
Hallo para Readers. Sebelumnya, aku mau ucapin banyak-banyak terimakasih untuk like, coment dan yang sudah mau membaca.
Ini adalah EPS terakhir. Semoga menghibur ya....
Aku merasa ini mimpi. Memandangi mereka saat mereka tertidur, bisa bersama mereka setiap hari adalah mimpiku. Jika ini adalah mimpi, maka aku tidak ingin bangun dari mimpi ku ini. Aku bukan seorang suami yang bisa seperti Super Hero. Aku juga bukan Nabi yang memiliki banyak kesempurnaan. Aku bukan pria yang bisa melakukan segalanya. Tapi aku akan melakukan semua yang aku bisa untuk membahagiakan mereka.
Braga terus tersenyum memandangi kedua anak beserta istrinya. Semalaman tak memejamkan mata sedikitpun. Masih terasa seperti mimpi baginya. Braga mengelus perut Dara perlahan.
"Braga junior..... Kau harus baik-baik saja. Daddy janji,.. Mulai sekarang, apapun yang Mommy dan kamu inginkan Daddy akan memenuhinya." Ucap Braga berbisik didekat perut Dara.
"Kami mau helikopter Daddy." Jawab Dara. Matanya terpejam.
Braga menahan tawanya.
"Ok.
"Kenapa hanya Mommy dan adik yang bisa meminta. Aku juga mau." Ucap Jean seraya bangkit dari posisinya. Mengucek mata agar cepat terlihat sadar.
Braga terkekeh.
"Apa yang kau inginkan tuan putriku?" Tanya Braga sembari mendekati Jean dan mencium pipinya.
"Aku ingin memiliki adik perempuan setelah ini." Jawab Jean tersenyum menatap Braga.
Braga tersenyum mendengar permintaan anak perempuannya.
"Huh!!! anak gadisku, adik laki-lakimu saja belum lahir, kau sudah ingin adik perempuan? Mommy akan kelelahan jika terlalu banyak anak." Jawab Braga sembari mengelus kepala Jean.
"Kelelahan? tidak mungkin. Dulu, saat Mommy bekerja, yang menyiapkan sarapan untukku dan Mommy adalah Jojo. Yang membantuku membaca dan menulis Jojo juga. Mommy tidak sesibuk itu. Jika adik laki-laki ini sudah lahir, aku akan mati membeku menghadapi mereka." Ucap Jean yang mulai cemberut.
"Kenapa kau berpikir begitu?" Tanya Braga bingung.
"Daddy tidak merasa kalau Jojo sangat dingin juga ketus. Setiap berbicara pasti hanya menghina. Kalau adik laki-laki nya seperti Jojo, Daddy bisa bayangkan apa yang akan terjadi denganku?" Ucap Jean sembari menepuk dadanya beberapa kali.
"Tidak,... itu tidak akan terjadi." Braga mencoba menenangkan.
"Nanti saat dia sudah lahir, dia harus punya banyak teman gadis ya Daddy. Aku tidak ingin jadi seperti Jojo." Pinta Jean.
Jojo tersenyum licik dengan mata terpejam.
"Lihat saja. Dia akan menjadi dua kali lipat dari ku." Ucap Jojo masih dengan mata terpejam.
"Daddy....! Daddy dengar itu? dia benar-benar jahat sekali." Ucap Jean sembari menunjuk Jojo.
"Sudah. Hentikan. Kalian sudah bisa berdebat sepagi ini kenapa tidak pergi mandi saja?" Ucap Dara sembari perlahan-lahan mencoba untuk bangkit dari posisinya. Dengan cepat Braga membantu dengan lembut.
"Kalian mandilah. Mommy akan istirahat lebih lama lagi. Daddy akan menemani Mommy. Setelah mandi, pergi sarapan ke bawah dan jangan lupa, katakan pada Bibi agar mengantarkan sarapan untuk Mommy." Ucap Braga sembari mengangkat tubuh anak-anaknya satu persatu agar meninggalkan tempat tidur dan bergegas mandi.
__ADS_1
Setelah Jojo dan Jean pergi untuk sarapan, Braga memeluk Dara dan membantunya untuk merebahkan tubuh. Meletakkan telapak tangannya dan mulai mengelus perut Dara.
"Sayang,... Kalian sudah banyak menderita. Maaf. Ini semua salah Daddy yang kurang bisa melindungi kalian. Mulai saat ini, Daddy akan berusaha sekuat tenaga untuk melindungi mu, Mommy, dan kakak-kakak mu." Braga terus mengelus pelan perut Dara.
"Mas, Ini semua bukan kesalahan mu. Aku tahu kamu sangat mencintai kami. Aku hanya berharap, setelah ini tidak akan ada lagi yang akan menghancurkan kita." Ucap Dara sembari menyentuh wajah Braga.
"Iya. Aku janji. Tidak akan ada lagi." Braga meraih tangan Dara yang sedang menyentuh wajahnya. Menggenggam penuh keyakinan.
Tok.....tok.....tok......
Suara ketukan pintu membuyarkan suasana haru. Braga bangkit dari posisinya dan membuka pintu.
"Maria?" Ucap Braga yang bingung dengan kehadiran Maria. Apalagi, wajah Maria yang tersenyum mengandung banyak arti.
"Selamat pagi Mas Braga yang tampan? Apa kakak ipar ku sudah bangun?" Tanya Maria tersenyum semanis mungkin.
"Sudah." Jawab Braga. Dengan cepat, Maria mencoba menerobos masuk. Sayangnya, ditahan oleh Braga.
"Ada apa? kau tidak boleh mengganggunya." Braga mengancam Maria.
"Aku tidak menyuruhnya meninggalkan tempat tidur. Hanya ada yang,.. yang ingin bertemu." Ucap Maria sembari memalingkan wajah.
"Siapa?
"Biarkan aku bicara dulu dengan kak Dara. Nanti akan ku beri tahu." Ucap Maria yang akhirnya berhasil menerobos masuk.
"Kak Dara,.." Maria berjalan mendekati Dara. Berbisik dikuping Dara.
"Benarkah?" Ucap Dara sembari menatap Maria dengan tatapan penuh tanya.
"Iya. Bagaimana?" Tanya Maria.
Dara tersenyum dan mengangguk. Maria langsung berjalan meninggalkan kamar dengan cepat.
"Apa yang dia mau?" Tanya Braga penasaran. Berjalan mendekati Dara dan duduk dipinggiran tempat tidur.
"Dia bilang, ada yang ingin menemui ku. Dia sangat mengkhawatirkan ku." Jawab Dara.
"Siapa?
"Tidak Tahu. Dia sedang memanggilnya kemari." Jawab Dara sembari tersenyum memandangi wajah suaminya yang terlihat kesal.
"Apa laki-laki?" Tanya Braga sembari membenahi rambut Dara yang sedikit berantakan.
"Tidak Tahu.
Tatapan Dara dan Braga bertemu. Braga tersenyum memandangi istrinya yang terlihat cantik walaupun memang kini sedikit pucat. Braga mencium bibir Dara.
__ADS_1
Ehem....ehem.....
Suara seorang laki-laki membuat Dara dan Braga terperanjak dan menjauh satu sama lain.
"Erick?" Dara terkejut tak percaya. Apalagi saat melihat tangan Maria dan Erick bergandengan.
"Kamu? kenapa ada disini?" Tanya Braga seraya bangkit dari posisinya dan berdiri didepan Erick.
"Aku, tentu saja ingin bertemu Dara. Hai Dara. Apa kamu baik-baik saja? rasanya sudah satu abad aku tidak melihatmu." Ucap Erick. Berjalan mendekati Dara dan memeluknya.
Braga membulatkan mata terkejut. Meraih kerah bagian belakang Erick dan menariknya menjauh dari Dara.
"Jangan berani-beraninya menyentuh istriku." Ucap Braga sembari menatap Erick tajam.
"Ayolah calon kakak ipar. Aku tidak bisa menahan diri karena sangat merindukan Dara. Aku tidak akan berbuat lebih." Ucap Erick membujuk Braga agar tak marah.
"Calon kakak ipar? apa maksut mu?!" Tanya Braga bingung.
"Mas, aku dan Erick berpacaran." Ucap Maria sembari memamerkan genggaman tangannya ke atas dengan bangga.
"Kau? dan orang ini?" Braga mendesah tak percaya.
"Tidak boleh!" Tegas Braga.
"Kapan kalian saling mengenal?" Tanya Dara.
"Saat kakak dikabarkan menghilang, dia setiap hari datang untuk menanyakan kabarmu. Lama kelamaan aku terpaksa menghiburnya karena aku bosan melihat dia datang setiap hari. Akhirnya jadi seperti sekarang ini." Jawab Maria. Dara tersenyum menatap Maria.
"Mas, tidak apa-apa. Asalkan mereka bahagia, kita hanya boleh mendukungnya." Ucap Dara sembari meraih jemari Braga dan menggenggamnya.
"Iya. Yang dikatakan kak Dara itu baru benar Mas." Timpal Maria. Erick hanya tersenyum.
"Baiklah. Berhubung aku sudah berjanji kepada Dara dan bayi kami untuk memenuhi semua keinginannya, maka aku tidak akan menolak." Ucap Braga pasrah.
"Baguslah. Kalau begitu, kami akan menikah dua bulan lagi." Ucap Maria girang.
"Terserah." Jawab Braga yang tak mau lagi banyak bicara.
"Hahahaha,.... kau benar-benar yang terbaik ucap Maria. Sembari menarik tangan Erick untuk mengajaknya keluar dan membiarkan Dara kembali beristirahat.
"Dara, aku bahagia jika kau bahagia. Aku sadar jika cinta memang tidak harus memiliki. Melihatmu kembali dan baik-baik saja, hatiku rasanya sangat lega. Aku memang tidak bisa mencintai wanita lain selain dirimu. Aku hanya ingin didekat mu. Menyaksikan hidupmu yang bahagia. Dan untukmu Maria. Maafkan aku. Aku akan berusaha mencintaimu." Batin Erick seraya melangkahkan kaki menjauh dari kamar Dara.
"Erick, aku tahu apa maksut mu. Tapi cobalah untuk mencintai Maria. Aku akan berterimakasih jika kau benar-benar bisa mencintai dan membahagiakannya. Aku mendoakan kalian bahagia. Dara.
Satu bulan berlalu. Braga menjadi suami yang siaga. Bahkan ditengah malam ia sering keluar rumah untuk membeli makanan yang diinginkan Dara. Tak pernah mengeluh. Braga menikmati dan menjalaninya dengan bahagia. Memberikan yang terbaik yang bisa ia lakukan. Melindungi dan menebus tiap rasa sakit yang di alami oleh istri dan anak-anaknya adalah misi hidupnya saat ini.
THE END.
__ADS_1