Impian 3 Dara

Impian 3 Dara
Bab 24 Mencari Lowongan Kerja


__ADS_3

Zion Sakti menatap Prasetyo dengan wajah serius. Ia sungguh berharap bisa diberi kesempatan untuk membicarakan tentang nasib perusahaan peninggalan papanya. Ya, meskipun ia adalah anak angkat, ia tetap merasa sebagai anggota keluarga yang sudah membesarkannya itu.


"Kenapa berdiri saja? Duduklah. Saya sudah lama ingin bertemu denganmu."


"Ah iya om." Pria muda itu pun mendudukkan dirinya di depan meja pria yang terkenal sebagai orang terkaya di kotanya itu.


"Kamu ingin membicarakan tentang perusahaan percetakan itu?" tanya Prasetyo lagi.


"Iya om. Mama baru saja mengatakan kalau perusahaan milik papa akan diambil alih oleh om Prass." Zion langsung mengatakan maksudnya untuk membuat waktu lebih efisien. Prasetyo tersenyum tapi tidak berniat untuk menyela kata-kata pria muda itu.


"Aku mohon beri aku waktu om. Perusahaan itu hanya perusahaan kecil yang menghidupi puluhan karyawan. Dan hanya dari sana bang Ferry bekerja untuk menafkahi mama dan aku yang belum mendapatkan pekerjaan."


"Insyaallah, aku akan mencari pekerjaan dan melunasi utangnya mama om," lanjutnya dengan wajah serius.


"Kamu sudah selesai?" tanya Prasetyo setelah Zion terdiam untuk beberapa lama.


"Iya om. Dan kalau boleh tahu, berapa utangnya mama?" jawabnya balas bertanya.


"1 milyar!"


Zion mendadak tidak bisa bergerak. Jumlah itu sangatlah banyak dan apa ia bisa melunasi utang keluarganya yang katanya untuk kepentingan pribadinya itu.


"Kenapa? Apa kamu bisa bayar?" Prasetyo menatap pria muda itu yang nampak sangat kaget dengan apa yang baru saja disampaikannya.


"Insyaallah bisa kalau saya dapat pekerjaan om. Saya akan berusaha untuk melunasinya. Kasihan mama. Sekarang ia jadi sangat bersedih dengan hal ini." Prasetyo hanya tersenyum miring.


"Pekerjaan apa yang kamu inginkan? Saya punya banyak lowongan pekerjaan asalkan kamu tidak pilih-pilih. Karena ada banyak sarjana yang masih pengangguran di luar sana. Mereka tidak mau bekerja di level bawah dan terlalu membangga-banggakan ijazahnya itu. Mereka ingin bekerja yang mudah dan tidak mengeluarkan keringat. Mereka ingin bekerja di belakang meja dengan memakai dasi yang sangat rapi," ujar Prasetyo dengan senyum miring. Zion merasa tertohok dengan kata-kata pria paruh baya itu. Ia membenarkan perkataan pria itu.

__ADS_1


"Saya bisa bekerja apa saja om. Yang penting utang mama bisa segera lunas." Ia pun segera menjawab setelah berpikir matang-matang.


"Oh ya?" Prasetyo menatap pria muda itu dengan tatapan tak percaya. Zion Sakti, anak yang sangat tampan dan juga necis, putra kedua dari Rossi yang sangat ingin ia jadikan istrinya sejak dulu ternyata mau melakukan apa saja.


"Iya om. Saya bisa menjadi sopir, tukang kebun, atau mungkin satpam di rumah om ini. Saya tidak akan menggunakan ijazah saya itu om." Prasetyo tiba-tiba saja tertawa. Sedangkan Zion langsung tersenyum meringis. Ia tidak mengerti kenapa pria paruh baya yang terkenal sebagai rentenir itu jadi tertawa.


"Apa cuma sampai segini dangkalnya cara berpikir seorang ketua BEM di sebuah universitas terkenal di negara ini? Kamu pikir akan berapa lama kamu bekerja sebagai sopir sampai utang mamamu itu bisa lunas hah?!"


"Kamu perlu menjadi seorang sopir atau satpam seumur hidupmu tanpa digaji. Mau kamu?!" Zion tersentak kaget dengan pertanyaan pria itu karena ia langsung memukul meja dengan keras.


"Aku tidak tahu om." Pria itu kembali tampak berpikir. Ia sudah punya istri yang sedang belajar di universitas. Bagaimana bisa ia bekerja tanpa digaji padahal ia juga ingin menafkahi istrinya itu.


"Pulanglah dan pikirkan baik-baik. Apakah kamu sanggup membayar utang mama mu itu atau tidak. Yang jelasnya dalam waktu dekat perusahaan itu akan menjadi milik saya." Zion merasakan dadanya sesak. Saat ini, ia merasa sangat bersalah dan menyesal atas musibah yang sedang menimpa keluarganya.


"Tapi om. Saya ingin membayar utang itu bagaimana pun caranya. Mama sudah terlalu banyak menolong saya dengan merawat dan membesarkanku sampai sebesar ini. Padahal aku ini bukanlah anak kandungnya." Zion menundukkan wajahnya dengan hati nyeri. Entah kenapa ia merasa sangat sedih jika mengingat statusnya di rumah itu.


"Iya om. Bang Ferry yang mengatakan hal itu. Dan itu saya dengar sendiri."


"Sekarang kamu pulang dan katakan pada mamamu untuk menemui ku lagi di rumah ini!" Tatap pria itu dengan tajam. Aura wajahnya benar-benar sangat aneh di mata seorang Zion Sakti.


"Tapi om. Mama sedang tidak punya uang sekarang. Saya takut ia jadi sangat sedih karena ini. Jadi kumohon, biarkan aku yang mengurus ini."


"Diam kamu! Jangan pancing emosi saya atau kalian benar-benar tidak akan punya kesempatan lagi untuk mendapatkan perusahaan kecil itu!"


"Dengarkan ini baik-baik. Saya tidak suka kalau mamamu itu berani menggunakan uangku dan ketika sudah jatuh tempo seperti ini, ia malah menghindar!" Prasetyo tampak sangat marah kini. Perasaan Zion tiba-tiba jadi takut. Ia yakin bahwa nasibnya saat ini sudah berada diujung tanduk.


"Saya akan memberi tahu mama Om. Tapi kumohon jangan bentak ia seperti ini. Saya tidak akan tega jika mama menangis."

__ADS_1


"Halah pergi Kamu!" Prasetyo pun menunjuk pintu keluar. Entah kenapa ia begitu marah saat ini. Dan ia sangat ingin mendengar penjelasan dari seorang Rossy tentang sebuah masalah besar yang sedang dalam pikirannya saat ini.


Zion Sakti tak ingin menoleh lagi. Ia pun keluar dari rumah besar bak istana itu dengan cepat. Pikirannya sedang sangat mumet sekarang.


Andai ia seorang pesulap, ia akan menyulap daun kering menjadi uang yang banyak agar bisa segera melunasi utang-utang keluarganya itu tapi apa daya, ia hanya seorang manusia biasa yang tidak punya harta sedikit pun selain mamanya. Seorang perempuan yang sudah mau berbaik hati mengambilnya dari panti asuhan.


Piippp


Sebuah klakson mobil yang berbunyi sangat nyaring dan besar mengagetkannya. Ia hampir saja jatuh ke pinggir jalan karena terlalu sibuk mengkhayal.


"Astagfirullah." ucapnya dengan dada berdebar karena kaget. Ia pun menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Ia bersyukur karena tidak sempat celaka atau ia tidak akan lagi dirawat di rumah sakit karena sudah tidak punya uang lagi.


Dibutuhkan lowongan sebagai karyawan laundry. Pria itu menghentikan motornya di pinggir jalan seraya membaca tulisan lowongan pekerjaan yang terpampang di depan matanya.


"Apa aku mendaftar ini dulu sambil menunggu informasi dari pihak hotel X?" tanyanya pada dirinya sendiri.


"Atau aku cari lowongan pekerjaan lain di internet mungkin?"


Ia terus bermonolog dengan dirinya sendiri sampai tidak sadar kalau azan maghrib sudah berkumandang dan ia lupa kalau Mini sedang menunggunya di rumah Jovanka.


🌺🌺🌺


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍

__ADS_1


__ADS_2