
"Keluar kamu Bobby Dirgantara! Kamu suka tidak sopan di rumah orang!" teriak Naomi histeris. Pasalnya, saat ini ia takut sekali karena pria itu berani memasuki kamarnya dengan tiba-tiba seperti itu.
"Maafkan aku Nom. Aku tidak sadar telah memasuki kamarmu," ucap pria itu dengan wajah menunduk. Ia sendiri tidak tahu kenapa ia begitu terpesona pada seorang gadis yang bernama Naomi Harun itu. Padahal begitu banyak teman kampusnya yang terang-terangan menyatakan suka padanya.
Ia pun segera keluar dari kamar gadis itu dengan berkali-kali mengucapkan istighfar karena tidak bisa menahan dirinya sendiri.
Naomi mendengus kesal. Untung saja pria itu sadar diri atau ia akan membencinya seumur hidupnya jika saja Bobby berani melakukan hal-hal yang tidak ia sukai.
Setelah memakai pakaian yang tertutup gadis itu pun keluar dan duduk di depan pria itu seraya menyerahkan sebotol minuman yang ia ambil dari lemari pendingin.
"Minum Bob, aku tidak sempat bikin kopi untuk kamu, maaf ya," ucap gadis itu dengan perasaan tak nyaman. Sejak tadi pria itu kini menunduk saja dan tak berani mengangkat wajahnya untuk melihatnya yang duduk dihadapannya.
"Kamu marah ya Bob? Maaf ya kalau kamu tersinggung dengan kata-kataku." Naomi kini merasa bersalah.
"Tidak masalah Nom, aku saja yang salah sebenarnya. Jadi, daripada aku tidak bisa menahan diri lagi, aku permisi saja." Bobby berucap seraya meraih minuman dingin itu kemudian berdiri dari duduknya. Ia benar-benar takut berada di sekitar gadis itu di dalam rumah yang sepi di tengah malam seperti ini. Mungkin lebih baik kalau ia berjaga di mobilnya sampai pagi.
"Bob, tapi aku takut sendirian disini," cicit Naomi dengan sangat pelan. Bobby menarik nafas beratnya. Ia merasa bahwa kata-kata yang diucapkan oleh Naomi merupakan undangan yang sangat berbahaya.
"Nom, kamu tahu gak? Kalau kamu sangat menyiksaku dengan caramu yang seperti itu. Aku takut Nom tak bisa mengendalikan diri. Kita hanya berdua saja di sini , dan kamu tahu kalau aku sangat menyukaimu, sangat mencintaimu, dan sangat menginginkanmu." Bobby meraup wajahnya kasar. Ia tidak mengerti apa sebenarnya mau gadis ini.
"Ya udah kamu pulang saja. Kamu sepertinya tak bisa diharapkan!" Naomi berdiri dari duduknya kemudian segera berjalan ke arah pintu. Ia pun membuka pintu rumahnya dan meminta pria itu untuk keluar.
"Nom plis. Aku ingin temani kamu disini tapi, bagaimana kalau syetan datang sebagai pihak ketiga dan membuatku khilaf. Aku takut kamu akan membenciku dan tidak mau lagi bertemu denganku."
"Itu karena di dalam otakmu hanya ada pikiran mesum. Yang kamu inginkan ya hanya yang satu itu bahwa jika orang pacaran itu pasangan akan bebas melakukan apa saja." Naomi menatap pria itu dengan tatapan tajam.
__ADS_1
Bobby Dirgantara tersenyum kemudian meraih tangan gadis itu dengan berusaha tenang. Jika bersama dengan Naomi bawaannya memang selalu mesum dan ia juga tidak tahu kenapa. Tapi ia yakin kalau ia mencintai gadis cantik ini dengan sangat tulus.
"Kita nginap di rumah aku ya malam ini. Disini gak aman tahu gak, aku akan sangat khawatir kalau meninggalkan kamu di sini sendiri."
"Lebih gak amanlah kalau itu di rumahmu dan di daerah kekuasaanmu."
"Hahaha, ada mama dan papa disana Nom. Aku bisa digoroknya kalau berani melakukan hal yang tidak-tidak sementara ada mereka di sana. Bagaimana?"
Naomi berpikir keras. Perkataan pria itu benar juga. Daripada ia berada di rumah itu sendiri sampai pagi dan tidak bisa tidur lebih baik ia ikut pria itu.
"Hum, baiklah. Aku ikut denganmu. Aku ambil bantal ku dulu ya," ujar gadis itu seraya masuk ke dalam kamarnya dan mengambil bantalnya yang selama ini selalu ia pakai kalau mau tu tidur. Sebuah tas kecil ia bawa dan isi dengan pakaian gantinya untuk dipakai besok.
Bobby Dirgantara begitu senang karena gadis itu mengikuti keinginannya.
Malam itu mereka berdua meninggalkan tempat kost Naomi menuju rumah kedua orangtuanya. Dan sekaligus ia ingin memperkenalkan Naomi pada mama dan papanya agar mereka mau memaksa gadis itu untuk menerima lamarannya.
"Hum, iya. Tapi masih bisa aku tahan kok," ucap Naomi tersenyum.
"Aku lupa ambil jaket soalnya," lanjut gadis itu seraya melompati sisa genangan air hujan pada jalanan yang mereka lewati. Pantas saja udara begitu dingin ternyata kota itu baru diguyur hujan.
Suasana malam yang semakin larut dengan cuaca yang sangat dingin itu rupanya dirasakan juga oleh pasangan suami istri yang sedang menginap di sebuah kamar hotel di kota itu. Udara yang dingin itu bukan karena sisa air hujan tapi suhu Air Conditioner yang di stel sedemikian rupa oleh Zain Abdullah.
Cici Dewangga merasakan suhu di dalam kamar itu semakin terasa sangat dingin. Ia pun tak sadar merapatkan tubuhnya ke dalam selimut tebal dimana suaminya berada. Sang suami pun membuka matanya ketika merasakan seseorang memeluknya dengan sangat posesif. Bibirnya tiba-tiba membentuk senyum. Ia pun membalas pelukan sang istri seraya menciumi wajah cantiknya.
"Cici, aku mencintaimu sayang. Jadi kumohon jangan meragukan aku ya?" ucapnya seraya menciumi seluruh permukaan wajah istrinya itu.
__ADS_1
"Hmmmpt, kak aku dingin sekali," gumam perempuan itu seperti sedang mengigau.
Perempuan itu tidak membuka matanya tetapi semakin masuk ke dalam pelukan suaminya yang terasa hangat dan bahkan mengantarkan rasa panas.
Zain semakin senang saja. Tangannya pun dengan lincah bergerak mengelus lembut punggung sang istri dari balik pakaian tidurnya.
Sebuah pengait penyanggah dua bukit indah yang sangat montok dan kenyal milik istrinya itu ia lepas perlahan.
Perempuan itu menggeliat gelisah karena tangannya semakin tak terkendali. Sang istri pun membuka matanya perlahan, dan begitu kagetnya ia karena ia sudah tidak memakai pakaian sehelai benangpun pun kecuali bahwa ia sedang berada dibawah selimut tebal yang menutupi tubuhnya.
"Kak, aaaaakh, sssshhh." Ia tak sanggup protes ketika bibir suaminya sudah menyentuh pucuk pink miliknya yang masih sangat kecil itu.
Perempuan itu hanya bisa menjambak rambut tebal Zain Abdullah yang sedang berada diatasnya, menikmati apa yang pria itu lakukan padanya.
Kamar itu pun menjadi saksi betapa mereka saling merindu dan membutuhkan untuk menyampaikan begitu banyak cinta yang mereka miliki.
Gangguan kecil yang baru saja menjadi kerikil dalam perjalanan keluarga mereka kini mereka lupakan dan buang jauh-jauh.
Mereka berdua terbang setinggi-tingginya menggapai nirwana untuk mempererat lagi hubungan yang sudah diikat dengan resmi oleh Tuhan.
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading π