Impian 3 Dara

Impian 3 Dara
Bab 41 Kasak-kusuk


__ADS_3

"Kamu kurang sehat sayang, aku takut kamu semakin mabuk dan akhirnya mual dan muntah," ujar Zion tersenyum. Ia tahu kalau istrinya itu sepertinya lebih ingin makan daging mentah miliknya daripada daging rendang daging yang sudah ia beli.


"Iya deh kak," balas Mini dengan wajah yang nampak kecewa. Rupanya ia sudah mulai terpancing saat suaminya memberikan perawatan pada seluruh tubuhnya dengan penuh kasih sayang.


"Aku juga sangat ingin sayang, tapi kamu sedang tidak sehat. Aku takut jadi suami yang sangat kejam jika tidak mempertimbangkan keadaanmu." Zion mengelus lembut pucuk kepala sang istri kemudian mencium keningnya.


"Kamu makan saja dulu. Aku sudah membelikan roti dan susu yang bisa kamu konsumsi untuk mendapatkan tenagamu. Setelah itu kamu bisa minum obat sayang," lanjutnya seraya meraih kresek yang berisi beberapa potong roti dan susu kesukaan istrinya.


"Haaa buka mulut," ucap Zion seraya memberikan potongan roti kedalam mulut sang istri.


"Kak, kamu baik sekali padaku," ucap Mini seraya mengunyah roti itu dengan tatapan tak lepas dari wajah tampan suaminya.


"Kamu yang baik padaku sayang. Kamu sudah mau hidup susah denganku di tempat ini dan tidak pernah mengeluh." Zion tersenyum kemudian memberikan sebuah susu kotak agar istrinya bisa menambah tenaganya dengan meminum susu itu.


"Gimana? Udah agak baikan belum?" tanya Zion setelah beberapa menit istrinya itu menghabiskan dua potong roti dan satu kotak susu.


Mini tidak menjawab karena tiba-tiba saja ia merasakan mual kembali. Rasa pusing kembali datang.


"Ueeek hmmmpt..."


Zion langsung memberikan kresek kosong untuk tempat muntah istrinya. Perasaannya sudah mulai khawatir akan keadaan sang istri. Tiba-tiba ia merasa sangat takut akan sebuah penyakit yang berbahaya yang diderita oleh Mini.


"Sayang, kita ke rumah sakit ya," ujar pria itu seraya memakaikan hijab pada sang istri. Sebuah celana panjang ia pakaikan juga untuk menutupi tubuh istrinya yang hanya memakai pakaian ala kadarnya itu.


Mini pasrah saja. Tubuhnya sungguh tidak bisa bekerjasama saat ini. Ia akhirnya tumbang dan tak sadarkan diri.


"Mini sayang, hey bangun!" Zion berteriak keras karena perempuan yang sangat dicintainya itu tidak bergerak lagi. Ia pun mengarahkan telunjuknya pada lubang hidung istrinya.


"Mini, jangan buat aku takut sayang. Ayo bangun!" teriaknya dengan keras seraya mengguncang-guncang tubuh istrinya. Akan tetapi Mini betul-betul tidak merespon apa yang ia lakukan. Ia pun mengangkat tubuh istrinya itu keluar dari ruangan dengan perasaan yang sangat khawatir.


Beberapa orang yang lalu lalang di dalam gedung itu begitu kaget melihat seorang sekuriti di Perusahaan besar itu membawa seorang perempuan dari dalam ruangan gudang.

__ADS_1


Kasak-kusuk pun terdengar. Ada banyak prasangka yang muncul di dalam pikiran mereka. Kebanyakan mereka berprasangka buruk dan akhirnya berakibat menimbulkan cerita yang tidak bagus untuk didengar.


"Pak Zion, siapa itu?!" tanya salah seorang karyawan yang cukup mengenalnya dengan baik.


"Istri saya pak. Lagi pingsan dan kalau boleh tolong panggilkan taksi ya pak." Zion menjawab seraya meminta dengan sangat bantuan dari pria itu.


"Pakai mobil saya saja pak Yon. Ayo kita ke valet sekarang." Pria yang bernama Dony itu langsung membawa Zion ke arah mobilnya yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang.


Tak lama kemudian mereka pun berangkat meninggalkan perusahaan besar itu menuju ke Rumah Sakit.


Zion Sakti tak pernah berhenti berdoa agar istrinya baik-baik saja. Sungguh, ia sangat takut dan juga khawatir. Dony yang membawa mobil hanya diam saja dengan segala pikiran yang berkelebat dalam pikirannya.


Pria itu tak pernah tahu kalau sekuriti muda itu ternyata sudah punya istri dan juga tinggal di dalam gudang yang tak pernah dipakai itu.


Ciiit


Mobil itu pun berhenti di depan rumah sakit bersamaan dengan Mini yang sudah siuman.


"Alhamdulillah. Kamu udah sadar sayang. Kamu bikin aku takut," jawab Zion seraya mengecup kening istrinya. Ia pun membantu perempuan itu turun dari mobil.


"Makasih banyak ya Pak," ujar Zion dengan perasaan yang sangat terharu. Ada yang membantunya disaat genting seperti ini adalah anugrah yang tak ternilai harganya.


"Gak apa-apa Pak Yon. Kita kan memang harus saling menolong. Baiklah, saya kembali ke Perusahaan ya, ini udah waktunya masuk."


"Iya pak. Terima kasih banyak. Dan tolong sampaikan masalah saya ini pada Pak Heru di bagian HRD kalau saya izin."


"Iya. jaga istrinya dengan baik dan semoga cuma masuk angin biasa supaya Pak Iyon bisa langsung pulang."


"Iya pak. Terima kasih banyak."


Pria yang bernama Dony itu pun kembali ke Perusahaan setelah memberikan beberapa langkah lembar pecahan seratusan ribu untuk biaya berobat istri Zion.

__ADS_1


Zion pun segera masuk ke dalam ruangan IGD menemui istrinya yang sedang diberikan penanganan cepat oleh tim dokter di sana.


Sementara itu Perusahaan tempat Zion bekerja tampak ramai dibeberapa divisi.


Kedatangan Presiden Direktur yang selama ini sibuk mengurusi perusahaannya yang lain disambut oleh berita-berita yang tidak menyenangkan di hampir semua divisi.


Rata-rata karyawan itu membicarakan tentang seorang security yang melanggar aturan kerja di dalam Perusahaan itu.


Sebuah peraturan bahwa tidak ada yang boleh tinggal dan hidup di dalam gedung perusahaan tanpa izin tertulis dari Presiden Direktur apalagi ini membawa seorang perempuan yang tidak dikenal.


Prasetyo Mandala langsung memanggil kepala bagian HRD untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"Pak Heru, jelaskan apa sebenarnya yang telah terjadi disini!" titah sang presiden direktur saat Heru Setiawan sudah duduk menunduk di depan mejanya.


"Maafkan saya pak. Saya yang bersalah karena mengizinkan sekuriti baru itu untuk tinggal di gudang. Saya siap melaksanakan sanksinya pak." Heru tak berani mengangkat wajahnya ya benar-benar takut pada Prasetyo Mandala yang terkenal sangat tegas di setiap aturan di dalam perusahaannya.


"Baguslah kalau pak Heru menyadari bahwa itu adalah sebuah kesalahan besar yang bapak lakukan tanpa sepengetahuan pimpinan tertinggi di Perusahaan ini. Apalagi karyawan itu kedapatan membawa seorang perempuan yang pak Heru tidak tahu apakah mereka mempunyai hubungan yang halal atau tidak."


"Dia mengaku kalau perempuan itu istrinya pak. Mereka adalah pengantin baru dan tidak punya uang untuk mengontrak rumah selama bekerja di tempat ini. Maafkan saya karena sudah membiarkan mereka tinggal disini pak." Heru mengangkat wajahnya dan memandang wajah presiden direktur itu yang tampak melemah.


"Siapa namanya pak Heru?"


"Zion Sakti Pak."


"A-apa?!"


🌺🌺🌺


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dulu ya kemudian ketik komentar agar author semangat updatenya oke?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan Heppy reading 😊


__ADS_2