Impian 3 Dara

Impian 3 Dara
Bab 22 Kekalutan Hati Zion


__ADS_3

"Ih Luby seneng sekali ada kakak-kakak cantik di sini," sambut Ruby pada tiga dara sahabat mamanya. Gadis kecil itu melompat-lompat dengan wajah yang sangat gembira.


Mini Geraldine dan juga Cici Dewangga langsung berjongkok untuk menyesuaikan tinggi mereka dengan putri pertama Radith Aditya sang dosen.


"Halo Ruby, apa kabar sayang?" tanya Cici seraya mencolek pipi tembem gadis cilik itu.


"Luby sehat dan sangat senang kak Cici. Sekalang tambah senang lagi kalena bental lagi punya adik kecil," jawab Ruby dengan senyum lebar diwajahnya. Giginya yang putih dan rapih begitu sangat menarik perhatian Mini Geraldine.


"Wah, gigi Ruby bagus banget ya, bersih dan putih terus gak ompong," ujar perempuan itu dengan wajah semangnya. Ia sangat takjub karena adiknya sendiri giginya udah hitam dan hancur dimana-mana gara-gara suka makan coklat.


"Iya dong kak. Luby 'kan lajin sikat gigi," jawab gadis cilik itu dengan senyum yang semakin lebar.


"Mama Jo belikan Luby banyak sikat gigi lucu-lucu. Mama Feli juga, Semuanya suka belikan Luby sikat gigi dan odol macam-macam lasa," jelas gadis cilik itu seraya menarik tangan kedua perempuan itu ke kamarnya.


"Ayo lihat semua mainan Luby kak," ujarnya dengan perasaan yang sangat bahagia. Setelah sekian lama, ia baru kedatangan tamu meskipun usianya jauh beda dengannya.


Mini dan Cici mengikuti kemana gadis kecil itu membawa mereka sedangkan Naomi yang ternyata belum juga baik perasaannya lebih memilih tinggal di dalam ruangan keluarga.


Gadis itu duduk bersama dengan para ibu-ibu yang sedang memasukkan kue-kue kering ke dalam kemasan berbentuk kotak.


"Aku bisa bantu apa Bu?" tanyanya pada seorang ibu paruh baya seusia ibunya di kampung. Perempuan itu nampak sangat serius dengan apa yang sedang dikerjakannya.


"Oh, mau bantu ya nak? Ini nih. Empat biji kue yang berbeda rasa dimasukin ke dalam kotak ini, trus tambahkan dengan satu teh kotak ini ya," jawab perempuan paruh baya itu.

__ADS_1


"Oh iya Bu. Ini untuk para tamu ya?" tanya Naomi lagi untuk berbasa-basi. Tangannya pun dengan lincah memasukkan kue-kue itu kedalam tempat yang sudah tersedia dihadapanmya.


"Iya. Setelah zikir dan doa untuk Bu Radith kue-kue ini dibagikan untuk para tamu untuk dibawa pulang. Karena untuk yang dikonsumsi di sini dari catering sudah siap kok," ujar ibu itu lagi.


"Oh gitu ya? Saya Naomi Bu. Teman kampus mamanya Ruby. Maaf ibu ini tinggal dimana?" Naomi memperkenalkan dirinya seraya tersenyum. Ia ingin lebih mengakrabkan dirinya dengan ibu itu agar lebih nyaman.


"Oh Naomi. Saya Bu Salma, tetangga pak dosen. Tinggalnya gak jauh kok dari sini." Perempuan itu menjawab dengan senyum diwajahnya. Ia sangat senang dengan gadis ini yang mau menyediakan waktunya untuk mengobrol dengan orang tua seperti dirinya.


Cukup lama mereka mengobrol membicarakan ini dan itu sampai tidak sadar kalau kotak kue itu sudah terisi semua.


"Nah sudah selesai. Sekarang kamu bisa istirahat. Acara zikir dan doa untuk Bu Radith masih ada sekitar satu jam." Perempuan bernama Salma itu pun meregangkan otot-ototnya dan berusaha untuk berdiri, tapi karena tumbuhnya yang lumayan berisi ia pun kesulitan dan akhirnya jatuh kembali ke lantai. Untungnya Naomi segera menolongnya.


"Hati-hati bu. Nih bisa pegangan sama saya," ujar gadis itu dengan berusaha memperkuat pertahanan kakinya.


"Iya Bu. Tapi ibu masih kelihatan kuat lho dan juga masih tampak awet muda," senyum Naomi seraya menggandeng tangan Salma ke arah sofa.


"Ah kamu pintar mengambil hatiku Nom. Semoga saja kamu bisa jadi menantuku, hehehe." Salma kembali terkekeh sedangkan Naomi hanya tersenyum saja. Masalahnya dengan Boby Dirgantara saja belum beres malah ditawari untuk menjadi menantu dari seseorang yang baru dikenalnya.


"Baiklah Bu saya permisi ke kamar Ruby dulu, mau membersihkan diri sebelum acara dimulai."


"Ah ya silahkan. Kamu juga perlu istirahat. Baru pulang dari kampus kamu pasti lelah." Salma tersenyum seraya mempersilahkan gadis cantik yang baru dikenalnya itu untuk beristirahat. Ia sendiri ingin bergabung dengan ibu-ibu majelis taklim yang sepertinya sudah ada di beranda depan. Naomi pun melangkahkan kakinya ke arah kamar Ruby untuk bertemu dengan para sahabatnya.


"Hai Nom. Sini deh," panggil Cici saat melihat gadis itu muncul di depan pintu. Naomi pun masuk dan menghampiri sahabatnya itu.

__ADS_1


"Ada apa sih?" tanya Naomi tampak bingung.


"Lihat deh, Jovanka sudah sediain kita kaftan untuk kita pakai sebentar. Lucu-lucu banget lho," jawab Cici seraya mengeluarkan tiga set kaftan untuk mereka bertiga beserta hijab yang senada dengan warnanya.


"Wow, beneran lucu dan sangat cantik. Aku suka banget nih." Wajah Naomi tampak berbinar senang. Mini juga mendekat dan mulai ikut memilih warna yang cocok dengan yang ia inginkan.


Mereka bertiga mencoba pakaian itu setelah mandi di dalam kamar mandi Ruby. Wajah mereka tampak sangat senang dan gembira. Berbeda dengan apa yang dirasakan oleh Zion Sakti yang baru saja sampai di rumahnya.


Pria itu terpaku ditempatnya setelah mendengar percakapan dari Mama dan juga abangnya.


"Ada apa ma?" tanya Ferry dengan wajah penasarannya. Perempuan yang telah melahirkannya itu sejak tadi hanya menangis saja. Ia tidak menjawab pertanyaan putranya itu.


"Perusahaan papa mu sepertinya akan diambil alih oleh mereka Fer."


Deg


🌺🌺🌺


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍

__ADS_1


__ADS_2