Impian 3 Dara

Impian 3 Dara
Bab 32 Permohonan Bobby Dirgantara


__ADS_3

"Mini minta izin gak masuk Bob," lapor Naomi pada Boby Dirgantara pagi itu. Sang ketua tingkat nampak tak perduli. Ia hanya sibuk dengan gadget ditangannya. Ia benar-benar tampak acuh tak acuh dengan laporan gadis yang sangat disayanginya itu.


"Kamu dengar gak sih Bob?" tanya gadis itu dengan tatapan tajam. Iya benar-benar sangat kesal karena Bobby mengacuhkannya.


"Memangnya ia punya surat izin?" Boby Dirgantara akhirnya menutup aplikasi chattingnya kemudian menatap Naomi.


"Tidak ada Bob. Katanya sih ada keperluan penting yang harus dilakukannya. Jadi tolong kamu yang sampaikan pada dosen ya," ucap gadis itu lagi sebelum berlalu dari hadapan sang ketua tingkat.


"Minta tolong gak gitu caranya," ujar pria itu dengan nada sinis. Langkah Naomi langsung terhenti. Ia langsung berbalik dan melihat mantan pacarnya yang sudah ia putuskan sepihak itu.


"Tentu saja aku ini minta tolong. Mini kan teman kamu juga masak nggak bisa ngerti sih," balas gadis itu dengan wajah yang tampak kembali kesal.


"Ya udah, aku akan bilang sama prof langsung. Tap kalau boleh tahu kok kamu bisa kesel banget sih sama aku Nom? Apa salah aku? Kalau ada yang kamu tidak suka kenapa kamu tidak sampaikan. Jangan langsung main putus aja. Nggak dewasa banget tau nggak." Bobby Dirgantara menunjukkan wajah protesnya.


Rupanya ia masih tidak puas dengan keputusan Naomi yang memutuskannya secara sepihak beberapa saat yang lalu.


"Aku mau putus atau tidak itu urusan aku Bob. Nggak perlu punya alasan 'kan?"


"Kamu nggak dewasa Nom!" ujar Bobby dengan nada datar. Naomi langsung mendengus.


"Kamu yang nggak dewasa karena suka memaksakan kehendak padahal aku nggak suka."


"Di bagian mana aku sering memaksakan kehendak padamu?" tanya pria itu Dena tatapan lurus pada sang mantan.


"Katakan saja supaya aku bisa merubahnya kalau itu memang tidak kamu suka," lanjut pria itu berucap dengan berusaha untuk tenang. Ia benar-benar tidak rela jika perempuan itu memutuskan hubungan dengannya.


"Kamu nggak mikir apa saja yang aku tidak suka Bob?" Naomi menatap mantan pacarnya itu dengan dada sesak. Sesungguhnya ia juga sangat berat berpisah dengan pria itu. Bagaimanapun juga Bobby banyak berjasa dalam memberikan bantuan padanya.


"Katakan Nom, katakan saja. Karena aku 'kan tidak tahu kalau kamu tidak mengatakannya." Bobby berdiri dari duduknya dan meraih tangan gadis itu. Ia membawanya ke sudut ruangan agar ia bisa mengobrol lebih bebas.


"Lepaskan tanganku Bob. Apa kata orang nanti." sentak gadis itu dan membuat mobil langsung melepaskan tangannya.

__ADS_1


"Okey baiklah. Maafkan aku, tapi kita bisa bicara 'kan?" Pria itu mengangkat kedua tangannya untuk membuktikan bahwa ia tak akan menyentuh Naomi jika gadis itu tidak menginginkannya.


Naomi pun duduk pada sebuah kursi yang sudah disiapkan oleh mantan pacarnya itu.


"Katakan apa yang ingin kamu inginkan. Aku tidak bisa berlama-lama di tempat ini. semua teman kelas sudah tahu kalau kita tidak punya hubungan lagi."


"Kamu kejam sekali Nom. Meskipun kita sudah putus tapi bukankah kita masih berteman. Apa aku seburuk itu sampai kamu tidak ingin lagi berbicara denganku dan hanya memperdulikan apa kata orang?" Naomi mendengus kemudian menatap pria itu dengan tatapan tajam.


"Kamu sengaja mengulur-ulur waktu ya. Ayo katakan saja apa yang kamu inginkan sebelum dosen datang dan memulai pembelajarannya."


"Naomi plis, kalau kamu tidak ingin berhubungan lagi denganku setidaknya kita bisa berteman seperti biasa Nom, jangan menyiksaku seperti ini." Bobby berucap dengan tatapan lurus ke dalam mata perempuan yang sangat disukainya itu. Ia berharap dengan begitu Naomi bisa mengubah keputusannya.


"Okey, baiklah. Kita tetap akan berteman dan aku harap kamu tahu batasanmu. Tidak menyentuhku sembarangan dan ya tidak mengatur-ngatur kehidupan aku!" tegas Naomi dengan wajah serius.


Gadis itu pun berdiri dari duduknya karena ia pikir apa yang mereka ingin bicarakan sudah sangat jelas.


"Terima kasih banyak Nom," ucap pria itu kemudian ikut berdiri. Mereka berdua kembali ke tempat duduk masing-masing karena dosen yang akan mengajar pun sudah datang.


Naomi duduk di samping sahabatnya itu lalu menjawab, "Cuma mau menanyakan kenapa aku memutuskannya Jo."


Gadis itu mengeluarkan alat tulisnya dari dalam tasnya kemudian memandang Bobby yang ternyata juga sedang memandanginya dengan tatapan sendu.


"Oh gitu? Aku kok kasihan banget sama dia ya,Terus kamu gimana? Masih mau nyambung nggak?"


"Enggaklah. Kami berdua sepakat untuk menjadi teman saja seperti biasa sebelum kami jadian." Naomi menjawab seraya mengalihkan pandangannya dari pria itu.


"Nah itu 'kan bagus. Tak boleh ada yang bermusuhan di antara kalian apalagi kita juga sering ikut-ikutan jadi korban hahaha." Jovanka tertawa dengan sangat renyah. Ia jadi teringat dengan perseteruannya beberapa hari yang lalu dengan pria itu.


"Aku jadi kasihan sama Bobby dan sepertinya aku harus minta maaf deh sama dia," ujar Jovanka dengan wajah berubah kasihan pada sahabat sekaligus ketua tingkatnya itu.


"Wah, nampaknya Bobby memang punya wajah yang pantas dikasihani ya, hahaha," celetuk Cici ikut tertawa.

__ADS_1


"Naomi stres karena sudah memutuskannya hanya karena kasihan ckckck, benar-benar tuh orang," lanjut gadis itu yang tiba-tiba disetujui oleh Naomi dan Jovanka.


Karakter Bobby Dirgantara yang memang baik hati tapi kadang mengesalkan di waktu-waktu tertentu itu memang gampang mendapatkan rasa kasihan.


"Ah sudahlah. jangan bahas Bobby lagi deh. Aku takut jadi baper dan akhirnya menerima perasaannya kembali," ujar Naomi dengan wajah ditekuk seram.


"Eh nggak apa-apa juga kali kalau memang kamu masih nyaman untuk kembali daripada nyiksa hati sendiri ya 'kan?" ujar Jovanka tersenyum.


"Yap betul banget tuh. Daripada nyiksa hati sendiri kan?" timpal Cici dengan kedipan mata lucu pada Jovanka.


"Udah ah, tuh dosen udah ada di depan kelas. Jangan bahas dia lagi, nanti tambah besar kepala dia," ujar Naomi dengan bibir mencebik.


"Hahaha," Cici dan Jovanka langsung saling berpandangan kemudian tertawa bersama.


"Ah, Mini lagi ngurus apaan sih sampai nggak ngampus kayak gini aku kok khawatir ya?" Jovanka tiba-tiba saja merasa tidak nyaman karena ketiadaan salah satu sahabatnya.


"iya ya kok tiba-tiba punya urusan kayak gimana gitu padahal kan semalam kita sama-sama dan dia tidak mengatakan kalau akan minta izin hari ini." Naomi ikut menimpali. Ternyata kebahagiaan mereka tidak lengkap kalau Mini tidak ada juga di sana.


"ya udah bentar kalau kita udah selesai kuliah nanti kita hubungin dia lagi ya, Siapa tahu 'kan ada masalah trus kita bisa bantuin," ujar Cici memberi usul.


"Iya, sekarang perhatikan dosen tuh bentar lagi nama kita dipanggil untuk menjelaskan tugas pekan lalu," tegur Naomi karena ia baru sadar kalau sejak tadi mereka hanya sibuk mengobrol dan tidak memperhatikan penjelasan dari dosen yang berdiri di depan kelas mereka.


Tiga perempuan itu pun mengalihkan perhatiannya ke arah depan dan tidak lagi membahas tentang bobby maupun Mini.


🌺🌺🌺


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor. ingat untuk klik like ketik komentar dan tap favorit ya dan juga kirim hadiahnya yang super banyak agar otot semangat lagi updatenya oke?


Nikmati alurnya dan happy reading 😊

__ADS_1


__ADS_2