
"Naomi! Aku senang sekali say, Kak Zain dan keluarganya akan datang untuk melamarku!" teriak Cici dengan suara histeris. Ia muncul di depan pintu kamar dengan ekspresi yang sangat bahagia. Datang memeluk sang sahabat kemudian menciumi pipi gadis itu yang sedang memakai masker lumpur.
"Aaaaas tidaaaak! Bibirku jadi ternoda aaaaa!" Cici kembali berteriak karena permukaan bibirnya langsung kotor menghitam.
"Kamu merusak masker ku Ci!" Naomi ikutan histeris. Ia menatap wajah sahabatnya itu dengan tatapan membunuh.
"Ampun Nom, aku tidak lihat kalau kamu sedang pakai masker. Kamu kan sedang membelakangi ku," ucap Cici memberi alasan.
"Kamu asal nyosor tahu gak?" Naomi masih tampak kesal dibuatnya. Cici jadi tidak enak hati. Ia pun menghampiri gadis itu lagi untuk meminta maaf. Ia tak menyangka kalau ekspresi gembiranya justru berakibat tidak baik bagi sahabatnya.
"Maafkan aku Nom. Aku bisa kok bantu kamu memakai masker itu lagi." Cici menatap sang sahabat dengan perasaan menyesal.
"Gak usah. Aku sekarang ingin tidur saja. Kamu matikan aja lampunya kalau udah mau tidur." Naomi langsung meninggalkan Cici dan naik ke tempat tidur.
"Nom, kamu beneran marah?" tanya Cici saat ia sudah berbaring di ranjangnya sendiri. Tepatnya di sebelah ranjang Naomi. Suasana kamar tidur itu sudah berubah jadi remang-remang karena Cici sudah mematikan lampu nya. Hanya lampu tidur kecil yang menerangi seluruh kamar itu.
"Naomi Harun!" panggil sang sahabat dengan wajah serius karena gadis itu tidak menggubris pertanyaannya.
"Gak Ci'. Aku tidak marah. Jadi tidurlah. Aku sudah sangat mengantuk sekarang." Cici pun diam. Ia berusaha untuk tidur meskipun ia merasa kalau Naomi sepertinya sedang kesal padanya. Ia pun berusaha untuk tidur dan berharap sahabatnya bisa normal lagi esok harinya.
Sementara itu masih di malam yang sama, di kamar yang berbeda. Mini dan Zion saling bertatapan dengan perasaan gelisah.
"Kak Iyon belum tidur?" tanya perempuan itu pada sang suami. Pria itu hanya tersenyum tipis kemudian balas bertanya.
"Kamu juga sayang, kenapa belum tidur?" tanya pria itu seraya berusaha bangun dari posisinya.
"Gak tahu kak, aku kok gak ngantuk ya." Mini menjawab seraya ikut bangun.
"Lho, kok malah bangun," balas Zion dengan tatapan intens pada sang istri.
"Aku mau minum, kak Iyon mau juga?" Mini bertanya seraya bergerak turun dari ranjang itu. Pria itu pun ikut turun dan mengikuti sang istri.
"Airnya habis, aku ambil di dapur dulu ya kak," ujar Mini saat mengangkat sebuah botol yang sudah kosong dari atas meja di dalam kamar mereka. Zion hanya mengangguk karena ia sedang ingin ke kamar mandi untuk buang air kecil.
__ADS_1
Mini pun keluar dari kamar menuju ke dapur untuk mengisi botol yang ada ditangannya. Suasana di luar ternyata cukup gelap karena beberapa lampu ternyata sudah dimatikan. Hanya ada satu lampu saja dari arah beranda samping yang memberikan sinar ke dalam rumah melalui celah-celah fentilasi udara.
"Aaaaw!" Mini berteriak kaget karena tiba-tiba saja merasakan seseorang memeluknya dari belakang.
"Mini, aku menunggumu di dapur ini seharian," ujar orang tersebut dengan suara yang sangat rendah bagai bisikan. Perempuan itu tersentak kaget karena tidak menyangka kalau kakak iparnya berani menyentuhnya seperti itu. Ia pun dengan cepat memberontak dan berusaha melepaskan dirinya.
"Abang? Maaf? Kamu sungguh tidak sopan!" Mini menatap pria itu dengan emosi yang memenuhi kepalanya.
"Mini, maafkan aku. Ini hanya reflek saja. Aku tidak bermaksud untuk tidak sopan padamu." Ferry berusaha untuk meminta maaf. Ia berjalan mendekat dan ingin meraih kembali tangan perempuan cantik itu yang hanya menggunakan pakaian tidur yang sangat tipis.
"berhenti disitu bang! Jangan sampai aku lupa diri!" teriak Mini dengan tangan mengacungkan botol yang sedang dipegangnya.
"Hey, ada apa? Bukankah aku sudah meminta maaf? Aku janji, yang tadi itu hanya gerakan reflek saja. Dan kumohon untuk tidak marah padaku seperti itu." Ferry terus berusaha membujuk perempuan itu agar mau bersikap seperti biasa padanya.
"Tidak bang. Jangan mendekat. Aku tidak suka dengan tingkah abang yang seperti itu." Mini masih saja mengayun botol ditangannya dengan tubuh mundur ke belakang.
"Mini ada apa denganmu? Aku ini keluarga dekatmu. Selama ini kita akrab. Lalu kenapa sekarang kamu malah berusaha menghindar hem?" Ferry sepertinya tidak peduli dengan peringatan dari adik iparnya itu. Ia terus melangkahkan kakinya mendekati Mini yang sudah tidak bisa bergerak karena punggungnya sudah menempel dengan dinding.
"Abang, ini tidak benar. Pergi dari sini!" teriak Mini dengan suara keras. Ia berharap pria itu menghentikan langkahnya dan membatalkan niat apapun yang ada di dalam hatinya. Akan tetapi Ferry tetap saja meringsek maju.
"Aaaaw!" Ferry tiba-tiba mengerang sakit karena botol kaca yang dipegang oleh Mini sudah berhasil mendarat di kepala Ferry.
"Mini, kamu berani memukulku?" tanya Ferry dengan rahang mengeras.
"A-aku..." Mini tak sanggup berkata-kata. Ia tampak sangat ketakutan karena di depannya darah segar tampak mengalir dari dahi pria yang sudah ia pukul itu.
Bugh!
"Aaargh!" erangan sakit terdengar kembali dari mulut Ferry. Tubuhnya terhuyung ke samping karena sebuah pukulan dari tangan kuat Zion Sakti mendatar di rahangnya.
"Aku bahkan berani membunuhmu sekarang juga. Brengsek!" Teriak pria itu kemudian kembali memberikan tendangan yang cukup keras pada tubuh sang kakak.
Lampu tiba-tiba menyala bersamaan dengan teriakan histeris Rossy sang mama.
__ADS_1
"Astaghfirullah. Ada apa lagi ini? Kenapa kalian berdua selalu saja seperti ini hah?!" Perempuan paruh baya itu langsung meraih tubuh Ferry yang sudah berbaring di lantai dengan keadaan yang sangat mengenaskan. Darah semakin banyak keluar dari kepalanya.
"Yon! Kamu tak punya perasaan! Kamu tidak punya rasa kasihan pada abangmu sendiri!" Rosy menatap wajah putra keduanya itu dengan tatapan marah.
"Lihatlah apa yang terjadi padanya! Kamu selalu saja membuat masalah!" Rossy berteriak dengan tangan berusaha membantu putra pertamanya itu untuk bangun.
"Dia yang salah Mam, istriku selalu saja diganggu nya." Zion membalas dengan wajah yang masih tampak marah tetapi ia tetap membantu abangnya itu untuk bangun dan memapahnya ke arah kursi. Darah di keningnya harus segera ditahan karena luka pukulan oleh tangan Mini.
"Istrimu itu yang keluar kamar dengan penampilan seperti itu tentu saja bisa menimbulkan fitnah. Jadi jangan salahkan Abang mu." Rossy memandang sekilas pada Mini yang masih berdiri di tempatnya dengan wajah pias. Nampak kalau saat ini Rossy sedang menyalahkan sang menantu.
"Ayo kita ke rumah sakit sekarang juga. Luka ini pasti sangat dalam. Dan kamu Min, kamu harus bertanggung jawab dengan ini semua." Rossy menatap Mini kembali dengan wajah mengeras.
Ia baru melihat kalau ditangan sang menantu terdapat sebuah botol yang ia pastikan telah digunakannya memukul kepala Ferry. Mini tercekat dengan tubuh gemetar takut. Air mata pun kini keluar dari kelopak matanya.
"Maafkan aku Mam, ini kulakukan karena aku membela diri hiks," jawab perempuan itu dengan tangis sesenggukan.
"Ah sudahlah. Sejak ada kamu dalam kehidupan keluarga kami, masalah jadi datang bertubi-tubi pada keluarga ini."
"Mama!" Zion langsung menegur sang mama karena khawatir istrinya akan semakin bersedih.
"Ayo cepat berangkat. Nyawa abangmu sekarang lebih penting!"
"Iya mam. Dan Mini, kamu jaga rumah ya sayang," ujar Zion dengan tatapan teduh nya pada sang istri.
"Iya kak, hati-hati." Mini berucap seraya menyusut air matanya.
Rossy dan Zion pun meninggalkan rumah itu diiringi tatapan sedih dari Mini Geraldine. Perempuan itu mengunci pintu rumah kemudian melanjutkan tangisnya di dalam kamarnya.
🌻🌻🌻
*Bersambung.
Hai readers tersayang, like dan komentarnya dong.
__ADS_1
Eh, jangan lupa kasih hadiahnya yang banyak ya, agar othor semangat update nya.
Nikmati alurnya dan Heppy reading 😊