Impian 3 Dara

Impian 3 Dara
Bab 52 Sang Pemilik Hati


__ADS_3

Cinta langsung bangun dari posisinya dibantu oleh Cici sang kakak tiri. Gadis itu langsung memandang Zain dan juga Cici bergantian. Sedangkan dua orang pasangan suami istri saling menatap dengan perasaan yang tak terbaca.


"Kak Zain kamu tega padaku hiks," ucap gadis itu seraya mengelus bagian belakangnya yang terasa sangat sakit akibat bertabrakan dengan lantai keras. Ia berpura-pura sedang menangis. Wajahnya dibuat tampak sangat menderita. Ia pun menghampiri lagi pria tampan yang sedang bertatapan dengan sang kakak tiri.


"Kak, aku minta maaf kalau tadi..." Gadis itu sengaja menggantung kalimatnya agar Cici terpengaruh. Dan betul saja, Cici langsung membuka mulutnya kemudian berucap dengan air mata yang sudah siap mengalir dari pelupuk matanya.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi disini. Dan sungguh aku sangat sedih, hatiku sangat hancur kalau kalian mau tahu."


Zain tercekat. Ia bisa merasakan perasaan yang sedang dirasakan oleh istrinya itu. Ia pun langsung menarik tangan sang istri untuk meninggalkan tempat itu.


"Kamu lihat apa yang suamimu lakukan ini kak, ia berani mendorongku saat kamu datang." Gadis itu mengadu meskipun dua orang itu sudah tampak punggungnya saja.


Ia sengaja memperbesar volume suaranya agar Cici Mendengarnya. Yang penting ia puas menyakiti hati perempuan kesayangan ayahnya itu.


Zain membuka pintu kamarnya kemudian mempersilahkan Cici masuk. Sang istri menurut tapi tidak memberikan respon apapun.


"Apa kamu percaya padanya sayang?" tanya Zain saat Cici hanya diam saja sejak tadi. Perempuan itu tidak menjawab tetapi hanya menunduk sambil menjalin jari-jemarinya. Air matanya menetes di pipinya satu-satu semakin membuktikan kalau hatinya sangat hancur sekarang ini.


"Sayang, dengarkan aku," ucap Zain seraya meraih bahu perempuan cantik yang sudah ia nikahi itu.


"Apa kamu percaya padanya sayang?" tanya pria itu lagi dengan dada sesak. Ia tahu kalau istrinya belum juga baik perasaannya saat ini. Cici hanya menatapnya dengan tatapan yang sangat sedih.


"Jawab aku Ci'! Jangan hanya diam saja?!" teriak pria itu dengan tatapan tak kalah sedihnya.


Cici Dewangga tidak mampu mengeluarkan suaranya. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ancaman adik tirinya itu benar-benar ia buktikan sekarang.

__ADS_1


Cinta mengatakan akan mengambil hal yang paling berharga darinya saat ia sedang berada dipuncak bahagia dan kini sepertinya itu telah terjadi.


"Kita akan pulang ke kota malam ini juga jika kamu tidak ingin bicara padaku," ucap Zain dengan nada tegas. Ia benar-benar tidak tahan jika hanya melihat istrinya itu hanya diam saja dengan suara tangis tertahan.


Cici hanya menatapnya sekilas kemudian melanjutkan aksi diamnya.


Zain sudah tidak tahan lagi. Ia tidak mungkin melalui malam pertama itu dengan istrinya hanya diiringi suara tangis saja.


Ia pun meraih tasnya dan memasukkan pakaiannya. Begitupun tas istrinya yang ada di samping lemari. Ia memasukkan semua pakaian istrinya dengan acak saja. Setelah itu ia menulis pesan diatas sebuah kertas untuk sang ayah mertua. Ia lalu menyimpannya di atas meja kemudian membawa semua barang-barangnya ke atas mobilnya.


"Kita kembali ke kota sekarang sayang." Pria itu menarik tangan istrinya ke arah garasi meskipun perempuan itu tampak tak memberi respon yang berarti. Tengah malam itu mereka pergi dari rumah tanpa bertemu dan berpamitan dengan ayah yang sangat mereka hormati.


"Kita akan menginap di hotel saja sayang, aku sudah ngantuk dan tak sanggup menyetir," ucap Zain saat ia merasakan kelopak matanya tak sanggup lagi untuk terbuka sedangkan rumah rumah tujuan mereka masih butuh waktu 3 jam perjalanan.


"Iya kak," jawab Cici singkat. Untuk pertama kalinya ia bicara sejak insiden tak berdarah beberapa jam yang lalu itu. Zain tersenyum. Ia bersyukur karena istrinya mau membuka mulutnya meskipun itu hanya kalimat singkat sekalipun.


Untungnya buku nikah langsung mereka dapatkan sesaat setelah ijab kabul sehingga mereka tidak akan nampak seperti sepasang pasangan mesum yang akan menginap tanpa sebuah ikatan.


"Masuklah sayang," ucap pria itu setelah pintu kamar mereka terbuka. Cici menurut. Perempuan itu pun masuk dengan membawakan kopernya yang sangat besar seolah-olah akan menginap selama berhari-hari.


"Kita akan tidur dan istirahat disini sayang, aku akan ke kamar mandi dulu ya," ucap Zain seraya menyimpan tasnya juga di depan lemari pakaian yang tersedia di dalam kamar itu. Sebuah kamar dengan single bed dan tidak terlalu mewah.


Cici membuka hijabnya dan menggantungnya di dalam lemari pakaian itu kemudian naik ke atas ranjang beralaskan seprei dan selimut putih itu.


"Kamu gak butuh ke kamar mandi dulu sayang?" tanya Zain seraya berjongkok di depan wajah sang istri yang sedang menutup matanya itu. Cici tidak menjawab tetapi kelopak matanya tampak bergerak-gerak menandakan perempuan itu tidak tertidur.

__ADS_1


"Hum baiklah. Kalau begitu istirahatlah. Kamu pasti lelah sekali," ucap Zain seraya mengecup lembut kelopak mata itu satu-satu kemudian segera pergi ke sisi lain ranjang itu.


Ia pun naik kesana kemudian menarik nafas lega. Untuk pertama kalinya dalam seharian ini ia menemukan ranjang untuk berbaring dan meluruskan punggungnya yang lumayan lelah.


Tak lama kemudian ia pun tertidur. Sedangkan tidak bagi Cici. Perempuan itu tidak bisa tidur. Perasaannya masih sangat terguncang dengan apa yang telah terjadi pada malam pertama pernikahannya.


Perlahan ia memutar posisi tubuhnya dan menghadap ke arah suaminya yang bisa tidur dengan sangat nyenyak setelah membuat hatinya sangat kecewa.


"Apa yang kalian lakukan sebelum aku datang kak?" tanyanya dengan suara pelan. Suaranya kembali tercekat karena airmata mulai menyeruak kembali dari pelupuk matanya.


"Ah tidak. Aku tidak boleh menangis dan membuat Cinta menertawaiku," ucapnya seraya menyusut air matanya.


Perempuan itu pun segera bangun dari posisinya dan menuju kamar mandi. Ia mengambil air wudhu' dan segera melaksanakan sholat isya yang tertunda. Rasanya ia ingin mengadu pada Tuhan akan perasaan sakit yang ia rasakan saat ini.


"Ya Allah, engkau maha tahu yang tersembunyi. Engkau maha tahu yang benar itu benar dan yang hanya merupakan tipuan itu hanya tipuan belaka."


"Maka berikan aku ketetapan hati untuk masalah ini. Hatiku yang engkau kuasai ini sungguh sangatlah lemah dan juga rapuh."


"Ya Allah, jadikan keluarga kami ini selalu berada di dalam lindunganMu, aamiin aamiin aamiin ya Rabb."


Cici menutup doanya dengan perasaan lega. Setidaknya ia sudah mengadu dan mengeluarkan unek-uneknya pada sang penguasa hati. Selanjutnya ia akan tidur karena ia sudah sangat lelah juga. Lelah fisik dan lelah batin.


🌺🌺🌺


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2