Impian 3 Dara

Impian 3 Dara
Bab 51 Adik Tiri Lucknut


__ADS_3

"Cinta jaga bicaramu sayang, kamu gak lihat kalau ada anggota keluarga baru di rumah kita?" ucap Riani, sang ibu.


Cinta langsung merubah wajah juteknya menjadi sangat manis saat melihat pria tampan yang menjadi suami dari kakak tirinya itu ternyata baru muncul dari arah pintu ruang makan.


"Mari duduk sini kak Zain," ucap gadis itu seraya berdiri dari duduknya. Ia menarik sebuah kursi kosong di sampingnya agar pria itu bisa duduk.


"Terima kasih dek. Aku duduk di samping bapak saja." Zain Abdullah menolak dengan halus karena melihat ada kursi kosong di samping sang ayah mertua. Pria itu pun tentu tak ingin membuat hati istrinya terluka. Ia pun segera berjalan ke arah kursi itu dan meninggalkan sang istri di belakangnya.


Cinta langsung tersenyum mencibir, itu artinya Cici akan duduk di sampingnya karena hanya kursi itu saja yang kosong dan ia masih ada kesempatan untuk membalas saudara tirinya itu.


"Silahkan makan kak Zain," ucap gadis itu lagi seraya memberikan sebuah piring kosong pada Zain Abdullah. Padahal ada Cici yang lebih dekat dengan pria itu.


"Makanan ini aku loh yang masak sama ibu, kalau istri Kak Zain sih gak bisa masak. Maklumlah udah lama tinggal di kota." Gadis berusia 18 tahun itu sengaja menyindir saudara perempuannya yang sangat ia cemburui karena Cici selalu mendapatkan yang ia inginkan.


"Cinta, makanlah dengan tenang. Gak baik bicara seperti itu meskipun kamu hanya bercanda," tegur Dewangga dengan wajah tegasnya. Cinta langsung merasa tidak nyaman dengan teguran sang ayah.


Cici Dewangga hanya bisa tersenyum samar seraya melanjutkan makannya. Ia berpura-pura tidak melihat ekspresi kecewa dari sang adik tiri yang selalu saja ingin menjatuhkannya di depan orang lain.


Acara makan itu pun berlangsung dengan tenang dan hanya sekali-sekali diiringi oleh percakapan ringan antara Zain Abdullah dan juga Dewangga.


"Tinggallah lebih lama di sini Zain. Cici sendiri baru pulang saat libur semester tiba. Dan ayah rasa kita perlu lebih banyak berkumpul bersama sekarang."


"Aku sih mau sekali ayah. Tapi aku ada pekerjaan di kampus dan pekerjaan lain untuk usaha sendiri. Ini pun aku hanya mengambil cuti seminggu." Zain menjawab seraya menatap istrinya yang juga kebetulan sedang menatapnya.


"Hem, sayang sekali ya. Padahal ayah masih sangat ingin berkumpul seperti ini."


"Saat weekend nanti kami akan datang kok. Iyya kan kak Zain?" Cici ikut menimpali dengan mengirim senyum manisnya pada sang suami.

__ADS_1


"Iyya sayang," jawab pria itu seraya mengedipkan matanya sebelah untuk sang istri dan sialnya sempat tertangkap oleh mata julid Cinta.


"Ehem ehem ehem, aku kok rasanya keselek ya," ucap Cinta seraya meraih air putih di atas mejanya. Ia langsung meminumnya untuk meredakan rasa tak nyaman pada dirinya. Cici dan Zain tersenyum dan tak memperdulikan perkataan gadis itu.


Mereka berdua sedang merasakan perasaan jatuh cinta yang sangat indah untuk itu gangguan apapun disekitarnya tak ingin mereka pikirkan. Cinta mencibir, ia pun langsung berdiri dari duduknya dan meninggalkan meja makan itu.


"Kalian berdua bisa ke kamar untuk beristirahat. Acara hari ini memang sangat padat karena waktu kalian yang sangat singkat di rumah ini."


"Iya ayah, terimakasih banyak atas pengertianmu. Kami akan kembali ke kamar kalau begitu." Zain pun mendorong piringnya yang sudah selesai ia gunakan. Setelah itu ia berdiri dari duduknya dan mengajak sang istri untuk ikut dengannya.


"Kak Zain duluan aja. Aku akan membantu ibu membersihkan meja makan," ucap Cici seraya menunjuk piring-piring kotor yang ada di atas meja sisa mereka semua.


"Kalau begitu aku akan disini juga membantumu," ucap pria itu seraya menyusun piring-piring kotor itu dan membawanya ke dapur.


"Astaghfirullah, Zain gak usah nak. Ini adalah pekerjaan para perempuan. Kamu jangan mempermalukan keluarga kami ya," ujar Riani tak enak hati. Ia langsung menggantikan menantunya itu untuk mencuci piring-piring kotor itu.


"Kamu kembali saja ke kamarmu Zain. Cucian piring sebanyak ini bisa kok ibu kerjakan bersama dengan Cici. Iya kan Ci'?" Riani memandang wajah putri tirinya itu dengan tatapan tajam.


"Nah, kamu kembali ke kamar ya nak Zain. Istirahat yang cukup. Seharian ini kamu sudah lelah karena melayani tamu-tamu yang datang. Jadi biarkan kami saja yang melakukan pekerjaan ini." Riani tetap bertahan untuk meminta menantunya itu kembali ke kamarnya.


Zain pun akhirnya meninggalkan ruang dapur itu meskipun hatinya sangat tak rela. Ia tahu betul kalau Cici pun sangat lelah seperti dirinya dan masih harus membersihkan sisa-sisa acara pada hari itu.


Riani tersenyum samar. Hanya hari ini ia bisa membalas Cici dengan memintanya membersihkan semua sisa pesta yang sangat banyak itu. Semua anggota keluarga yang biasa membantu mereka sudah pulang dan kembali ke rumah masing-masing atas permintaannya.


Untuk menghemat waktu Cici segera mengambil semua perlengkapan dapur yang sangat kotor serta piring-piring dan apa saja yang bisa ia cuci malam itu. Sedangkan Riani meninggalkannya sendiri dengan alasan ia sedang sakit kepala karena beberapa hari ini menghabiskan waktu dengan begadang mengurusi acara pernikahan ini.


Zain yang sudah lama menunggunya di kamar sudah sangat gelisah karena istrinya itu belum kembali juga di kamar padahal waktu sudah menunjukkan tengah malam.

__ADS_1


Pria itu mondar-mandir dalam kamar dengan sangat gelisah. Akhirnya yang memutuskan untuk keluar dan mencari istrinya di dapur. Akan tetapi seorang gadis dengan tampilan yang sangat terbuka tiba-tiba saja berdiri di hadapannya di bawah cahaya remang-remang lampu di dalam ruangan itu. Gadis itu adalah Cinta sang adik tiri.


"Kak Zain mau kemana?" tanya gadis itu dengan tatapan yang sangat meresahkan semua orang yang melihatnya.


"Aku mau ke dapur, aku rasa Cici masih di sana." Zain menjawab seraya melangkahkan kakinya meninggalkan Cinta yang ada di hadapannya.


"Kak," panggil gadis itu seraya meraih tangan sang kakak ipar. Ia menggenggamnya erat dan tak ingin melepaskannya.


"Maaf ya dek. Aku sedang tidak ingin bermain-main sekarang. Lepaskan tanganku atau aku akan mengganggapmu sebagai adik yang tidak tahu malu." Zain langsung berucap dengan tegas karena ia tahu betul sifat gadis seperti itu yang sengaja menggodanya. Ia bukan anak kemarin sore yang mau saja tertipu oleh tingkah laku gadis memalukan seperti ini.


"Apa? Kakak tega mengatakan hal seperti itu padaku?!" Ucap cinta berpura-pura kaget.


"Aku ini adik yang sangat manis kak. Tidak bisakah kamu berlaku baik padaku? Dan ya aku lebih cantik daripada istrimu itu kok," lanjut gadis itu dengan tangan masih menggenggam tangan Zain.


"Kamu memang cantik dek, tapi sayangnya kecantikan itu tak kamu gunakan di tempat yang semestinya," ucap pria itu seraya menyentak tangannya dengan keras agar terlepas. Akan tetapi Cinta tidak kehabisan akal. Ia tersenyum dan langsung memeluk tubuh Zain dari belakang saat ia melihat Cici sudah berada di tempat itu.


"Kalian?" ucap Cici dengan tatapan tak percaya. Tubuhnya membeku melihat apa yang ia lihat di depan matanya. Sedangkan Zain langsung berusaha melepaskan tangan Cinta pada tubuhnya.


Pria itu bahkan mendorong tubuh adik tirinya itu dengan keras hingga terjatuh ke lantai.


"Kak Zain?!" teriak Cinta dan Cici dengan histeris.


"Cici, kita pergi dari rumah ini sekarang juga!"


🌺🌺🌺


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2