
"Sayang, bangun. Ini sudah pagi," bisik Zion ditelinga sang istri. Ia menyentuh pipi perempuan cantik itu dan mengelusnya dengan lembut.
Mini pun perlahan membuka kelopak matanya. Ia menatap suaminya dengan tatapan kosong. Nyawanya belum terkumpul dengan benar apalagi perasaannya juga belum terlalu baik pagi ini.
Semalam perempuan itu tidur dengan diantar oleh tangis sehingga rasa sedih itu masih sangat tampak diwajahnya.
"Ayo sayang, bangun. Sholat subuh dulu trus kita berangkat," ajak Zion dengan senyum diwajahnya.
"Ah iya kak. Aku akan berwudhu' terlebih dahulu." Mini pun bangun dari posisinya. Ia segera berlari ke kamar mandi untuk menggosok giginya kemudian mengambil air wudhu untuk sholat subuh.
"Kakak sudah sholat ya?" tanyanya pada sang suami yang hanya duduk di bibir ranjang dengan pakaian seragam yang sudah lengkap.
"Sudah. Maaf aku tidak membangunkan kamu," jawab Zion tersenyum.
"Oh iya kak. Aku sholat dulu kalau begitu," ucap perempuan cantik itu kemudian segera memakai mukenanya. Ia pun sholat sebanyak dua rakaat.
Setelah shalat, ia pun menghampiri sang suami. Perempuan itu duduk di samping Zion dan menatap pria tampan itu yang sedang menatap layar handphonenya.
"Kak," panggilnya.
"Hem?"
"Kakak pulang jam berapa semalam?"
"Aku pulang sekitar pukul 2 dini hari. Aku tidak tega membangunkanmu sayang," ujar pria itu seraya menyimpan benda pipih elektronik miliknya ke dalam saku celananya.
Ia pun berdiri dan mengajak istrinya untuk berdiri juga.
"Sayang, aku sudah menyiapkan semua pakaian kita di dalam tas itu," ujarnya seraya menunjuk dua buah koper di dekat lemari yang ada didalam kamar itu.
"Kak, maksud kamu apa?" tanya Mini dengan suara tercekat.
"Kita akan keluar dari rumah ini. Jadi persiapkan dirimu sekarang." Zion menjawab setelah menciumi pipi istrinya itu.
"Ya Allah, ada apa kak? Kenapa kita harus pergi dari rumah ini? Apakah ini karena insiden semalam?" Mini bertanya dengan wajah bingungnya.
"Rumah ini bukan milik kita sayang. Kita hanya menumpang di sini. Jadi sekarang kita harus pergi mumpung masih sangat gelap," jawab Zion seraya memakaikan sebuah jaket pada istrinya. Sepulang dari rumah sakit semalam, ia sudah memutuskan untuk pergi karena Ferry juga telah mengusirnya keluar dari rumah itu.
Sebenarnya ia ingin pergi pada malam itu juga tetapi ia tidak tega membangunkan sang istri yang masih terlelap.
"Kak, apa kata mama nanti. Apakah ini tidak terlalu terburu-buru!"
__ADS_1
"Mini sayang, ayo cepetan. Aku harus masuk kerja jam 7 pagi sayang. Aku tidak mau terlambat pada hari pertama aku bekerja."
Mini pun menurut dan tidak ingin membantah sang suami.
Perempuan itu segera mengambil mukena yang sudah ia gunakan tadi dan memasukkannya ke dalam tas yang masih kosong. Hijab pun tak lupa ia pakai.
Dengan tatapan nanar pada seluruh ruangan kamar itu, ia pun segera mengikuti langkah suaminya yang sedang membawa dua koper terlebih dahulu ke depan beranda.
Ia harus ikut pada suaminya kemanapun pria itu mengajaknya.
Zion menatap rumah tempat ia hidup dan tumbuh itu dengan perasaan yang sangat sedih.
Ferry, anak kandung dan pewaris satu-satunya peninggalan sang papa telah memintanya untuk pergi dari rumah itu sebelum pria itu pulang dari rumah sakit.
Dan ia tak punya hak untuk menolak atau membantah karena ia hanyalah anak angkat seperti yang ia dengar.
Dua orang itu akhirnya pergi dengan menggunakan motor. Dan tentu saja Zion merasa kalau itulah jalan terbaik yang seharusnya mereka ambil disebabkan karena jika bertemu lagi dengan Ferry maka ia akan selalu membuatnya marah dan kesal.
"Apakah ada rumah yang akan kita tinggali kak?" tanya Mini seraya merapatkan jaket pada tubuhnya. Rupanya cuaca di luar jalanan pagi itu masih sangat dingin menusuk tulang. Ia pun tak segan-segan memeluk suaminya dari belakang.
"Ada. Bukan rumah sih, tapi hanya sebuah kamar sempit di Perusahaan," jawab Zion berusaha untuk tetap baik-baik saja meskipun hatinya saat ini sedang terguncang.
Tanpa terasa, mereka pun sampai di depan gedung pencakar langit tempatnya akan menjadi seorang security.
"Iya. Dan bagian HRD memberi kita tempat dilantai satu yang biasa digunakan sebagai gudang. Kamu tidak masalah 'kan sayang?" jawab pria itu seraya menurunkan dua koper dari bagian depan motornya.
"Tidak kak. aku tidak masalah kak yang penting kamu selalu membawaku kemanapun aku akan ikut." Mini menjawab dengan tangan meriah salah satu koper kecil itu.
"Terima kasih banyak ya Min. Aku sangat senang sekali."
"Iya kak. Aku juga senang karena kakak mau mengajak aku untuk menemanimu." Mereka berdua saling melempar senyum dengan hati mengharu biru.
Zion pun melangkah ke dalam gedung dengan tangan menggenggam tangan istrinya.
Karena tugasnya sebagai security maka ia sudah mendapatkan akses untuk memasuki gedung itu secara bebas. Ia bahkan mempunyai kunci pada ruang-ruang tertentu di dalam gedung itu.
Ceklek
Pria itu memutar hendel pintu sebuah ruangan di lantai satu yang cukup berada paling belakang di lantai itu. Pintu itupun terbuka. Mereka bisa melihat bahwa ruangan itu lumayan kotor.
"Masuklah sayang dan tunggu aku disini ya. Aku akan mencari sapu agar kamu bisa membersihkannya."
__ADS_1
"Iya kak," jawab Mini dengan senyum diwajahnya.
Perempuan itu pun masuk ke dalam ruangan yang berukuran kira-kira 4X5 m itu dengan perasaan miris. Hatinya sangat sedih tetapi ia tak ingin menunjukkannya kepada suaminya. Ia tak mau kalau Zion semakin terpuruk dan merasa bersedih dengan keadaan mereka sekarang.
"Ini sapu dan kain pelnya sayang. Aku minta maaf karena tidak bisa menemanimu membersihkan ruangan ini karena sebentar lagi apel pagi akan dilaksanakan di depan perusahaan ini. Dan aku tidak ingin terlambat karena ini hari pertama aku bekerja."
"Iya kak. Tidak masalah. Ruangan ini tidak terlalu luas jadi aku bersihkan sendiri pun aku pasti bisa," senyum sang istri.
Zion tersenyum kemudian melangkah mendekati istri yang memicu bibir istrinya itu dengan sangat lembut dan mengucapkan terima kasih.
"Aku pergi ya sayang. Pintunya ditutup aja dan usahakan untuk tidak keluar dari ruangan ini ya karena sebentar lagi akan banyak karyawan yang akan masuk ke dalam gedung ini."
"Iya kak. Aku mengerti kok." Mini sekali lagi tersenyum. Ia pun meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangannya.
"Selamat bekerja kak," ucapnya mengiringi langkah suaminya meninggalkan dirinya di ruangan sempit dan kotor itu.
Perempuan itu pun mulai mengambil sapu dan membersihkan. Ada banyak sampah di sana tetapi ia bersyukur karena ada kamar mandi di dalam ruangan itu jadi ia tidak perlu keluar masuk ruangan untuk membasahi kain pel yang akan ia gunakan untuk membersihkan lantai.
"Ya Allah aku lapar sekali," ucapnya seraya meremas perut yang melilit sakit. Ruangan itu sudah bersih dan alhasil membuatnya kelelahan dan kelaparan.
"Ssemoga saja kak Iyon ingat kalau aku belum makan dan membawakanku makanan ke sini," ucapnya lagi kemudian mendudukkan dirinya di lantai dingin itu.
Pandangannya ia edarkan ke sekeliling ruangan membayangkan di mana mereka akan tidur tanpa alas sama sekali. Dengan segera ia mencari handphone yang mungkin sudah disimpan oleh suaminya di dalam tasnya.
Ia pun mulai mengetik pesan kepada Zion agar dibawakan makanan dan minuman karena tubuhnya sudah gemetar karena kelaparan.
Tak lama kemudian pintu ruangan itu terbuka. Mini tersenyum senang karena suaminya datang dengan membawa satu botol air dan juga satu bungkus nasi Padang.
"Maafkan aku ya Min. Kamu jadi ikut menderita seperti ini sayang," ucap Zion saat melihat istrinya makan dengan lahap.
"Jangan berkata seperti itu kak. Aku bahagia kok seperti ini. Nah sekarang kakak bisa kembali bekerja, jangan sampai mendapat teguran lho."
"Iya sayang. aku tinggalkan kamu ya."
"Iya kak."
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
Hai hai hai, tak bosan author ingatkan untuk menekan like dan ketik komentar agar authornya bersemangat lagi untuk update.
__ADS_1
Nikmati alurnya dan Heppy reading π