang mulai bergetar.


"Tenanglah. aku akan membicarakan ini dengan Daddy nanti. saat seperti ini, lebih baik kita percayakan kepada Daddy." ucap Jojo sembari menepuk punggung Jean yang mulai terisak.


Dikamar Braga dan Dara.


"Mas,.. mungkin ini hanya perasaanku saja. aku merasa Selli itu bukan orang yang baik." ucap Dara sembari mengusap wajahnya menggunakan kapas. duduk didepan meja rias.


"Iya. aku juga tahu. anak-anak juga pasti merasakannya. mereka begitu peka dan pandai. tidak mungkin mereka tidak menyadarinya." jawab Braga sembari meletakkan ponselnya di samping lampu tidur.


"Apa tidak apa-apa membiarkan anak-anak berada disana?" tanya Dara yang mulai bangkit dan berjalan ke tempat tidur.


"Aku akan menanyakan kepada anak-anak besok. aku juga khawatir." ujar Braga sembari merebahkan tubuhnya.


"kenapa Mamamu mengumpulkan perempuan untuk masuk kedalam rumah tangga kita? aku jadi semakin bingung. apa yang sebenarnya Mamamu pikirkan?" ucap Dara sembari ikut merebahkan tubuhnya menyamping menghadap Braga.


Braga menghela nafas. bahkan, dia juga merasa bingung sendiri dengan semua sikap Mamanya.


"tidak tahu. mungkin,.. sudahlah. ini sudah malam lebih baik kita tidur." ajak Braga langsung memeluk tubuh Dara erat.


"Kau masih mencintai Mamamu sama seperti dulu. meskipun sudah tak selalu membela Mamamu, tapi rasa cinta terhadap Mamamu yang berlebihan itu, membuat Mamamu semakin hilang kendali. sedikit demi sedikit, dia menusukkan belati. meskipun terasa sakit, kau tidak akan mempermasalahkannya. itu semua karena cintamu. cinta yang hanya akan membuat hatimu sakit. tidak salah kau mencintai Mamamu. tapi cintamu, membuat Mamamu menjadi seperti monster. aku bahkan selalu berdoa agar tak menjadi seorang Ibu seperti Mamamu." batin Dara.

__ADS_1


"Maaf Dara,.. aku tidak ingin membuatmu berada dalam bahaya. jangan mencari tahu tentang Selli. biarkan aku menyingkirkannya saat sudah menemukan bukti. dan tentang Mama yang selalu ingin memisahkan kita, aku akan terus berusaha membuatnya menerimamu dengan tulus. walau sejahat apapun Mama, dia adalah Ibu yang telah melahirkan ku. aku tidak bisa berlaku kejam padanya. kali ini, percayalah padaku." batin Braga.


..........................


__ADS_2