Impian 3 Dara

Impian 3 Dara
Bab 46 Bulan Madu 1


__ADS_3

Hari pun berganti, kebahagiaan keluarga Mini dan Zion semakin berlipat-lipat. Mini kembali ke kampus karena sudah sehat dan bisa beraktivitas sedangkan Zion Sakti diangkat sebagai seorang karyawan di perusahaan papanya sendiri.


pria muda itu menolak diangkat menjadi seorang pimpinan di dalam perusahaan besar itu karena merasa belum mampu mengemban tugas yang cukup berat itu. Ia sadar diri bahwa Ia adalah seorang karyawan baru yang masih perlu banyak belajar.


Prasetyo Mandala begitu bangga pada putranya yang tidak berambisi untuk mendapatkan harta dan kekuasaan meskipun semua itu adalah miliknya.


"Duduk nak. Papa ingin kamu belajar dengan baik dengan memperhatikan banyak hal di perusahaan ini," ucap Prasetyo saat ia memanggil secara pribadi putranya itu untuk menghadapnya di ruangan kerjanya.


"Iya pak. Saya akan belajar dengan melihat cara kerja karyawan di sini." balas Zion dengan tegas dan penuh percaya diri. Prasetyo tersenyum Iya benar-benar bangga mempunyai seorang putra seperti Zion.


"Tapi ingat untuk tetap membagi waktu dengan istrimu, jangan sampai karena kamu terlalu serius bekerja istrimu jadi kamu abaikan," nasehat sang Papa dengan senyum teduhnya. Ia sengaja mengatakan ini karena hampir beberapa hari ini Zion kadang telat pulang karena terlalu serius mempelajari apa yang ada di dalam perusahaan ini.


"Istrimu sedang hamil dan Ia juga butuh perhatian yang banyak dari kamu Yon," lanjut pria paruh baya itu dengan tatapan lurus pada mata elang putranya.


"Ah iya Pa. Hari ini aku memang ingin pulang lebih cepat dan menjemputnya di kampus. Aku sudah sangat rindu sekali padanya," jawab Zion dengan senyum samar dibibirnya. Prasetyo tersenyum. Ia pun ingin cepat pulang dan bertemu dengan Rossy tercinta di rumah.


"Kalian bisa menginap di hotel ini," ujar Prasetyo seraya menunjukkan voucher menginap di hotel untuk dua pasangan pada putranya itu.


"Eh?" Zion menatap kartu voucher itu bergantian dengan wajah sang papa.


"Kenapa? Kamu dan Mini belum berbulan madu dengan benar 'kan? Papa dan mama juga belum. Jadi mari kita nikmati tempat indah itu bersama. Bagaimana? Kamu setuju 'kan?" Prasetyo menatap sang putra dengan senyum diwajahnya.


"Ah ya, tentu saja Pa. Kita berdua adalah pengantin baru. Jadi, kenapa tidak?" Zion langsung setuju dengan tawaran sang papa. Iya pun berdiri dari duduknya dan segera pergi meninggalkan ruangan presiden direktur itu.

__ADS_1


Langkahnya begitu ringan dengan hati berdebar-debar bahagia. Bibirnya tak berhenti berkedut ingin tersenyum. Mini akan dijemputnya di kampus dan akan langsung ia bawa ke hotel itu.


Ia akan menikmati hari-hari indah bersama dengan sang istri yang sudah lama mereka tidak rasakan karena banyaknya ujian dan cobaan yang terjadi dalam kehidupan keluarga mereka.


Semua orang yang ia lalui menghormat sopan dan patuh ketika berhadapan dengannya. mereka cukup segan dan takut karena ternyata ujian Sakti adalah pewaris perusahaan besar itu yang digadang-gadang akan menggantikan sang Presiden direktur.


Beberapa diantara karyawan itu ada yang cukup malu karena pernah memandang rendah dirinya yang hanya seorang security di perusahaan besar itu. akan tetapi ujian Sakti yang memang mempunyai sifat rendah hati tidak pernah mempermasalahkan orang-orang yang pernah sengaja membuat masalah dengannya Ia tetap low profile dan bekerja sebagai karyawan biasa.


Pria muda itu mengendarai mobilnya yang baru dibelikan oleh sang Papa ke kampus Mini. Hari ini ia memang minta izin untuk lebih cepat pulang karena sudah sangat merindukan istrinya dan ingin berdua saja dengannya.


Tak butuh yang lama karena jalanan pun tidak macet sehingga ia bisa cepat sampai di kampus. begitu senang rasanya hatinya saat melihat Mini sudah menunggunya di tempat parkir.


"Ayo sayang kita berangkat sekarang," ucapnya setelah sang istri sudah duduk dengan nyaman di atas mobil.


"Kita mau ke mana Kak? Buru-buru amat sih?" tanya Mini dengan wajah penasarannya. Zion hanya tersenyum kemudian melajukan segera mobilnya meninggalkan kampus sang istri.


"Bulan madu? Kak Iyon gak pernah membicarakan ini sebelumnya," ujar Mini dengan wajah sedikit bingung. Meskipun begitu ia merasa bahagia juga dengan perkataan sang suami.


"Yah apalah namanya, yang penting kita bisa berdua saja menikmati quality time tanpa ada gangguan dari pekerjaan dan tugas kampusmu," jawab Zion tersenyum. Tangan kirinya segera menggenggam tangan istrinya, sedangkan tangan kanannya tetap berada pada kemudi.


Sebuah bangunan tinggi bagaikan pencakar langit sudah ada dihadapan mereka berdua. Mini merasa dadanya berdebar dengan perasaan Dejavu.


Hotel ini mempunyai banyak kenangan yang sangat mengesankan bagi dirinya dan suaminya. Kenangan indah dan juga kenangan buruk.

__ADS_1


"Ayo sayang, kita turun. Papa sama Mama juga akan ikut kok kemari," ucap pria itu seraya membukakan pintu mobilnya untuk sang istri tercinta. Mini tersenyum dan turun dibantu oleh suaminya.


"Zion menggandeng tangan istrinya dan melangkahkan kakinya ke dalam lobi hotel. Ia ingin check in dengan menggunakan kartu voucher menginap dari sang papa.


"Hey, Zion, kebetulan sekali kita bertemu di tempat ini. nomor kamu yang saya save waktu itu tidak bisa saya hubungi loh padahal hotel ini sudah membutuhkan karyawan yang pernah kamu inginkan beberapa bulan yang lalu," ucap seorang pria berpenampilan rapih dan juga necis itu. Ia adalah manajer hotel itu.


"Ah iya pak manager. Terima kasih banyak atas tawarannya. Akan tetapi saya sudah mendapatkan pekerjaan Pak," jawab Zion dengan senyum tipis di bibirnya.


Manager itu menatap pria muda di hadapannya dari atas ke bawah untuk menilai pekerjaan apa kira-kira yang didapatkan oleh Zion.


"Oh begitu ya? sayang sekali ya padahal saya sangat ingin merekrut kamu bekerja di sini. Saya ingat bahwa kamu adalah pekerja keras dan juga disiplin dan terkhusus untuk kamu, saya tawarkan gaji yang sangat besar lho." Manajer itu sengaja memancing Zion agar mau mengikuti keinginannya dan berpindah dari pekerjaannya yang sekarang ke hotel itu.


"Ah Terima kasih banyak Pak atas tawarannya tapi saya sudah nyaman dengan pekerjaan ini." Zion menolak dengan halus.


"Hum, baiklah. tapi kalau seandainya kamu berubah pikiran saya tetap menunggu ya Zion. Kamu bisa menghubungi nomor saya," ujar sang manager seraya menyerahkan sebuah kartu nama pada pria muda itu.


"Ah iya pak. Terimakasih banyak." Zion menjawab seraya menyimpan kartu nama itu kedalam sakunya.


"Hey, boleh saya menggangu pembicaraan kalian?" tiba-tiba saja seseorang menyela pembicaraan mereka berdua.


🌺🌺🌺


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


Nikmati alurnya dan Heppy reading 😊


__ADS_2