Ibu Dari Anak Suamiku

Ibu Dari Anak Suamiku
Ketakutan Hana


__ADS_3

Hana terduduk lemas memegangi beberapa lembar kertas ditangannya. Gemetar hingga sekujur tubuh terasa dingin dan mati rasa. Sungguh, akhir pekan yang penuh kejutan.


'Tok...tok....


suara ketukan pintu membuyarkan seluruh angan-angan yang melintasi hati dan pikirannya.


Dengan cepat, Hana memasukkan kembali beberapa lembar kertas yang ia pegang. Memasukkan ke dalam amplop coklat yang ada didekatnya. Menjatuhkan ke lantai dan mendorongnya untuk masuk kedalam kolong tempat tidur.


"Lama sekali membuka pintu. apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Selli saat Hana membuka pintu.


"Tidak ada. aku tadi sedang melepas pakaianku aku akan pergi mandi. Aku perlu memakai kembali pakaianku sebelum membuka pintu kan?" Tanya Hana sembari berpura-pura membenahi pakaiannya.


"Ada yang harus aku bicarakan." Ucap Selli sembari menatap Hana tanpa ekspresi.


"Bicaralah. Aku tidak akan melarang." Jawab Hana. Sasanya agak sedikit bergetar hatinya mengingat isi kertas yang tadi ia lihat.


"Aku harus masuk." Ucap Selli sembari menggeser tubuh Hana agar mendapatkan celah untuk masuk kedalam kamar.


Hana hanya diam dan mendesah sebal.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Hana sembari menutup pintu.


"Aku tahu, kau ada perasaan tidak suka terhadapku. Tapi jangan sampai kau menghancurkan atau ikut campur dengan masalahku ini. Jika kau macam-macam, aku tida akan segan mencabik-cabik habis hidupmu dan membiarkan mu mati perlahan." Ancam Selli. mata serta wajahnya penuh dengan kesungguhan.


"Hahaha,... sungguh aku sangat merinding. Aku mana berani melakukan itu. Aku sangat mencintai nyawaku yang hanya satu ini." Ucap Hana dengan santai nya.


"Bagus. Kau tahu diri juga rupanya." Ucap Selli sembari tersenyum jahat.


"Iya. Dan kau lah yang benar-benar lupa diri. Ayolah,.. Aku sudah memiliki empat puluh persen tentang dirimu. Jangan terlalu sombong dan arogan. Kau dan rubah tua licik itu sungguh sangat serasi." Batin Hana dalam hati. Bibirnya tersenyum seolah sedang menghormati Selli yang sibuk berbicara entah apa itu Hana tak berniat mendengarkan.


Tiba-tiba ponsel Selli berdering. Tak lama setelah menerima panggilan telepon, Selli pamit untuk menemui Mama yang telah menunggunya dikamar. Dengan cepat, Hana meraih ponselnya untuk mendengarkan percakapan antara Mama dan Selli.


Didalam kamar Mama.


"Kau belum mendapat simpati Braga?" Tanya Mama sembari bangkit dari duduknya.


"Aku masih ingin memakai cara yang lembut." Jawab Selli penuh keyakinan. bibirnya tersenyum seolah tahu bahwa ia akan mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Cara lembut yang kau gunakan terlalu murahan." Ucap Mama yang mulai kesal.


"Biarkan aku melakukan sekali lagi. Jika itu gagal, aku akan melakukan rencana terbesarku. Saat itu tiba, jangan menghalangiku. Dan anda harus membantuku disaat yang tepat nanti." Ucap Selli sembari berjalan mendekati vas bunga mawar yang berada di meja samping jendela. Menyentuh perlahan dan meremas bunga itu dengan kuat.

__ADS_1


"seperti ini. Aku perlu berlaku lembut pada awalnya. aku perlu mengukur seberapa kuat lawan ku dan seberapa banyak yang akan aku dapatkan nanti." Ucap Selli terus meremas bunga itu hingga terlihat kelopak bunga itu mulai berjatuhan.


"Apa maksud mu?" Tanya Mama yang masih belum mengerti.


"Sudah kubilang, kau hanya perlu membantuku diwaktu yang tepat." Ucap Selli sembari melepaskan tangannya. Menghamburkan kelopak bunga itu kelantai.


"ketika aku menghancurkan sesuatu, aku akan membuatnya sangat hancur. Aku tidak mau berbelas kasih ataupun mengenal sabar." Tersenyum licik lalu menginjak kelopak bunga yang kini terjatuh dilantai.


"Dia benar-benar gila." Gerutu Hana sembari mendengarkan percakapan Mama dan Selli.


"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Mama.


"Apa?! tentu saja menyingkirkan beberapa Hama yang mengganggu." Ucap Selli dengan senyum liciknya.


"Siapa yang kau maksud?" Tanya Mama.


"Yang berada didekat tanamanku. Mereka harus di singkirkan. Bukan begitu calon Mama mertua?.


Hana mengepal kuat jemarinya. matanya melotot tajam.


"Dasar gila kalian. Jika rubah itu tidak perduli degan anak-anak Dara, bukan tidak mungkin dia juga akan melakukan hal yang sama terhadap Ameera. Tidak. Aku harus tetap berada dirumah ini. Aku tidak akan pergi sampai tujuanku terpenuhi. Seperti yang aku katakan. Aku akan masuk kedalam permainan kalian." Gumam Hana yang masih mendengarkan percakapan antara Selli dan Mama.


Tiba-tiba pintu terbuka. Dengan cepat Hana menghentikan kegiatannya. Memasukkan ponselnya kedalam laci.


"Ada apa sayang?" Tanya Hana sembari memeluk dan mengelus rambut Ameera. Membayangkan jika sampai terjadi sesuatu kepada Ameera karena Mama dan Selli. Tiba-tiba tangannya menjadi gemetar.


"Hari ini Papa tidak datang ya?" Tanya Ameera yang terlihat sedih.


"Kamu lupa ya sayang? ini kan hari minggu. Papa tidak akan datang." Jawab Hana sembari mengusap kedua pipi Ameera.


"Aku kangen Papa. Ayo kita datang kerumah Papa." Ajak Ameera sembari menarik tangan Hana.


"Tunggu sayang. Tidak bisa. Papa tidak bisa diganggu. Mama temani main saja bagaimana?" Hana mencoba membujuk Ameera yang terlihat sangat sedih.


"Tidak mau!!!... Papa tidak sayang aku. Semenjak Jojo dan Jean datang, Papa selalu menghabiskan waktu bersama mereka. Lalu kapan Papa mau bermain bersamaku?" Tanya Ameera sembari terus terisak.


"Bahkan, dia juga hampir tidak punya waktu untukmu sedari kau lahir." Batin Hana.


"baiklah,... jangan menangis. Mama akan mencoba menghubungi Papa bagaimana?


Ameera menganggukan kepala beberapa kali sembari menyeka air matanya.

__ADS_1


Di apartemen. Dara melihat ponsel Braga yang berdering. Meraih ponselnya dan melihat bahwa Hana yang sedang menghubunginya. Rasanya ingin menolak panggilan itu, tapi penasaran dengan apa yang akan Hana katakan. Dara lalu menerima panggilan itu.


'Hallo mas,.. ini aku. Ameera ingin bertemu dengan mu bagaimana? apa kau sibuk?'


'Mas Braga sedang bermain bersama anak-anaknya.' Jawab Dara.


Hana mengepalkan tangannya. Ingin rasanya mengakhiri sambungan teleponnya. Namun saat melihat wajah Ameera yang begitu berharap, Hana menahan segala emosi yang bergejolak dihatinya.


'Maaf aku mengganggu. Tapi, bisakah Ameera ikut bergabung?' Hana sudah menebak jawaban yang akan Dara ucapkan.


'Tentu saja boleh. Apa mau dijemput?' tanya Dara.


Hana membulatkan matanya terkejut.


"dia tidak menolak? dia mengizinkan Ameera ikut?" Batin Hana.


'Aku akan mengantarnya ke apartemen mu jika boleh.'


'Tentu saja. Tidak masalah. Kami menunggu.


'Baik. Terimakasih.' Hana mengakhiri panggilan teleponnya.


Setelah panggilan telepon berakhir, Hana menggenggam ponselnya kuat. meletakkan nya di dada nya.


"dia tidak menolak? kenapa?" tanya Hana dalan hati.


Beberapa saat kemudian. Hana telah tiba di apartemen Braga dan Dara. ada rasa ragu saat memasuki apartemen itu. Meskipun Dara menyambut Ameera dengan hangat tetap saja membuat perasaan yang sulit dijelaskan oleh Hana.


Braga tersenyum meyambut kedatangan Ameera. langsung mengajaknya bermain bersama diruang tengah. Tinggal Hana dan Dara berada diruang tamu. Melihat Hana yang hanya terdiam, Dara mencoba mengusir kecanggungan diantara mereka.


"Kau mau minum?" Tanya Dara sedikit ragu.


"Tidak. Aku akan segera pergi." Jawab Hana sembari terus menggaruk jempol tangannya menggunakan jari telunjuk.


"Baiklah.


Ada perasaan canggung dan ragu. Tapi, Hana menguatkan dan memberanikan diri untuk bertanya.


"Kenapa kau mengizinkan Ameera kesini?" Tanya Hana. Wajahnya tertunduk tak berani menatap Dara.


"Tentu saja. Dia adalah anak Mas Braga yang berarti anakku juga. Tidak ada salahnya. Bahkan kalau mau setiap hari datang juga bukan masalah bagi kami." Ucap Dara sembari memperhatikan tingkah Hana yang terlihat tidak percaya diri.

__ADS_1


...................


__ADS_2