Impian 3 Dara

Impian 3 Dara
Bab 8 Keanehan Dua Bersaudara


__ADS_3

"Jadi kita beneran mau pulang nih?" tanya Naomi seraya memandang dua sahabatnya bergantian. Mini dan juga Cici mengangguk pelan.


"Iya Nom, aku takut Kak Iyon nyariin aku." Mini menjawab dengan dada yang tiba-tiba berdebar. Ia sungguh berharap suaminya mencari dan menunggu kepulangannya.


"Aamiin," ujar Cici dan Naomi bersamaan. Mereka berdua berharap hubungan pernikahan pengantin baru itu benar-benar bisa bahagia seperti keluarga Jovanka sahabat mereka.


"Iya deh kita pulang aja," putus Naomi karena perasaan Cici juga nampaknya sedang tidak baik-baik saja.


Tiga gadis itu akhirnya berencana meninggalkan Mall secepatnya. Setelah acara terakhir mereka selesai yaitu window shopping atau sekedar lihat-lihat dan cuci mata saja, mereka pun duduk di depan halte untuk menunggu Bus lewat.


Rupanya mereka tidak berminat sama sekali untuk berbelanja sebagai bentuk solidaritas untuk perasaan Cici Dewangga yang sedang tidak baik-baik saja.


Kehadiran Zain Abdullah bersama seorang gadis di tempat itu cukuplah membuat perasaan mereka kesal dan marah.


Naomi sampai berkali-kali menghibur sahabatnya itu kalau gadis itu pasti tidak ada hubungan dengan Zain tapi Cici tidak percaya samasekali. Mini sendiri tidak tahu harus bilang apa, hubungannya dengan suaminya saja belum bisa dikatakan baik saat ini.


"Udah ah, daripada kesal terus dan menangisi nasib, kita pulang aja, mandi dan bobok cantik." Putus Naomi saat melihat Bus jalur menuju rumah mereka sebentar lagi akan sampai di depan mereka.


"Iya nih. Lelah benar ya hari ini," ucap Mini menimpali.


"Lelah hayati dan lelah hati," lanjut Cici seraya mendengus pelan. Gadis itu merasakan dadanya sungguh sesak. Ia tak menyangka kalau seorang Zain Abdullah akan menyakiti perasaannya seperti ini. Padahal pria itu sangat manis dan baik padanya.


"Udah dong, jangan sedih gitu," ujar Naomi seraya menepuk bahu sahabatnya itu. Cici hanya menganggukkan kepalanya pelan. Ia memang tidak boleh bersedih meskipun hatinya sangat sakit dan juga cemburu.


Sebuah bus pun berhenti dihadapan mereka semua. Ketiga dara itu naik dan duduk dengan tenang. Tak ada lagi yang mengobrol sampai moda transportasi publik itu berhenti.


"Aku turun duluan ya, makasih banget Nom atas traktirannya hari ini." Mini Geraldine turun dari Bus setelah mereka sampai di halte berikutnya.


"Sama-sama Min, bye!" Naomi berucap seraya melambaikan tangannya. Mini ikutan melambaikan tangannya sampai Bus itu menghilang di depan matanya.


Perempuan itu melihat penanda waktu di pergelangan tangannya kemudian menarik nafas panjang. Rupanya ia sudah terlalu lama di luar rumah setelah acara perkuliahan selesai.


Warna jingga dari ufuk barat sudah menunjukkan kalau waktu saat itu sudah di penghujung sore. Gadis itu memperbaiki letak tas yang ada di bahunya untuk kemudian melanjutkan langkahnya. Jarak halte ini masih sekitar 500 meter menuju rumah mertuanya. Akan tetapi belum Juda ia melanjutkan langkahnya sebuah klakson mobil berbunyi dari arah yang sangat dekat dengannya.


Pip!

__ADS_1


Pip!


Gadis itu menoleh dan melihat kalau pengendara mobil itu adalah Ferry kakak iparnya.


"Abang?!" ucapnya tersenyum. Ferry langsung turun dari mobil itu dan membukakan pintu untuknya.


"Naik Min!" titah pria itu. Mini tersenyum cerah. Ia bersyukur karena ia tidak harus berjalan kaki lagi ke rumah. Apalagi kakinya memang butuh istirahat karena sepanjang siang mengitari Mall hanya untuk cuci mata saja.


"Baru pulang ya?" tanya Ferry tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan dihadapannya.


"Iya Bang."


"Emangnya Iyon gak jemput?" tanya pria itu lagi.


"Gak bang. Karena aku dan teman-teman emang pergi nonton sih habis ngampus." Mini meringis. Seketika ia jadi teringat pada suaminya yang amnesia itu.


"Oh, kok gak bilang sama aku. Aku juga pengen banget nonton tapi sayangnya tidak punya teman, hehehe," kekeh Ferry dengan lucu. Ya, ia menertawakan dirinya sendiri yang sampai saat ini belum juga mempunyai pasangan.


"Katanya film yang diputar di bioskop bagus-bagus ya," ujar pria itu lagi.


"Oh ya? Siapa?" tanya Ferry penasaran. Ia sendiri tak punya waktu untuk memantau perkembangan dunia perfilman Indonesia.


"Iko Uwais, idolaku banget bang."


"Oh, Iko Uwais? Yang mana ya?"


Mini mendengus lalu menjawab dengan bibir mengerucut kesal, " Yang ganteng banget bang, tapi sayangnya suamiku lebih ganteng sih, hehehe." kekeh gadis itu dengan wajah senangnya. Ferry seketika mencengkram kemudinya tak sadar. Entah kenapa ia merasa tidak nyaman dengan pujian Mini pada sang adik. Ia memandang sekilas wajah adik iparnya itu kemudian segera membelokkan mobilnya ke dalam pekarangan rumah mereka.


"Min, aku boleh nanya gak?" tanyanya pada sang adik ipar.


"Boleh bang."


"Gantengan mana sih aku sama Iyon?" tanya Ferry dengan tatapan lurus kearah mata bulat Mini. Gadis itu terdiam. Ia rasa, ia tidak perlu menjawab pertanyaan sang Kakak ipar karena itu pasti hanya basa-basi dari pria itu saja.


Ia pun turun dari mobil itu setelah mengucapkan terimakasih banyak pada Ferry.

__ADS_1


"Eh, kok dijawab?" tanya pria itu lagi. Mini tersenyum kemudian menjawab.


"Bagi seorang istri, suaminya lah yang paling ganteng dari semua pria di dunia ini. Terimakasih banyak ya bang udah kasih aku tumpangan." Ferry langsung merasakan dadanya tercekat tapi ia berusaha untuk kembali santai.


"Eh, gak usah terima kasih begitu. Aku cuma bawa kamu 500 meter juga. Lain kali aja kalau kamu aku bawa nonton dan makan bersama hehehe."


"Eh?" Mini sempat bingung dengan kata-kata ambigu dari kakak iparnya itu. Ia tidak menoleh lagi ia langsung melompat turun dari mobil itu.


"Semoga Kak Iyon gak marah, aku baru pulang," gumamnya pelan. Ia pun bergegas masuk ke dalam rumah.


Karena rumah sedang sepi, ia pun langsung masuk ke kamarnya dan mendapati Zion Sakti, sang suami sedang menatapnya tajam.


"Kak, maaf. Aku baru pulang. Kak Iyon udah lama sampai di rumah?" ucapnya dengan wajah tak nyaman. Ia bahkan langsung menghampiri pria itu yang sejak tadi hanya diam saja.


"Kamu pulang sama Kak Ferry, kenapa gak nelpon. Aku sampai nungguin di kampus kayak orang bodoh." Tak ada ekspresi pada wajah pria itu saat mengatakannya. Akan tetapi tidak bagi Mini, perempuan itu langsung tersentak kaget. Ia merasa sangat bersalah pada suaminya itu.


"Kak, maafkan aku. Aku juga menunggu telepon dari kakak," ucap Mini dengan wajah yang sangat merasa bersalah.


"Ah, Sudahlah." Zion mengibaskan tangannya di depan wajahnya. Ia pun meninggalkan Mini yang tiba-tiba menangis.


"Jangan menangis. Aku yang mau minta maaf karena tidak menghubungimu terlebih dahulu." Zion berucap dengan perasaan yang juga tersentil sakit.


"Kak, ada apa denganmu?" Mini langsung berlari ke arah suaminya dan memeluknya dari belakang. Zion tak bereaksi. Ia hanya diam saja dan merasakan dada istrinya yang menempel di punggungnya naik turun karena menangis.


Lama mereka dalam keadaan seperti itu sampai Mini melepaskan pelukannya. Ia tiba-tiba menyadari sesuatu kalau suaminya tak akan pernah membalas apa yang ia lakukan. Pria itu melupakannya seolah-olah ia adalah orang asing.


"Maaf Kak. Aku mau mandi dulu. Lain kali aku akan melaporkan semua yang aku lakukan di luar sana pada kakak setiap saat."


"Hem," jawab Zion dengan ekspresi tak terbaca. Mini pun masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan dirinya. Sedangkan Zion meninggalkan kamar itu untuk menemui Ferry.


🌺🌺🌺


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2