Impian 3 Dara

Impian 3 Dara
Bab 10 Kesedihan Mini


__ADS_3

"Sambel goreng? Ada apa dengan sambel goreng kak?" tanya perempuan itu dengan wajah penasarannya. Gadis itu bangun dari sajadahnya kemudian menyimpan mushafnya di sebuah rak buku tak jauh dari tempatnya sekarang.


"Pokoknya kamu gak boleh makan sambel gorengnya. Ini perintah!" Zion mendengus dan meninggalkan istrinya yang masih nampak sangat bingung itu.


"Ah, ada-ada saja. Kenapa pula aku tidak boleh memakan sambel gorengnya? Aku kan sangat suka." Mini berucap sendiri kemudian menarik nafas panjang. Suaminya benar-benar sangat aneh. Ia yakin Zion sedang berada di dimensi lain sekarang hingga ia semakin tak bisa mengenalinya.


Kriuk


Kriuk


Mini meremas perutnya yang ia rasakan melilit sakit karena lapar.


"Waduh, kok aku langsung lapar gara-gara nyebut-nyebut sambel goreng ya?" ujarnya pelan. Bayangan sambel goreng buatan kakak iparnya kini semakin mengganggu selera makannya.


"Bang Ferry emang paling jago masak. Harusnya ia buka restoran aja dan tidak perlu bekerja di Perusahaan," ujarnya pelan. Tapi kemudian ia jadi tersenyum sendiri saat mengingat bagaimana ekspresi suaminya yang sedang marah-marah karena sambel goreng.


"Hum, dasar kak Iyon. Suka gak jelas, tapi kok aku semakin sayang saja padanya ya," ucapnya lagi dengan dada berdebar tak karuan.


"Aku langsung sholat isya aja deh setelah itu aku baru keluar. Makannya mungkin bisa lah ditunda," ujarnya lagi kemudian meraih air mineral untuk diminum dan mengganjal perutnya.


Setelah shalat, ia pun keluar dari kamarnya dan menuju ke ruang makan. Selera makannya semakin memuncak karena melihat dan mencium aroma masakan mertuanya.


"Wow, harum banget masakan Mami. Bikin aku lapar banget," ujar Mini saat sampai di dalam ruang makan. Hidungnya terus menghidu aroma makanan yang ada di atas meja makan.


"Ya makan aja sayang, semua kami buat untuk kamu kok, tapi ngomong-ngomong Iyon mana sayang?" tanya Rossy pada sang menantu. Perempuan paruh baya itu memandang ke sekeliling ruangan dan melihat kalau putra keduanya itu tidak berada di sana.


Gadis itu tersenyum kemudian berbalik. Ia yakin telah melihat suaminya sedang berada di depan pintu dapur tadi, tapi kok tiba-tiba menghilang ya? tanyanya dalam hati.


"Gak tahu Mi. Kok tiba-tiba tidak ada di sini ya?" jawabnya dengan dahi mengernyitkan bingung.

__ADS_1


"Ya gak apa-apa. Kamu makan saja. Udah lapar 'kan!" timpal Ferry seraya mengatur beberapa menu sederhana tapi sangat lezat itu diatas meja.


"Iya bang. Aku lapar banget," jawab Mini seraya ikut membantu pria itu. Mereka berdua akhirnya tampak sibuk mengambil ini dan itu untuk persiapan makan malam di rumah itu. Mereka berdua mengobrol dengan sangat seru sampai tidak sadar kalau Zion sudah ada diantara mereka bertiga.


Zion mendudukkan tubuhnya di samping istrinya yang baru juga duduk setelah bersibuk-sibuk menata semua makanan diatas meja.


"Kak, aku isikan lauk yang mana?" tanya Mini dengan tatapan penuh cinta pada suaminya. Zion hanya tersenyum tipis kemudian melirik Ferry dengan ekor matanya. Ia tersenyum miring dan kali ini ia ingin memperlihatkan kalau Mini adalah miliknya seorang.


"Aku mau bistik daging buatan mami aja," jawabnya. Mini pun mengisi piring suaminya dengan nasi putih dan juga lauknya.


"Sambel goreng mau gak?" tanya istrinya itu dan langsung membuat dirinya berasap. Ia sangat alergi dengan kata samber goreng, apalagi itu buatan kakaknya.


"Aku bilang jangan sebut dan bahkan makan sambel gorengnya!" bentaknya pada sang istri. Mini tersentak kaget dibuatnya.


Gadis itu tak menyangka kalau suaminya benar-benar serius dengan perkataan tentang sambel goreng itu. Tangannya langsung berhenti di udara. Ia tidak jadi mengambil apa yang ia inginkan. Ferry yang melihat ekspresi Mini yang sangat menyedihkan seperti itu langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri mereka.


"Kamu kenapa sih Yon!" tanya Ferry dengan wajah mengeras marah. Ia tidak suka kalau Mini diperlakukan seperti itu oleh orang lain meskipun itu adiknya sendiri.


"Hey, Mini 'kan suka semua masakan ini. Jadi kenapa tidak? Kamu itu kenapa sih?!" Ferry juga menatap sang adik dengan tatapan tak kalah tajam.


"Kamu yang kenapa bang?! Kamu yang terlalu banyak mencampuri urusan kami. Jadi mulai sekarang, hentikan! Atau kamu akan lihat siapa Aku!" Zion berdiri dari duduknya kemudian meninggalkan meja makan. Ia menarik tangan istrinya untuk meninggalkan tempat itu.


"Yon! Makan dulu nak!" Rossy memanggil putranya itu dengan dada sesak. Ia tidak suka melihat kedua putranya berseteru seperti ini di meja makan.


Zion tidak mendengarkan panggilan Ibunya. Ia terus saja melangkah meninggalkan ruang makan dengan wajah marah.


"Kak?!" Hanya kata itu yang bisa diucapkan oleh Mini dengan kejadian yang sangat tiba-tiba ini.


"Kenapa? Kamu gak mau ngikutin suami kamu?!' tanya Zion dengan tatapan tajam pada sang istri. Mini mengkerut takut. Ia tidak lagi berbicara sampai mereka berdua sampai di dalam kamar mereka.

__ADS_1


"Kak, kamu gak kasihan sama Mami? Ia sudah masak capek-capek lho," ujar Mini berusaha untuk membujuk suaminya untuk kembali ke ruang makan. Mereka sudah duduk sama-sama dengan hanya diam saja padahal perutnya saat ini sangatlah lapar.


"Kamu kasihan sama mami atau bang Ferry hah?" Mini menelan ludahnya kasar. Ia sekarang mulai mengerti kalau suaminya tenyata tidak begitu akur dengan Ferry, kakak iparnya.


"Kak, aku kasihan sama mami. Ia sudah masak makanan kesukaan kamu dan akhirnya seperti ini, aku takut mami kecewa." Mini masih terus berusaha memberikan alasan untuk kembali ke ruang makan.


"Bukan hati mami yang kamu pikirkan Min, tapi hati bang Ferry. Kamu lebih perhatian padanya 'kan?!" tatap Zion pada sang istri.


"Astagfirullah. Kamu kok ngomong seperti itu kak? Aku tidak mungkin memiliki perhatian lebih pada seseorang selain kepada suamiku sendiri."


"Lalu?"


"Lalu apa kak?" tanya gadis itu seraya menatap suaminya dengan intens.


"Kenapa kamu ingin memakan semua makanan buatannya? Dan menunjukkan kalau kamu tidak mendengarkan perintahku."


"Kalau itu sih, karena aku lapar kak. Aku ingin makan apa saja yang tersedia diatas meja."


"Kalau begitu keluarlah. Kamu bisa makan bersama mereka. Maafkan aku," ujar Zion kemudian meraih gawainya dan berusaha untuk tidak membalas tatapan istrinya itu.


"Ya Allah kak. Kamu kenapa sih? Kamu selalu membuat aku bingung. Apakah ini kak Iyon yang aku kenal?" Mini meraih gawai yang sedang dipegang suaminya agar perhatian pria itu bisa kembali padanya.


"Keluarlah Min. Atau aku akan berubah pikiran dan membuatmu kelaparan di sini!" Mini tiba-tiba merasakan hatinya nyeri. Ia pun menyusut airmatanya dan meninggalkan kamarnya itu.


🌻🌻🌻


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2