
Naomi mengikuti langkah perawat yang membawa tubuh Nita ke ruangan IGD. Ia sangat khawatir pada perempuan hamil itu dengan melihat keadaannya yang sangat menyedihkan seperti itu.
"Huuu, aaaa sakit sekali sssshhh," keluh Nita dengan tangis pilu. Luka yang ada di wajahnya yang cantik kini membuatnya tidak cantik lagi. Lebam biru dimana-dimana hingga membuatnya semakin tampak menyedihkan.
Naomi yang memandangnya semakin merasakan tulangnya ikut ngilu dibuatnya. Nita yang meringis sakit tapi ia ikutan merasa ngilu juga. Sedangkan Ferry hanya memandangi perempuan itu dengan tatapan kesal. Pria itu ada acara penting hari ini tapi malah harus berurusan dengan keadaan yang cukup membuatnya emosi.
"Tolong diperiksa kandungannya dokter," ucap Naomi pada seorang dokter yang sedang menangani Nita.
"Ibu sedang hamil?" tanya dokter itu seraya memandangi tubuh Nita yang masih terbaring penuh luka-luka itu.
"Tidak dokter, aku tidak hamil tapi aaaaduhh ini sakit sekali," jawab perempuan itu masih meringis sakit. Naomi langsung melongo tidak percaya dengan jawaban perempuan itu.
"Ah iya, syukurlah kalau Ibu tidak sedang hamil, karena keadaan Ibu ini cukup mengkhawatirkan. Sekarang kita bersihkan luka-lukanya dulu ya," ucap dokter itu seraya meminta beberapa perawat untuk menyiapkan bahan dan alat yang akan digunakan untuk membersihkan luka yang sedang diderita oleh pasien korban lakalantas itu.
"Aku menunggu diluar ya Nit, maaf aku suka ngilu kalau lihat darah," ujar Naomi meminta pamit keluar dari ruangan tindakan IGD itu. Ferry pun ikut keluar mengikuti Naomi.
"Jangan keluar!" teriak Nita ketika Naomi dan Ferry melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. Ferry menghentikan langkahnya dan berbalik sedangkan Naomi tetap saja berjalan keluar.
"Kenapa? Kami bukan dokter yang akan mengobati kamu di sini."
"Eh aku ini korban. Kamu harus bertanggung jawab. Wajahku bisa cacat dan tidak cantik lagi! Aduh aaaaakh!" teriak Nita seraya mengadu kesakitan lagi karena perawat itu tidak sengaja menekan kain kasa pada luka nya begitu keras.
"Duh, hati-hati dong sus. Emangnya wajah saya ini aspal yang tidak punya perasaan?" Perempuan itu menggerutu kesal pada sang perawat.
"Maaf, Bu. Makanya harus tenang kalau lagi dirawat seperti ini," balas perawat itu dengan wajah tak ramah. Ferry hanya mengangkat ujung bibirnya kemudian berucap.
"Iya. Aku akan bertanggung jawab. Kamu tenang saja. Mau operasi plastik pun aku akan ongkosi."
"Aku mau dinikahi! Aduh aaaaakh!" teriak perempuan itu lagi dengan tak tahu malu. Semua orang yang ada di dalam ruang perawatan itu langsung melongo tak percaya dengan perkataan sang pasien.
Jangan ditanya bagaimana wajah Ferry saat ini. Ia langsung mendengus kesal dan langsung keluar dari ruangan itu.
"Dasar perempuan tidak tahu malu!" gerutu pria itu saat sampai di depan ruangan. Ia pun duduk di samping Naomi dengan wajah yang sangat kesal.
__ADS_1
"Kenapa bang?" tanya Naomi penasaran.
"Gadis itu masak minta tanggung jawab dengan minta dinikahi sih, ada-ada saja," jawab Ferry masih dengan wajah kesalnya. Naomi lantas terdiam untuk beberapa saat. Lantas ia pun berucap,
"Iya bang, perempuan itu memang sedikit kacau dan sedikit sakit otaknya.. Beberapa saat yang lalu perempuan itu mengaku hamil sekarang malah tidak sama sekali. Untuk itu ia jadi mengerti sekarang permasalahannya. Bobby sudah mengakui bahwa perempuan itu hanyalah seorang perempuan sewaan. Yang ia minta untuk mengaku bahwa dirinya telah berpacaran dengannya hanya untuk membuatnya cemburu.
Dan sekarang, sepertinya Tuhan sudah memberinya kesempatan untuk berpikir dan menerima lamaran dari Bobby Dirgantara. Ia ternyata baru menyadari kalau ia telah cemburu dan sangat tak rela kalau kehilangan Bobby dan juga keluarganya. Apalagi Nita juga ternyata tak ada hubungan asmara dengan pria yang sangat dicintainya itu. ia juga tidak hamil dan itu hanya sandiwara saja.
"Maaf pak. Silahkan bayar admistrasi perawatan pasien. Setelah itu bapak bisa membawanya pulang," ujar seorang perawat yang tiba-tiba saja muncul di hadapan keduanya. Perawat itu menyerahkan selembar kwitansi yang berisi sejumlah uang yang harus dibayarkan untuk Nita.
"Ah iya terima kasih banyak ya sus. Eh, Nom, aku bayar ini dulu ya," ujar pria itu seraya berpamitan pada Naomi.
"Ia bang, pergilah. Aku akan tunggu disini," jawab Naomi tersenyum. Gadis itu pun meraih handphonenya kemudian menghubungi Mini untuk memberitahu kalau Ferry, sang abang ipar sedang ada masalah di rumah sakit.
"Nom, bagaimana dengan Nita? Apa ia baik-baik saja?" tanya Bobby yang tiba-tiba saja muncul dihadapannya. Naomi langsung menyimpan kembali handphonenya lalu menatap pria itu dengan tatapan tajam.
"Kamu kok tampaknya sangat perhatian sama perempuan itu Bob? Katanya gak ada hubungan apa-apa," sindir gadis itu.
"Ya udah, kamu masuk saja sana, aku mau pulang." Naomi kembali kesal. Rasa cemburunya kembali menumpuk. Ia pun langsung berdiri dari duduknya berniat untuk pergi dari tempat itu.
"Nom, plis. Aku hanya peduli sama kamu. Sini, aku antar kamu pulang." Bobby mengalah. Ia tidak akan membuat masalah baru dengan menanyakan kabar Nita. Lagipula ada Ferry yang akan bertanggung jawab.
Mereka berdua pun keluar dari ruang IGD untuk pulang, tapi langkah mereka terhenti di depan pintu karena melihat Radith Aditya masuk ke sana untuk meminta para perawat yang akan membantunya membawa Jovanka yang akan melahirkan.
"Bob, kita nggak jadi pulang kita harus menunggu kelahiran bayi pak Doktor dan juga Jovanka."
"Ah Iya," jawab Bobby menurut. mereka berdua pun ikut menunggui Jovanka yang sudah diantar oleh perawat ke dalam ruang bersalin.
"Kalian disini?" tanya Radith Aditya pada dua orang mahasiswanya itu.
"Iya pak doktor. Kebetulan ada teman yang kami antar karena menjadi korban kecelakaan."
"Oh begitu ya, semoga keadaannya baik-baik saja ya," ucap Radit Aditya dengan wajah gelisah. Ia mondar-mandir di depan dua orang itu karena merasa sangat tegang dan khawatir akan persalinan Jovanka yang menurutnya sangat cepat ini.
__ADS_1
"Jovanka juga pak, semoga persalinannya lancar," ujar Naomi dengan wajah yang ikut cemas.
"Aamiin," ucap sang dosen dengan wajah penuh harap. Mereka pun berusaha duduk dengan tenang dengan harapan persalinan itu benar-benar lancar dan mudah.
"Ooeeee Oeeek Oeeek!"
"Alhamdulillah, bayinya benar-benar sudah lahir pak," ujar Naomi saat mendengar bunyi tangisan bayi dari dalam ruangan bersalin.
"Ah iya. MasyaAllah Alhamdulillah, cepat sekali," ucap Radit Aditya dan langsung menghambur kearah pintu ruangan bersalin untuk melihat istri dan anaknya.
Tak lama kemudian semua sahabatnya pun datang melihat Jovanka dan bayinya. Ruangan itu tampak sangat ramai dipenuhi rasa suka cita.
"Nom, apa kamu gak mengimpikan menjadi seorang istri dan ibu seperti sahabat-sahabat mu?" tanya Bobby saat melihat Naomi diam terpaku melihat kebahagiaan semua orang akan kelahiran putri Jovanka.
Mini yang sedang hamil dan sebentar lagi menjadi ibu, serta Cici yang juga merupakan pengantin baru, juga berada di tempat itu.
"Aku juga mau Bob," ucap Naomi dengan mata berkaca-kaca.
"Kalau begitu tolonglah, terima lamaran aku," ucap pria itu lagi dengan tatapan memohon. Naomi tersenyum kemudian mengangguk.
"Ya, aku terima lamaranmu Bob. Ayo kita segera menikah."
πΊπΊπΊ
TAMAT
Terimakasih banyak atas waktu dan atensi para readers tersayang, semoga karya receh ini bermanfaat dan menghibur.
Sampai jumpa lagi pada karya baru yang akan launching besok.
Love you allππ₯°π
__ADS_1