Impian 3 Dara

Impian 3 Dara
Bab 48 Impian Naomi


__ADS_3

"Mini sekarang beruntung banget ya," ucap Naomi seraya membaringkan dirinya di atas ranjang setelah membantu Cici beres-beres barang untuk dibawa pulang kampung besok pagi.


"Iya Nom.Tapi Mini sudah cukup lama juga menderita lho. Mungkin ini balasan atas kesabarannya selama ini," sahut Cici seraya ikut berbaring disamping Naomi sang sahabat.


"Iya sih, tak ada sebuah hal besar yang bisa kita dapatkan tanpa sebuah perjuangan yang sungguh-sungguh." Naomi membenarkan perkataan sang sahabat.


"Hmm ya," gumam Cici seraya menatap langit-langit kamarnya.


"Kamu enak, bentar lagi menikah dengan kak Zain. Dan aku? Hanya sisa aku sendiri yang akan tinggal di tempat kost ini. Pasti semuanya akan berubah," ujar Naomi dengan tarikan nafas beratnya.Tiba-tiba saja ia merasa akan sendiri.


"Nom, kamu tidak akan sendiri kok. Kita tetap bisa sama-sama seperti biasa, cuma bedanya ya kita tidak bisa tidur bersama lagi seperti dulu hehehe." Cici berucap seraya merubah posisinya menghadap gadis yang ada disampingnya.


"Nah itu dia masalahnya, aku juga sudah pengen punya temen tidur secepatnya seperti kalian hehehe," ujar Naomi terkekeh.


Melihat Cici yang akan melangsungkan pernikahan beberapa hari lagi di kampungnya, ia juga jadi ingin merasakan hal yang sama.


"Gimana dengan Bobby, apa kalian benar-benar gak mau balikan lagi Nom?" tanya Cici dengan wajah serius.


"Entahlah Ci' anak itu selalu minta balikan tapi aku gak yakin sih. Soalnya kita berdua masih ingusan gitu. Belum ada yang punya kerjaan dan masih nunggu jajan dari emak dan bapak. Meskipun ia serius banget mau melamar aku."


"Ya ampun Nom, jadi itu masalahmu dengannya?" Cici nampak sangat kaget dibuatnya. Ia pikir Naomi memutuskan hubungan dengan pria itu karena kelakuannya yang suka minta yang aneh-aneh pada Naomi.


"Ya, itu salah satunya Ci' meskipun ia sudah berjanji tidak akan menyentuh dan meminta hal-hal yang tidak boleh ia minta." Naomi menjelaskan agar sahabatnya itu mengerti kegundahannya.


"Kamu gak usah mikirin itu terus dong. Soal rezeki itu bisa dicari yang penting kita mau berusaha."


"Ya, kamu bisa berbicara seperti itu karena Kak Zain udah punya pekerjaan tetap. Lah Bobby, gayanya aja yang banyak. Pakai mobil ke kampus tapi mobil milik bapaknya." Naomi mencibir.

__ADS_1


Sungguh, ia juga ingin seperti ketiga sahabatnya yang mempunyai suami dan calon suami yang sudah matang dalam usia dan juga perekonomian. Dan ia sangat yakin bahwa perempuan manapun pasti menginginkan hal yang sama dengannya.


Cici hanya bisa menghela nafas berat. Ia begitu bingung dengan sahabatnya yang satu ini yang tiba-tiba saja berubah jadi matre padahal dulunya tidak seperti itu.


"Ah sudahlah, maaf ya Nom. Aku mau bobok dulu. Dah ngantuk banget nih. Besok pagi-pagi aku akan pulang kampung untuk persiapan pesta yang sisa beberapa hari lagi."


"Iya, tidurlah. Aku akan berselancar di aplikasi jodoh sapa tahu ada pria dewasa dan kaya yang mungkin sedang mencari calon istri yang super imut kayak aku ini hihihi," ujar Naomi sembari tertawa cekikikan.


Cici tidak mau membalas perkataan sahabatnya itu, saat ini ia benar-benar mengantuk dan ingin tidur saja.


Naomi pun bangun dan meraih handphonenya yang sedang ia isi baterainya. Ia tidak merasakan kantuk sama sekali jadi ia pikir lebih baik mencari hiburan. Tadinya ia hanya bercanda saja tentang biro jodoh itu tapi entah kenapa ia jadi cukup penasaran juga dengan apa yang ia ucapkan tadi.


Aplikasi jodoh berwarna ungu itu pun ia buka.


"Wow, apakah aku harus mengisi identitas aku di sini?" tanyanya pada diri sendiri. Lama ia menimbang-nimbang akan apa yang akan ia lakukan akhirnya ia memutuskan untuk mengisi biodata itu.


"Tak apalah kalau aku masuk ke dalam aplikasi seperti ini. Sekalian untuk mencari pengalaman sih," gumamnya dengan jari sibuk mengetik ini dan itu sesuai petunjuk aplikasi yang baru ia install ke dalam handphonenya itu.


"Ini 'kan salah satu bentuk usaha juga, siapa tahu ada yang nyangkut 'kan?" ujarnya pelan seraya mengetik alamat email nya, negara asalnya, dan juga jenis kelaminnya.


Setelah ia selesai ia pun mengklik tombol berwarna hijau yang menunjukkan kalimat mencari lajang.


Beberapa nama atau Nick name pria dengan biodatanya pun muncul di layar handphonenya. Belum sempat ia berpikir untuk memilih pria mana yang akan ia temani untuk berkenalan, seorang pria lajang pun masuk kedalam akunnya dan menyapanya. Ia tersenyum, "Hum, rupanya di dunia ini bukan cuma aku yang sedang sibuk mencari jodoh hehehe," ujarnya terkekeh lucu.


"Baiklah, kita akan mencari calon suami yang insyaallah mampu membahagiakan aku," lanjutnya dengan wajah bersemangat meskipun hatinya berdebar-debar juga.


Gadis itu pun masuk ke dalam tool percakapan dan benar-benar menerima seorang pria yang mengaku sebagai lajang yang sedang terhubung dengannya.

__ADS_1


[Hai, kamu si black rose, senang berkenalan denganmu] Bad Scorpio


Naomi tersenyum karena pengguna yang bernama bad Scorpio itu langsung menyapa dirinya secara langsung dengan menyebutkan Nick namenya, yaitu black rose. Ia pun membalas dengan singkat saja. Ia terlalu nervous untuk menjawab percakapan yang sangat tiba-tiba ini.


[Hai] Black Rose


[Aku tipe pria yang sangat efisien dengan waktu. Jadi aku tidak akan berbasa-basi. Kalau kamu tidak keberatan, bisakah kita berjumpa di sebuah tempat?] Bad Scorpio.


Entah kenapa Naomi langsung ilfill dengan lawan chattingnya ini. Pria itu sepertinya sangat kaku dan tidak tahu berbasa-basi. Ia pun langsung mengucapkan selamat tinggal dan meninggalkan pria itu memberi alasan yang berarti.


"Hum, baru mulai saja bikin kesal. Gak tahu banget cara mengobrol dengan gadis cantik seperti aku." Naomi mendengus kesal dan menyimpan handphonenya.


"Hum, aku pikir akan bisa mendapatkan jodoh di aplikasi ini. Ternyata eh, bikin mood hancur saja. Dasar!" Gadis itu mencebikkan bibirnya dengan sangat kesal. Ia pun langsung menonaktifkan handphonenya kemudian membaringkan tubuhnya disamping Cici.


Gadis itu memandang sahabatnya yang sudah tertidur itu dengan tarikan nafas berat. Setelah itu ia memandang langit-langit kamarnya dengan bayangan seorang pangeran yang belum ia tahu orangnya.


"Hum, ya Allah. Berikan aku Jodoh yang terbaik, aamiin," ucapnya dengan penuh perasaan.


Dan tak lama kemudian ia pun tertidur dengan harapan akan bertemu dengan seorang spesial yang mungkin akan menjadi jodohnya meskipun itu di dunia mimpi.


🌺🌺🌺


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar yang mendukung agar hati author selalu bahagia dan bersemangat.


Bunga dan kopi boleh dong 😊

__ADS_1


Nikmati alurnya dan Heppy reading 😊


__ADS_2