Impian 3 Dara

Impian 3 Dara
Bab 20 Cinta Atau Kasihan


__ADS_3

"Gak usah dipikirin Nom, Boby udah nunjukin sifat aslinya ke kita-kita. Jadi kamu udah bebas sekarang," ucap Mini seraya memberikan satu gelas es kelapa muda pada sahabatnya itu. Naomi menerimanya kemudian langsung menyeruputnya.


"Baguslah karena kamu udah putusin dia lebih cepat. Jadi kita bisa belajar dengan nyaman lagi. Emang ada enak gak enaknya sih kalau punya pacar yang sekelas dengan kita," ucap Jovanka menimpali.


"Hem, pengalaman ya buk?" tanya Cici tersenyum.


"Iya, dulu waktu SMA aku ada yang naksir di kelas dan belum jadian aja aku ini sering diprintilin kemana-mana. Serasa gak bebas aja gitu."


"Trus kalau suami satu kampus dengan kita gimana dong?" tanya Cici lagi bermaksud menggoda sahabatnya itu yang bersuamikan dosennya sendiri.


"Yah itu lain lagi masalahnya. Kalau suami memang tugasnya untuk menjaga dan memperhatikan semua urusan kita, beda sama pacar. Jadi kamu harus siap-siap karena aku dengar Kak Zen itu udah lolos loh jadi dosen tetap di fakultas ini. Itu berarti kamu akan diperhatikan juga oleh sepupuku itu," ucap Jovanka panjang lebar. Ia tersenyum pada Cici calon sepupunya itu.


"Ah yang bener Jo? Kok aku gak denger ya? Kak Zain 'kan ngajarnya di akuntansi."


"Lho emangnya Kak Zain gak bilang ke kamu? Mas Radith tuh yang narik dia kesini."


"Gak tuh, padahal semalam kami kerja tugas sampai larut tapi kak Zain gak bilang-bilang." Cici nampak cemberut tapi merasa sangat senang juga di dalam hatinya. Itu artinya ia juga bisa mengawasi kegiatan pria itu jika mereka satu fakultas.


"Ya udah. Mungkin kak Zain lupa. Tapi nanti kok pasti kamu dikasih tahu," ujar Jovanka kemudian menyeruput es kelapa muda yang ada dihadapannya. Sekilas ia memperhatikan Naomi yang tampak diam sedari tadi.


"Nom, hellow? Kamu jangan diam saja dong. Gak asyik tahu kalau kamu gak bunyi," tegur Jovanka seraya menepuk bahu sahabatnya itu.

__ADS_1


Naomi tersentak kemudian cepat-cepat tersenyum.


"Aku gak apa-apa kok. Aku cuma malas aja ngomong," ujar gadis itu seraya mengaduk-aduk es kelapanya yang baru berkurang sedikit. Mini dan kedua sahabatnya yang lain saling berpandangan kemudian mengangkat bahu mereka.


"Masih tentang Boby? Kamu nyesel putus atau gimana?" tanya Jovanka lagi.


"Gak. Aku cuma mau nanya ke kalian, apa aku sudah jahat sama Boby?" Naomi menatap ketiga sahabatnya itu bergantian.


"Kenapa kamu berkata seperti itu Nom? Kamu nyesel?" tanya Mini dengan tatapan tanyanya.


"Gak tahu aku. Aku cuma bingung dengan perasaanku sendiri." Naomi menjawab dengan perasaan tak nyaman diwajahnya.


"Kayaknya kamu perlu healing deh Nom. Kamu kayaknya stress banget tuh," ujar Mini memberi saran. Ia sendiri tidak tahu harus berkata apa pada sahabatnya itu.


"Kalau masih cinta ya gak usah diputusin lah Nom. Gak enak sama kalian berdua nanti," ujar Mini ikut prihatin.


"Atau gini deh, kamu pikirkan baik-baik. Jangan sampai perasaanmu padanya hanya sekedar kasihan tapi bukan cinta. Itu kan bisa bikin tersiksa juga." Cici ikut menimpali. Ia sendiri sulit membedakan antara kasihan dan cinta.


"Aaaaaa sebel aku. Kenapa aku dikasih cobaan seperti ini sama Tuhan sih?!" Naomi tiba-tiba berteriak keras dan berhasil memancing perhatian semua orang yang ada di dalam Cafetaria itu.


"Nom, sadar dong, jangan sampai semua orang tahu masalahmu." Cici segera meraih tangan sahabatnya itu yang sudah siap memukul meja dihadapannya.

__ADS_1


"Biarin aja Ci'! Semua teman juga sudah tahu bagaimana Boby bikin aku kesel dan malu di dalam kelas tadi. Sungguh, aku benci sama pria itu!" Naomi kembali berteriak keras.


"Ya ampun Nom, sadar dong. Di sini banyak orang loh," ujar Jovanka ikut merasa risih juga dengan gaya sahabatnya itu.


"Kita pulang yuk. Aku mau bikin acara makan-makan dirumah untuk acara empat bulanan perut aku. Jadi kita lanjutkan lagi di rumah gimana?" Jovanka cepat-cepat mengalihkan pembicaraan untuk merubah mood buruk semua orang.


"Nah, itu bagus sekali Nom. Kalau kita ada kesibukan insyaallah semua keruwetan pikiran kita akan segera baik kembali kok," ujar Cici dengan cepat.


Gadis itu benar-benar khawatir dengan salah satu sahabatnya ini yang biasanya sangat ceria dan heboh kini jadi sangat terpuruk karena keputusannya yang sepertinya justru semakin membuatnya tersiksa sendiri.


"Iya Nom. Ayo kita ke rumah Jovanka saja untuk mencari suasana baru. Aku juga akan menghubungi kak Iyon untuk meminta izin." Mini setuju dengan undangan dari Jovanka. Baginya persahabatan antara mereka berempat sangatlah penting. Dan saat ini Naomi sedang membutuhkan teman untuk berbagi cerita sedihnya.


Gadis itu pun segera menghubungi suaminya untuk meminta izin. Sedangkan Naomi dan Cici langsung keluar dari Cafetaria itu menuju mobil Jovanka. Mereka sepertinya sedang butuh suasana lain untuk menghibur hati sang sahabat.


Mereka tidak menyadari bahwa Boby Dirgantara ternyata sedang mengawasi mereka semua dari jauh. Pria itu menarik nafas berat karena sungguh telah merasa bersalah pada keempat perempuan yang telah dianggapnya sebagai sahabat itu.


🌺🌺🌺


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2