
Salma cepat-cepat menuju ke dapur diikuti oleh Naomi. Perempuan paruh baya itu ingin memasak makanan kesukaan sang putra sulung.
"Ayo Nom, kita bikin terong balado untuk Bobby, kamu potong terongnya seperti ini ya," ujar perempuan paruh baya itu seraya memperlihatkan model potongan sayuran berwarna ungu itu pada Naomi.
Gadis itu hanya menurut saja meskipun sebenarnya ia sudah sangat ingin pulang ke tempat kostnya sendiri. Bayangan tentang cuciannya yang menumpuk serta pekerjaan lainnya yang harus ia kerjakan kini sudah berputar-putar di kepalanya.
"Terongnya digoreng dengan menggunakan minyak yang banyak ya Nom supaya warna ungunya tetap bagus," ucap Salma memberikan petunjuk pada Naomi.
"Iya tante," balas gadis itu tersenyum. Ia pun menambah minyak yang ia tuang tadi agar lebih banyak sesuai petunjuk pemilik rumah itu.
Tak lama kemudian balado terong itu pun siap. Rasa yang dihasilkan dari perpaduan cabe merah keriting, bawang merah dan bawang putih serta sedikit tomat itu membuatnya terasa sangat segar di lidah.
Ding dong
Ding dong
"Lho, bel rumah kok masih berbunyi ya, apa tadi Bobby gak masuk ya Nom?" ucap Salma dengan wajah bingung.
"Iya tante, aku juga kira yang datang itu Bobby." Naomi ikut bingung. Mereka berdua sibuk masak karena orang yang datang itu dikira adalah Bobby, tapi kok gak muncul sampai sekarang.
Ding dong
Ding dong
Bel di rumah itu kembali berbunyi. Naomi dan Salma saling berpandangan.
"Bibik kemana sih, kok pintu gak dibukain,?" tanya Salma dengan wajah yang mulai kesal.
__ADS_1
"biar aku yang buka tante," ucap Naomi seraya mencuci tangannya dan mengeringkannya.
"Ah iya sayang. Kalau kalau kamu bilang aja Mama lagi masak suruh tunggu sebentar."
"Iya tante," ucap Naomi kemudian segera pergi dari dapur itu. tak lupa ya singgah untuk berkaca untuk melihat penampilannya.
Ding dong
Ding dong
Ceklek
Gadis itu pun membuka pintu utama di rumah itu dan mendapati seorang perempuan muda seumurannya berdiri di depan pintu.
"Assalamualaikum mbak, benar ini rumahnya Kak Bobby?" tanya perempuan itu pada Naomi.
"Duduk mbak," lanjut Naomi mempersilahkan. Gadis itu pun duduk disebuah kursi yang ditunjuk oleh Naomi.
"Bobby belum pulang karena ada pekerjaan di luar, kalau mbak mau menunggu boleh atau mungkin mau menitipkan pesan boleh juga," ujar Naomi dengan tatapan menelisik pada perempuan cantik itu. Matanya tertumbuk pada perut perempuan itu yang nampak sedang membuncit karena hamil.
Naomi pun ikut duduk di samping perempuan itu.
"Ah iya, terimakasih ya karena mbak cukup baik dan juga sopan menyambut aku." Perempuan itu tersenyum seraya memandang Naomi dengan tatapan menilai.
"Eh ngomong-ngomong mbak ini pelayan di rumah ini ya?" tanyanya.
"Ah bukan kok. Aku cuma teman kampus Bobby dan kebetulan diajak masak oleh tante Salma." Naomi menjawab seraya memasang senyum ramah diwajahnya.
__ADS_1
"Oh gitu ya? Apa aku salah jika mengatakan kalau mbak sengaja berada di rumah ini untuk mengambil perhatian dari orang tua kak Bobby." Naomi menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh perempuan hamil itu.
"Asal mbak tahu ya, aku ini adalah kekasihnya kak Bobby dan tentunya apa yang terjadi padaku saat ini adalah hasil dari perbuatannya," lanjutnya dengan tatapan tajam pada Naomi. Perempuan itu seolah-olah ingin menyampaikan bahwa ia harus tahu diri kalau Bobby tidak boleh lagi dimiliki oleh orang lain.
Naomi tiba-tiba merasakan dadanya sesak. Matanya berkaca-kaca. Sekali saja berkedip maka airmatanya pasti akan jatuh dan membentuk sungai kecil di pipinya.
"Nita, kamu ada disini?" tanya Bobby saat baru muncul di dalam ruang tamu itu. Wajah Bobby tampak sangat kaget dengan keberadaan perempuan itu disana.
"Eh kakak. Aku sudah lama menunggu kamu lho," ucap gadis yang bernama Nita itu dengan nada manja. Ia pun segera menghampiri Bobby kemudian memeluk lengannya dengan sangat posesif.
Naomi hanya menatap keduanya dengan tatapan tak terbaca. Entah kenapa ia merasa sangat tidak nyaman dengan keberadaan mereka berdua di tempat itu. Hatinya terasa sakit melihat itu semua.
Gadis itu pun langsung berdiri dari duduknya dengan menengadahkan wajahnya ke atas agar air matanya tidak tumpah di hadapan dua orang itu.
"Silahkan dilanjutkan ngobrolnya, aku mau masuk temenin tante Salma memasak," ujar Naomi dengan langkah cepat hingga tidak sadar menabrak ujung Buffett tempat beberapa furniture mahal yang di tempatkan oleh sang pemilik rumah.
"Aaakh astaghfirullah." Naomi berteriak tertahan menahan sakit pada kakinya.
"Nom, hati-hati!" teriak Bobby dengan perasaan khawatir. Ia langsung meraih bahu gadis itu untuk membantunya berdiri.
"Lepaskan aku Bob dan urus saja calon istrimu itu!" geram Naomi dengan tatapan tajam pada pria itu.
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading π