
Zion Sakti memasuki kamarnya dengan langkah gontai. Ia benar-benar merasakan kalau tubuh dan hatinya sedang tidak baik-baik saja sekarang. Rasa lelah dan gerah ia rasakan setelah mengalami banyak hal seharian ini. Dan tempat yang sangat ingin ia datangi adalah kamar mandi.
Di dalam kamar itu isterinya yang cantik sudah menunggunya dengan tampilan yang berbeda dengan yang tadi. Mini tampak sudah sangat segar dan harum. Rupanya gadis itu telah membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya menjadi pakaian tidur.
Berbeda dengan dirinya yang sangat kacau dan mungkin sangat bau saat ini. Sore tadi ia menyempatkan dirinya untuk singgah di sebuah perusahaan yang membutuhkan seorang security. Baru saja mendaftar, ia langsung mendapatkan tes fisik dan alhasil terlambat menjemput sang istri.
"Aku mau mandi Min, handuknya ada dimana sayang?" ucapnya seraya membuka jaket kulitnya. Mini yang sedang duduk di depan meja riasnya langsung berdiri dan memberikan selembar handuk baru dari dalam lemari pakaian mereka.
"Ini kak," ujar Mini seraya menyerahkan handuk itu pada sang suami. Zion meraihnya dan langsung menuju ke kamar mandi. Mandi diwaktu malam seperti ini sebenarnya tidak baik untuk kesehatan tetapi ia harus melakukannya atau istrinya akan tidak nyaman dengannya.
Mini hanya menatap punggung suaminya dengan tatapan kosong. Ia tahu kalau suasana di dalam rumah itu sedang tidak kondusif sekarang. Dan tugasnya adalah membuat suaminya tenang dan bahagia.
Zion keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang diberikan oleh istrinya tadi. Nampak sekali kalau ia sudah bersih dan juga segar. Menggosok rambutnya yang basah dengan handuk kecil, ia pun membuka lemari dan mencari pakaian yang akan ia pakai.
"Pakaian kakak udah aku siapkan," ujar Mini seraya memberikan satu set piyama untuk pria itu. Zion tersenyum kemudian meraih pakaian itu dan memakainya di depan sang istri.
"Kak, ya ampun. Berpakaian itu di dalam kamar mandi gak usah disini juga," ujar Mini seraya mengalihkan pandangannya ke arah lain. Zion hanya tersenyum. Ia tahu kalau istrinya masih malu-malu dengan apa yang dilakukannya saat ini.
"Aku pikir aku sekarang sudah bebas membuka dan memakai pakaian di depanmu. Bukankah kamu sudah pernah melihat semua yang ada pada diriku sayang?" tanya Zion dengan senyum yang masih melekat di wajahnya.
Mini langsung merasakan dadanya berdebar hanya dengan mendengar kata-kata seperti itu dari suaminya. Ia langsung berlari ke arah ranjang karena merasa sangat malu. Zion tersenyum. Setidaknya dengan melihat wajah malu-malu istrinya, beban pikirannya bisa sedikit terobati.
"Kak, kamu udah makan?" tanya Mini saat Zion duduk di sampingnya di bibir ranjang mereka.
"Ah iya, aku lupa kalau belum makan. Tapi kalau dekat denganmu seperti ini aku ternyata sudah merasa kenyang."
"Ish, kamu pintar gombal kak," ujar Mini dengan wajah semakin menghangat malu. Dadanya pun berdebar sangat keras.
__ADS_1
"Kamu gak suka ya sayang?" tanya pria itu seraya meraih tangan sang istri dan menggenggamnya. Ia membawa tangan putih dan mulus ke bibirnya dan mengecupnya lembut.
"Suka kak. Tapi Kak Iyon makan dulu ya, nanti masuk angin lho," jawab perempuan itu dengan senyum diwajahnya.
"Aku akan siapkan makan untuk kakak, ayo," lanjutnya seraya menarik tangan suaminya untuk berdiri dari duduknya.
"Aku hanya ingin makan kamu Min. Kamu pasti sangat lezat sayang." Zion menolak. Rasanya ia sedang tak ingin makan di dalam rumah itu lagi. Ia tidak Ingin membebani keuangan keluarganya.
"Kak, Ayolah. Aku temenin kamu makan. Gak enak lho kalau begadang dan kelaparan." Mini terus saja memaksa sang suami agar mau mengikutinya ke ruang makan.
"Gak usah sayang, aku gak lapar kok." Pria itu tetap menolak dengan sangat halus. Ia tidak ingin istrinya tahu apa yang sedang terjadi dengan keluarganya saat ini.
"Kalau kakak tidak mau. Makan kue aja gimana?" usul sang istri dengan wajah memohon. Ia tahu betul kalau suaminya sedang tidak ingin bergabung dengan semua anggota keluarga untuk makan bersama.
"Emangnya kamu ada kue?" Zion menatap istrinya itu dengan tatapan intens.
Sebuah kotak kue ia ambil dari dalam tasnya dan dibawanya ke hadapan suaminya. Ia pun mempersilahkan pria yang sangat dicintainya untuk makan.
"Nih puding coklatnya enak banget deh kak. Coba ya," ujar Mini seraya menyuapkannya pada Zion. Pria itu pun membuka mulutnya. Sungguh, ia sangat bahagia karena istrinya begitu baik padanya.
Setelah ia menghabiskan beberapa potong cake dan juga segelas susu kotak yang diberikan oleh sang istri. Zion pun menatap Mini dengan intens.
"Apa kamu bersedia menemani aku selamanya sayang?" tanyanya. Mini tersenyum dan membalas tatapan suaminya.
"Tentu saja kak. Aku adalah istrimu yang sudah kamu nikahi. Aku milikmu. Aku bersedia menemanimu sampai ajal menjemput."
"Meskipun aku tidak bisa menafkahimu dengan baik?" tanya Zion lagi tanpa melepaskan tatapannya pada mata indah Mini.
__ADS_1
"Hahaha, kakak terlalu serius nih sepertinya. Yang penting kakak mau menafkahiku, aku sudah sangat bersyukur kak. Tak peduli itu hanya sepotong roti dan segelas air putih. Begitu kan maksud kakak?"
"Min, aku tidak punya apa-apa sayang. Aku adalah seorang pria miskin dan sangat menyedihkan. Aku mungkin tidak bisa menjadi seorang suami seperti yang kamu harapkan." Pria itu membuang nafas pelan.
"Kak, aku merasa kamu sangat aneh akhir-akhir ini. Tapi tak apa, aku anggap ini karena kakak sangat lelah dan butuh hiburan." Mini berucap dengan bibir menahan untuk tidak tertawa. Suaminya tampak begitu sangat melow seperti sedang melakukan adegan di sebuah sinetron.
"Aku serius sayang, apa yang kamu lihat di rumah ini adalah bukan milik aku. Semua ini adalah milik bang Ferry. Dan aku tidak punya hak samasekali di sini."
"Kak, kamu ngomong apa sih?" Mini berusaha mencerna kata-kata dari suaminya itu yang terkesan sangat baper. Ia yakin ini pasti ada hubungannya dengan perkelahian pria itu dengan kakak iparnya.
"Ini beneran sayang, sesungguhnya aku hanyalah anak angkat dari mama. Dan itu berarti aku sudah sangat beruntung karena telah diberikan kesempatan untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak di rumah ini."
Dada Mini berdebar dengan sangat kencang mendengar kabar yang sangat mengejutkan ini. Ia sungguh tidak percaya dengan apa yang baru saja disampaikan oleh sang suami.
"Kak? Kamu tidak sedang bercanda 'kan?" tanyanya setelah berhasil menguasai perasaannya.
"Tidak sayang. Dan insyaallah aku akan bekerja sebagai sekuriti mulai besok."
"A-apa?"
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading π
__ADS_1