Impian 3 Dara

Impian 3 Dara
Bab 49 Hari Bahagia Cici Dewangga


__ADS_3

Pesta pernikahan Cici Dewangga dan Zain Abdullah akhirnya terlaksana juga hari ini. Empat sahabat itu saling berpelukan dengan sangat bahagia. Semua harapan dan doa terbaik mereka ucapkan untuk kedua mempelai.


Cici sendiri tak tahan untuk tidak menangis karena terlalu merasakan haru dan bahagia. Tiga sahabatnya benar-benar merupakan sahabat terbaik dunia akhirat.


"Terima kasih banyak ya semuanya, kalian adalah sahabat terbaik yang aku punya," ucapnya seraya menyusut air matanya dengan menggunakan tissue.


"Kamu juga Ci' kamu adalah sahabat kami yang insyaallah selalu ada dalam setiap suka duka kami," sahut Jovanka tersenyum. Ia pun memeluk sahabat sekaligus istri dari sepupunya itu dengan perasaan yang tak bisa ia lukiskan dengan kata-kata.


"Udah dong peluk-pekukannya, kasihan kak Zain gak dapat bagian nanti," ucap Mini seraya melirik Zain Abdullah yang sejak tadi diam saja melihat mereka berempat tak juga memberinya kesempatan untuk mendekati istrinya setelah ijab kabul selesai.


"Ah iya, maaf ya kak Zain. Setelah ini Cici jadi milik kakak seutuhnya kok," ucap Naomi tersenyum cengengesan. Ia langsung melepaskan tangan sahabat, teman kamar sekaligus teman tidurnya itu dengan wajah tak rela.


"Gak apa-apa kok. Santai saja," balas Zain dengan wajah sok santai dan tidak perduli hingga membuat Jovanka langsung memukul bahunya.


"Beneran ini gak apa-apa kak? Aku bawa Cici kembali ke kota nih kalau kak Zain sok jaim." Jovanka menatap sepupunya itu dengan tatapan tajam. Zain langsung meremas tengkuknya tak nyaman dengan ancaman istri dari Dekan di fakultasnya.


"Eits jangan dong. Cici udah jadi hak aku seutuhnya mulai saat ini jadi kalian bisa pulang atau lakukan apa saja yang penting jangan ganggu aku sama istriku." Zain langsung memasang wajah garang dan mengusir 3 sahabat dari istrinya itu.


"Lho kok?!" Mini dan Naomi saling berpandangan kemudian tertawa lucu.


"Ya udah, nanti kak Zain ngambek lagi. Kami pamit ya Ci'." Jovanka kembali mencium pipi pengantin perempuan itu dengan perasaan bahagia.


"Gak nginap dulu nih semuanya," ucap Cici seraya meraih tangan sahabat-sahabatnya yang lain.


"Maaf Ci', kami semua harus pulang hari ini juga. Ruby harus masuk sekolah besok pagi. Trus mas Radith juga ada pekerjaan penting. Maaf ya sayang," ucap Jovanka mewakili jawaban dua sahabatnya yang lain yang juga tidak bisa menginap di rumah mempelai perempuan.


"Ya deh. Makasih banyak udah datang jauh-jauh ke sini untuk memberi doa restu kepada kami," ucap Cici' tersenyum.


"Hati-hati ya, nanti kita akan ketemu lagi di kampus kok," lanjut pengantin perempuan itu seraya melambaikan tangannya untuk mengiringi kepergian 3 sahabatnya itu.

__ADS_1


"Semua orang sudah balik sekarang bawa aku ke kamarmu Ci' aku pengen istirahat sejenak," ucap Zain Abdullah seraya menarik tangan istrinya ke dalam rumah yang sudah mulai sepi itu.


Semua tamu dan keluarga jauh sudah pada pulang dan meninggalkan tempat acara. Dan sekarang waktunya mereka berdua untuk beristirahat.


"Ah iya kak. Mari kita ke dalam," ucap perempuan cantik itu seraya membawa suaminya ke dalam kamarnya yang sangat minimalis di dalam rumah yang juga tidak begitu luas itu.


Zain Abdullah menatap sekeliling ruangan yang kira-kira berukuran 3X3 itu dengan tatapan menilai.


Bersih dan rapih, ucapnya dalam hati. Pria itu pun duduk dipinggir ranjang yang sudah dihias sedemikian indah khas ranjang pengantin baru pada umumnya itu.


"Kak Zain mau makan, mandi, atau mau istirahat dulu nih?" tanya Cici seraya ikut duduk di samping pria yang telah menikahinya itu.


"Aku mau mandi sayang. Rasanya gerah banget memakai pakaian adat seperti ini seharian."


"Ah iya kak. Aku siapkan air mandinya air mandinya dulu ya," ucap sang istri seraya bangun dari duduknya. Zain langsung menarik tangan perempuan itu kemudian berucap, " Kamu duduk saja disini, aku yang akan mengurus diriku sendiri."


"Gak apa-apa, kamu juga pasti sangat capek sayang. Jadi biarkan aku yang urus semuanya. Kamar mandi ada didalam 'kan?"


"Iya kak. Terima kasih banyak." Cici tersenyum kemudian menunjukkan letak kamar mandinya.


Zain pun membuka satu-satu pakaiannya kemudian mengambil handuk yang diserahkan oleh sang istri. Ia pun masuk ke dalam kamar mandi itu untuk membersihkan dan menyegarkan dirinya.


Sedangkan Cici berusaha untuk menahan berbagai rasa yang bercampur aduk di dalam dadanya. Bahagia dan gugup ia rasakan menguasai hatinya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapi nanti suaminya yang sangat tampan dan bertubuh atletis itu.


"Lho, kamu kok belum ganti baju sih sayang?" tanya Zain Abdullah yang tiba-tiba saja sudah berada di belakangnya. Cici tersentak kaget. Ia tak menyangka kalau sedari tadi ia hanya duduk dan mengkhayal saja hingga suaminya sudah selesai mandi.


"Ah iya kak. A-aku lagi bingung karena tidak bisa membuka pakaian ini sendiri," ucapnya memberikan alasan. Ia tidak ingin suaminya tahu kalau ia sedang sibuk mengkhayalkan malam pertama mereka nantinya.


"Kalau gitu, sini aku bantu bukain." Pria itu pun menghampiri Cici yang tiba-tiba jadi semakin gugup dan tidak bisa bergerak.

__ADS_1


"Ah iya kak," jawabnya seraya membuka satu persatu aksesoris yang sedang menghiasi hijabnya.


"Aaaaw!" Cici berteriak tertahan karena sebuah jarum pentul tiba-tiba menusuk jarinya.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Zain dengan wajah kaget dan khawatir. Sang istri hanya bisa tersenyum meringis seraya memperlihatkan jarinya yang berdarah. Karena terlalu gugup berdekatan dengan seorang pria tampan yang sedang bertelanjang dada dengan hanya berbalut selembar handuk saja ia jadi kurang fokus.


"Astaghfirullah, kok bisa sih?" tanya Zain dan langsung mengulum jari istrinya yang sedang berdarah itu.


"Kak, gak perlu," ucap Cici' berusaha menolak tapi sang suami tidak melepaskan jarinya sampai darah itu benar-benar berhenti mengalir.


"Lain kali hati-hati ya sayang," ucap Zain seraya mengecup pipi istrinya sekilas dan langsung membuat Cici bagaikan tersengat aliran listrik jutaan Mega Volt. Ini pertama kalinya ia dicium oleh seorang pria dan Alhamdulillah itu adalah suaminya sendiri.


Tubuhnya langsung membeku dan tak bisa bergerak sama sekali. Ia sampai tidak sadar bahwa Zain Abdullah sang suami telah berhasil membuka resleting belakang gaunnya.


"Sayang, kamu kok cantik sekali sih?" ucap pria itu dengan tatapan memuja pada tubuhnya yang sudah terbuka meskipun masih ada pakaian dalam yang menutupinya.


"Ya ampun Kak. Aku sampai gak sadar. Maaf, aku mandi dulu," ujar Cici seraya berlari ke kamar mandi. Ia masih sangat malu pada suaminya yang menatapnya tak berkedip seperti itu.


Zain Abdullah hanya bisa tersenyum kemudian menyentuh anggota tubuhnya yang tiba-tiba merespon dengan sangat baik melihat penampilan dari sang istri.


🌺🌺🌺


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


Adakah sedekah bunga atau Kopi?


Nikmati alurnya dan Heppy reading 😊

__ADS_1


__ADS_2