Impian 3 Dara

Impian 3 Dara
Bab 38 Telat Nikah


__ADS_3

Flash back off.


Prasetyo membalik tubuh Rossi agar bisa menghadapnya. Ia pun menatap perempuan cantik itu dengan perasaan cinta dan rindu yang membuncah.


"Aku merindukanmu Ros, puluhan tahun kamu meninggalkan aku tanpa kabar sayang. Aku tersiksa," ujar Prasetyo seraya mengangkat dagu perempuan cantik itu. Mau tidak mau Rossi akhirnya membalas tatapan pria dihadapannya itu. Dengan perlahan tapi pasti pria paruh baya itu langsung meraih bibir kenyal milik perempuan cantik itu yang sudah lama ia rindukan.


Rossi tidak menolak. Ia pun sangat merindukan pria yang selalu saja ada disampingnya saat ia dalam kesulitan. Lama mereka berdua saling memagut sampai tubuh Rossi meluber bagai jelly. Rupanya ia begitu rindu akan belaian pria itu lagi.


Prasetyo segara mengangkat tubuh yang sangat dirindukannya itu dan membawanya ke dalam kamar yang sudah ia siapkan dengan sedemikian rupa. Ia tahu kalau perempuan itu akan ia dapatkan kembali seperti dulu.


"Oh, Rossy sayangku, tubuhmu semakin menantang saja sayang, dan ya rasamu ini yang tak bisa aku lupakan," bisik pria itu seraya menyentak-nyentak anggota tubuhnya dibawah sana.


Rossy terbuai, ia ingin menangisi nasibnya yang kembali jatuh kedalam kubang dosa yang telah lama ia tinggalkan akan tetapi tubuhnya tak bisa menolak kenikmatan yang jarang ia dapatkan.


"Kak, aaaaakh," dessah perempuan itu dengan suaranya yang membuat Prasetyo semakin garang. Rupanya usianya yang sudah kepala lima itu tidak juga membuat tenaganya berkurang. Ia benar-benar membuat Rossi melupakan status mereka sekarang ini. Kamar yang sangat istimewa itu menjadi saksi ia betapa ia sangat menikmati apa yang diberikan oleh pria itu.


Setelah cukup lelah melanglang buana, akhirnya mereka berdua sampai pada tujuan akhir mereka. Prasetyo meraih Rossy kedalam pelukannya. Memberikan kata-kata manis bahwa semua yang mereka lakukan karena mereka sama-sama membutuhkannya.


"Kak, apakah Tuhan masih akan memaafkan kita yang kembali melakukan dosa besar ini?" tanya perempuan itu dengan suara rendah. Sungguh, hati kecilnya mengatakan bahwa mereka telah melakukan hal yang salah lagi dan lagi.


"Aku akan bertanggung jawab sayang. Bahkan jika dunia menolakku pun aku tidak akan mundur. Aku tidak ingin berpisah lagi denganmu Rossiku. Aku akan menikahimu hari ini juga," jawab Prasetyo kemudian menciumi seluruh permukaan wajah cantik kekasih hatinya itu.


"Sekarang katakan padaku, apakah Zion adalah putraku sayang?" lanjutnya dengan tatapan lurus kedalam mata hitam Rossy.


"Iya kak. Zion adalah putramu." Rossy menjawab pertanyaan Prasetyo dengan jujur. Tak ada yang perlu disembunyikan lagi.


"Oh ya Allah, Alhamdulillah. Engkau memberikan aku keturunan juga. Aku sangat mencintaimu Rossy. Semua perusahaanku akhirnya memilki penerus." Prasetyo langsung meraih bibir Rossi dan mengulumnya sangat lembut. Sungguh, ia sangat gembira mendengar kabar ini. Ia pun segera bangkit dari posisinya.

__ADS_1


"Kakak mau apa?" tanya Rossi karena pria itu langsung mengangkat tubuhnya yang masih sangat lelah dan bahkan terasa remuk redam.


"Kita akan mandi dan bersiap," jawab pria itu seraya berjalan ke dalam kamar mandi.


Pria itu dengan telaten membersihkan tubuh sang kekasih hati sampai harum dan segar kembali. Rossy tak sadar menangis dibawah guyuran shower. "Begitu banyak waktu kita yang telah terbuang percuma kak," ucapnya sesenggukan. Dua puluh satu tahun mereka terpisah dan sama-sama menderita adalah waktu yang sangat lama.


"Kita akan mengganti waktu yang hilang itu sayang," ucap pria itu seraya memakaikan handuk pada Rossy. Setelah itu mereka pun keluar dari kamar mandi dan berpakaian kembali.


Hari itu juga mereka pergi ke rumah orang tua perempuan itu untuk melamar. Disana mereka bertemu dengan ayah dan ibu Rossy yang sudah renta.


Prasetyo tak ingin berbasa-basi lagi. Ia langsung melamar perempuan itu dan menikahinya. Saksi yang hadir adalah saudara kandung Rossy dan juga pamannya yang lain. Ia sungguh tidak ingin menunda waktu untuk melakukan sebuah kebaikan yang diberkahi.


"Terima kasih Prass. Kamu masih mau menerima Rossy disaat seperti ini," ujar pria yang dipanggil ayah oleh Rossy itu.


"Sampai kapan pun aku akan menerima Rossy paman. Bahkan jika kami sudah jadi kakek dan nenek pun aku akan menikahi nya dan menjadikannya halal untukku." Pria itu berucap dengan sangat jelas dan tegas. Semua orang yang ada di dalam rumah itu langsung terpaku. Sungguh, mereka tidak tahu kalau dua orang bersepupu itu sudah lama menjalin hubungan.


"Kami akan memberitahu mereka paman sekarang juga. Ayo sayang," ucap Prasetyo seraya meraih tangan istrinya dan segera pamit dari tempat itu. Ia harus memberi tahu dua putra Rossy tentang hubungan mereka berdua yang sudah sah.


Tak mengambil waktu lama berkendara, mereka pun sampai di rumah Rossi. Ferry menyambut mereka dengan tatapan curiga.


"Fer, mama baru saja dinikahi oleh om Prass. Dan itu berarti, kamu bisa memanggilnya papa," ujar Rossi langsung pada inti masalah. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan masalah ini karena terlalu tiba-tiba.


"A-pa? Mama tidak sedang bercanda 'kan? Apa mama juga ingin menggadaikan tubuh mama karena utang-utang Zion?!"


"Hey! Jaga mulutmu!" Prasetyo tidak tahan mendengar istrinya dihina seperti itu oleh putranya sendiri.


"Kak, biar aku yang jelaskan," ucap Rossy dengan cepat. Ia tidak mau dua pria dewasa itu saling adu mulut yang mungkin saja akan adu jotos.

__ADS_1


"Ferry, om Prass ingin bertanggung jawab pada mama nak. Makanya kami menikah. Ia ingin menjalin hubungan baik lagi dengan mama setelah kami berdua sempat ada masalah."


"Kalian berdua punya masalah?" tanya Ferry dengan dahi mengkerut.


"Ya, banyak sekali nak. Dan mama juga punya utang padanya," jawab perempuan itu berusaha menjelaskan apa yang telah terjadi.


"Perusahaan itu milik papa dan memang seharusnya Mama menyelesaikan masalah ini dengan cepat dan tentu saja mengembalikannya padaku." Ferry berucap dengan tatapan tajam.


"Baiklah, aku kembalikan perusahaan itu padamu Fer. Bukankah itu adalah peninggalan papa mu?" ujar Prasetyo dengan wajah tenang.


"Benarkah om?" Ferry nampak tidak percaya.


"Iya," jawab Prasetyo meyakinkan.


"Ingat ma. Perusahaan itu sudah dikembalikan padaku oleh om Pras. Dan itu berarti bahwa Zion tidak punya hak di sini karena ia hanyalah seorang anak angkat yang Mama ambil dari panti asuhan!"


Rahang Prasetyo mengeras dengan sempurna akan tetapi Rossy segera mengelus lembut tangannya. Ia memberi kode untuk tidak memperdulikan perkataan Ferry.


🌺🌺🌺


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor. Mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dulu kemudian berikan komentar agar author semangat updatenya oke?


Ingat untuk memberikan hadiah yang sangat banyak ya.


Nikmati alurnya dan Heppy reading 😊

__ADS_1


__ADS_2