Impian 3 Dara

Impian 3 Dara
Bab 33 Rasa Sedih Dan Haru


__ADS_3

Mini Geraldine memandang layar handphonenya untuk melihat waktu. Ia merasa sangat bosan berada didalam ruangan sempit itu saja sendiri. Hanya handphonenya saja yang menemaninya yang ia non aktifkan karena tidak ingin ketiga sahabatnya itu mencari informasi tentang dirinya.


Setelah makan tadi ia sempat tertidur dengan beralaskan selimut yang ia ambil dari dalam koper suaminya.


"Ya Allah, apakah ini nasib hidupku. Padahal aku sudah membayangkan akan hidup bahagia dengan kak Iyon," ujarnya pelan seraya memandang sekeliling ruangan itu dengan hati miris.


Ia akui kalau ia adalah manusia biasa yang juga menginginkan hal yang terbaik dalam hidup.


Meskipun keinginannya untuk bersama dengan Zion sudah terpenuhi tetapi ia tetap merasa ragu apakah mereka akan sanggup menjalani hidup ini di tempat seperti ini.


"Oh astagfirullah," ucapnya dengan perasaan bersalah. Ia pun berdiri dari posisinya saat ini menuju kamar mandi waktu sholat dhuhur pun tiba. Dan ia akan mendirikan sholat. Dan tentunya is harus mengadukan masalah ini kepada Tuhan untuk mendapatkan perasaan tenang.


Memakai mukenanya dengan rapih, Ia pun segera bersiap menghadap Tuhan. Ia gunakan sebentar handphonenya untuk menunjukkan di mana arah kiblat pada tempat itu. Setelah itu ia pun salat menghadap Tuhan meminta pertolongan. Semoga apa yang mereka alami saat ini adalah hanya merupakan sebuah mimpi buruk yang sangat singkat. Dan ia berharap suaminya dan dirinya bisa segera bangun dari mimpi buruk ini.


Zion Sakti mendapatkan waktu istirahat pada saat makan siang dan salat. Pria itu datang dengan tergopoh-gopoh karena begitu khawatir dengan keadaan Mini yang ia tinggalkan sendirian selama beberapa jam ini.


Pria itu pun membuka pintu ruangan itu dan mendapati istrinya sedang salat.


Sujud panjang istrinya ia nilai sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan akan apa yang mereka rasakan saat ini. Ia pun segera mengambil air wudhu juga dan ikut sholat di tempat yang berbeda dengan sang istri.


"Ayok kita makan sayang, aku sudah beli di warung depan." Zion membuka sebuah kresek yang berisi 2 bungkus nasi dan juga dua botol air minum. Ia pun memanggil istrinya untuk makan bersama.


"Kak, kamu sudah repot-repot," ujar Mini setelah berhasil menyusut air matanya.


"Lah apanya yang repot. Ini 'kan memang sudah waktunya makan siang sayang. Dan bukan aku juga yang masak tapi Mbak Jum pemilik warung di depan itu."


"Kak, maafkan aku hiks," ujar Mini dan langsung menubruk tubuh suaminya ia menangis di sana dengan sesenggukan.


"Ada apa sayang? Kenapa kamu menangis? Dan juga kamu tidak ada salah kenapa minta maaf?" Zion tampak sangat bingung dengan apa yang terjadi pada istrinya yang tiba-tiba jadi sangat melow seperti itu.

__ADS_1


"Aku bukan istri yang baik kak. Aku sempat berpikir buruk akan masalah yang menimpa kita."


"Aku ngerti sayang. Siapa pun juga akan merasa seperti itu. Yang penting kamu mau nemenin aku menghadapi ini, insyaallah aku kuat dan kita bisa lolos dari ujian ini." Pria itu pun mengelus lembut punggung sang istri.


"Iya kak," ujar Mini masih dengan sisa tangisnya. Ia pun memandang suaminya itu yang juga sedang memandangnya.


"Kita akan bersama-sama melalui ini sayang, kamu yang sabar ya," ucap pria itu seraya meraih bibir istrinya yang sudah lama ia rindukan untuk mengobati rasa galau didalam hatinya.


Zion Sakti merengkuh pinggang istrinya itu agar lebih rapat lagi ke tubuhnya. Ia pun melumatt bibir kenyal perempuan cantik yang sangat dicintainya itu dengan sangat lembut.


Perasaan Mini pun berubah lebih baik. Ia meremass tengkuk suaminya agar pria itu bisa memperdalam lagi ciumannya.


Cukup lama mereka bertukar saliva. Saling memberi dan menerima dengan gejolak hasrat yang mulai datang menyentak-nyentak.


"Aku mencintaimu Min," bisik pria itu dengan suara dalam dan berat. Saat ini ia merasa andrenalinya sudah cukup terpacu. Inti dirinya pun sudah bangun dan sangat ingin berkunjung ke istana sang istri.


"Mini sayang, aku sangat menginginkanmu," bisiknya parau. Mini tersenyum karena ia juga menginginkan yang sama.


Akan tetapi mereka langsung bertatapan dengan wajah bingung. Tak ada ranjang yang bisa mereka tempati untuk melakukan kegiatan menyenangkan itu.


"Kak, kita makan aja dulu, tempatnya gak ada. Lain kali saja ya," ujar Mini dengan wajah berubah tak nyaman. Di dalam ruangan itu tak sesuatu pun yang mereka bisa tempati untuk duduk apalagi berbaring.


Zion nampak sangat frustasi tapi apa boleh buat, mereka tidak punya cara lain untuk melepaskan hasrat mereka berdua di tempat yang baik. Pria itu mengelus inti dirinya yang sudah berdiri dengan sangat garang di dalam celananya. Sungguh ia merasa sangat sesak dan juga sakit.


"Baiklah, kita makan," ujar pria itu pasrah. Ia akan belajar untuk berpuasa mulai saat ini. Mini mengikuti ucapan suaminya. Mereka berdua duduk melantai dan mulai makan. Keduanya tak berbicara karena masih sibuk meredakan hasrat besar yang tak tersalurkan itu.


Mini kadang mencuri-curi pandang pada sang suami yang makan dengan tenang tanpa mau menatapnya.


"Kak, aku bisa kok membantumu kalau kamu memang sangat menginginkannya," cicit Mini saat pria itu sudah selesai makan.

__ADS_1


"Membantu apa sayang?" tanya Zion pura-pura tidak mengerti. Ia menatap istrinya yang langsung tertunduk malu.


"Membantu itu, kalau kamu mau sih kak," jawab Mini masih dengan posisi menunduk.


"Membantu apa?" tanya Zion lagi. Ia benar-benar sangat senang dengan ekspresi malu-malu dari perempuan itu.


"Membantu meledak kata orang-orang hehehe," jawab Mini dan langsung menutup wajahnya.


"Ih, serem banget tuh kalau aku mau meledak. Memangnya aku ini bom yang gampang meledak sayang!" Mini semakin malu dibuatnya.


Perempuan itu langsung membersihkan sisa bungkus makanan yang sudah mereka habiskan karena begitu malu pada sang suami. Ia berusaha menghindari tatapan penuh hasrat dari suaminya.


"Min, aku harus pergi sekarang. Waktu istirahat, salat, dan makan sudah selesai. Jadi aku harus kembali ke pos satpam untuk melanjutkan pekerjaan aku sayang." Zion pun berdiri dari duduknya untuk segera kembali ke tempat kerjanya.


Tubuhnya sudah agak lebih baik karena telah mengisi perutnya dengan makanan.


"Apa aku bisa keluar dari ruangan ini kak?" tanya perempuan itu saat Zion sudah sampai di depan pintu kamar mereka.


"Jangan. Kamu jangan menunjukkan batang hidungmu saat gedung ini masih ramai oleh karyawan.


"Ah iya kak." Mini mengiyakan perkataan suaminya meskipun ia merasa sangat bosan berada di dalam ruangan itu.


🌺🌺🌺


*Bersambung.


Hai readers tersayang, like dan komentar dong biar aku semangat updatenya.


Nikmati alurnya dan Heppy reading 😊

__ADS_1


__ADS_2