
"Mas, aku mau minta izin dulu ya," ucap Jovanka di depan sang suami.
"Mau ke mana sih? Nggak nungguin aku dulu? Aku bentar lagi selesai di kelas pasca sarjana sayang," jawab Radith Aditya seraya meraih tangan sang istri agar mau duduk disampingnya. Saat ini Jovanka menemuinya di ruang kerjanya sebagai dekan fakultas manajemen.
"Aku udah janji sama Naomi dan Cici mau lapor ke kantor polisi mas." Jovanka menjawab kemudian mendudukkan dirinya sesuai permintaan sang suami. Radith Aditya langsung menegakkan punggungnya mendengar perkataan sang istri.
"Eh, mau lapor apa sampai ke kantor polisi segala. Ada masalah besar ya?" tanyanya dengan wajah serius.
"Mini Geraldine sahabat aku mas. Dia kok ngilang gitu ya? Udah sebulan ini gak masuk kampus."
"Ah iya ya. Tapi kenapa harus lapor ke kantor polisi. Emangnya kamu dan teman-temanmu itu sudah mencarinya di rumahnya?" tanya sang suami dengan kening berkerut bingung.
"Udah mas, Cici sama Kak Zain dari sana untuk ngantar undangan pernikahan mereka tapi rumah itu pun terkunci rapat dan nampak tak berpenghuni gitu."
"Udah ditelpon?"
"Udah mas tapi gak ada yang tersambung, baik itu Mini maupun kak Zion." Jovanka menghela nafasnya. Ia benar-benar bingung juga dibuatnya.
"Ya udah, aku coba telpon ke kantor polisi dan juga rumah sakit. Biasanya mencari orang hilang itu tempat yang paling tepatnya ya di dua tempat itu." Pria itu langsung meraih handphonenya dan menghubungi seorang sahabat yang sudah berpangkat sebagai reserse di polres Metro.
"Ah iya nih. Mau minta tolong dicarikan informasi tentang satu keluarga di daerah X dengan ciri-ciri yang akan aku kirimkan ini ya Dan," ucap Radit Aditya saat sambungan telepon itu sudah tersambung dengan seseorang yang mempunyai kedudukan penting di kantor polres Metro.
"Baik pak doktor. Kirimkan saja alamat dan juga foto orang tersebut ke nomor ini, insyaallah akan saya tindaki dengan cepat," jawab suara dari seberang dengan nada tegasnya.
"Ah iya. Terima kasih banyak Dan." Radit Aditya tersenyum kemudian menutup panggilan telepon itu. Ia pun menatap sang istri dan meminta Jovanka mengirim foto Mini dan juga Zion.
"Tunggu dulu ya mas. Aku akan cari di galeri handphoneku dulu," jawab perempuan cantik itu seraya mencari foto-foto Mini bersama dengan suaminya.
"Iya. Aku nelpon Felicia juga ya, siapa tahu dia bisa memberikan informasi dari rumah sakit."
"Iya mas. Ini aku udah dapat dan sementara aku kirim." Jovanka menjawab dengan tangan mengirim beberapa foto Mini dan juga keluarga suaminya.
Sementara itu Radith Aditya sedang menempelkan handphonenya pada kupingnya menunggu Felicia menerima telepon darinya.
"Felicia ini kemana sih? Nomornya aktif tapi kok gak diangkat lagi ngapain sih?!" kesal pria itu seraya menatap layar handphonenya.
__ADS_1
"Coba hubungi suaminya aja mas. Dia kan pimpinan rumah sakit disana." Jovanka mengusulkan karena tiba-tiba ingat tentang suami dari Felicia mantan istri dari suaminya itu.
"Ah iya ya. Aku akan mencoba menghubungi Daren." Radith Aditya tersenyum kemudian segera mencari nomor handphone pimpinan rumah sakit itu.
Drrrt
Drrrt
Drrrt
Daren memandang handphonenya yang kini bergantian berbunyi dengan handphone milik istrinya. Ia benar-benar terganggu dengan bunyi alat elektronik itu yang lupa mereka matikan disaat genting seperti ini.
"Sayang, kok berhenti?" tanya Felicia yang sedang menunggu hentakan-hentakan keras dan juga cepat dari suaminya dibawah sana
"Papanya Ruby nelpon sayang, aku angkat dulu ya," jawab Darren dengan wajah tak nyaman.
"Gak perlu sayang. Enak saja mau gangguin kita. Aku nanti hilang mood lho," ujar perempuan itu merajuk. Daren mengalah. Ia akan menelpon balik pria itu setelah urusannya dengan Felicia berakhir dengan sukses.
Pria itu pun melanjutkan kegiatan mendaki gunung dan memasuki lembah surgawi tanpa mau peduli akan teriakan handphonenya yang minta diangkat.
"Ya Allah, keduanya tidak ada yang mengangkat sambungan teleponnya sayang," ujar Radith Aditya dengan wajah sedikit kesal.
"Ya udah gak apa-apa mas. Kita 'kan udah melapor ke kantor polisi jadi kita tunggu saja informasinya," ujar Jovanka seraya mengelus lembut tangan suaminya.
"Iya sayang. Aku akan menunggu saja kalau begitu." Radit Aditya tersenyum kemudian meraih tangan istrinya itu dan membawanya ke bibirnya. Ia mengecupnya dengan sangat lembut.
"Aku sangat mencintaimu Jo," ujar Radith terbawa perasaan. Jovanka langsung tertawa lucu.
"Ih kok jadi pindah ke kita mas hihihi."
"Lho, kamu tidak percaya sayang?" tanya Radith Aditya dengan wajah dibuat merajuk. Dan hal itu semakin membuat Jovanka tertawa lucu.
Mereka berdua saling bertatapan dan saling mendekatkan wajah mereka untuk melakukan sesuatu yang sangat menyenangkan dan mendebarkan. Akan tetapi mereka langsung saling berjauhan ketika handphone milik Radith Aditya berteriak memanggil.
Mereka berdua ingin mengabaikan tetapi ternyata panggilan penting dari sahabatnya sang reserse itu.
__ADS_1
Drrrt
Drrrt
Drrrt
"Ya halo Dan!"
"Orang yang sedang pak doktor cari ada di rumah sakit X. pasien bernama Mini Geraldine sedang dirawat di ruang ugi IGD. dan menurut laporan dari anggota kami yang sedang mengurus laka lantas di sana perempuan itu sedang sendiri tak ada keluarga yang menjaganya.'
"Oh ya ampun Mini!" Jovanka langsung berteriak histeris mendengar informasi dari handphone yang sedang di loudspeaker itu.
"Oh iya makasih banyak Dan! Aku sangat berhutang budi padamu," ucap Radith Aditya sebelum menutup panggilan telepon itu.
"Kamu yang tenang sayang. Kita akan berangkat ke rumah sakit sekarang. Aku akan meminta Zain Abdullah untuk mengisi kelas aku di pasca sarjana kelas D." Pria itu pun meraih tubuh istrinya dan memeluknya berusaha untuk menenangkannya.
"Minum dulu sayang. Mini pasti baik-baik saja kok," ucap sang suami seraya memberikan sebotol air mineral pada sang istri.
"Aku udah baik kok mas. Ayo kita berangkat. Naomi dan Cici juga pasti udah lama nungguin kita." Jovanka pun berdiri dari duduknya dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan kerja sang suami.
Tak mengambil waktu lama, mereka semua pun berangkat ke rumah sakit. Dalam hati mereka berdoa semoga Mini baik-baik saja. Radith Aditya menatap istrinya yang sedang duduk disampingnya itu dengan tatapan penuh perhatian.
"Santai saja sayang, kamu sedang hamil. Gak baik kalo memikirkan yang berat-berat."
"Iya mas." Jovanka tersenyum tipis. Ia mengangguk dan berusaha menunjukkan kalau ia baik-baik saja dan tidak akan memikirkan hal yang buruk tentang sahabatnya itu.
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Hadiah bunga atau kopi dong π€.
Nikmati alurnya dan Happy Reading π
__ADS_1