Impian 3 Dara

Impian 3 Dara
Bab 56 Keluarga Bahagia


__ADS_3

Bobby langsung melompat ke arah dua orang yang sedang mengobrol itu. Ia menolak kalau hubungannya dan Naomi harus selesai saat itu juga.


"Jangan Pa!, aku tidak mau pisah sama Naomi."


"Ih apaan pisah, emangnya kita sudah married apa?!" Naomi mencibir tapi Bobby tidak peduli. Ia tidak mau tahu.


"Pokoknya aku gak mau pisahan sama Naomi, aku mau menikahinya Pa," ujar Bobby memaksa pria paruh baya itu layaknya seorang bocah yang sangat menginginkan sesuatu.


"Eh, tidak akan terjadi sebuah pernikahan jika salah satu mempelainya tidak setuju Bob," ujar Dirgantara seraya memandang wajah Naomi. Ia ingin tahu respon dari gadis itu dan ternyata Naomi tidak bereaksi sedikit pun.


"Jadi sepertinya kamu harus cari gadis lain saja Bob," lanjut pria paruh baya itu dengan mata berkedip pada sang putra. Bobby sudah ingin membuka mulutnya lagi tapi ia menyadari sesuatu. Papanya benar. Ia tak boleh memaksakan kehendak pada orang lain.


"Hum, baiklah. Aku akan mencoba mencari gadis lain saja, sekarang kita sarapan yuk, aku sudah lapar," ujar pria dengan ekspresi yang mulai tampak santai. Naomi mengangkat alisnya bingung.


Kok?


"Nah, gitu dong. Harus bisa berpikir logis. Kalau Naomi gak mau nikah denganmu dan hanya menganggapmu sebagai sahabatnya saja, ya terima saja. Itu juga sudah bagus karena hubungan kalian tidak putus. Kalian masih bisa saling membantu dan juga berkomunikasi." Dirgantara berucap seraya melangkahkan kakinya ke arah meja makan.


"Ayo nak, kita sarapan dulu. Kalian berdua ada kuliah gak hari ini?" Salma yang sejak tadi diam saja ikut berdiri dari duduknya dan mengajak Naomi untuk ikut sarapan.


"Ah iya, sebenarnya gak ada sih kegiatan di kampus tapi aku cuma mau ngerjain tugas makalah aja."


"Oh gitu, kalau gitu kamu kerjakan aja di sini, semua bahan ada kok di Perpustakaannya Papa." Salma memberi usul agar gadis yang sangat ia inginkan menjadi menantunya ini tidak pulang.


"Ah iya Tante, makasih banyak." Naomi tersenyum. Ia sangat suka suasana keluarga ini. Kedua orang tua sangat akrab dengan siapa saja termasuk pada putranya sendiri.


"Hai kak, aku Gina. Gadis paling cantik di rumah ini," ucap seorang gadis berseragam putih abu-abu yang baru bergabung di meja makan itu. Naomi langsung tersenyum, ia sangat senang karena ada teman baru yang cukup ramah.


"Oh hai, aku Naomi," balas gadis itu.


"Oh ini pasti kakak Naomi yang selalu diceritakan oleh Kak Bobby ya?"


"Ah masak sih? Kakakmu memang kayak gitu orangnya, suka asal aja," Naomi menjawab dengan tatapan kesal pada Bobby. Sedangkan pria itu hanya meremas tengkuknya tak nyaman.

__ADS_1


Gina tersenyum memandang keduanya. Ia sangat senang melihat interaksi dua orang itu yang nampak kayak kucing dan tikus.


"Kak Naomi cantik banget sih," ucap Gina seraya menatap kembali wajah gadis itu dengan takjub.


"Pantas saja kakak tidak pernah tertarik pada teman-teman aku yang sering numpang belajar di rumah ini, ternyata oh ternyata, hihihi," lanjut gadis itu cekikikan.


"Eh, sudah ngobrolnya. Sarapan dulu. Nanti telat lho kesekolah." Salma menegur anak-anaknya karena masih sibuk mengobrol.


"Benar 'kan kak Bob?" Gina menatap wajah kakaknya tanpa memperdulikan teguran mamanya.


"Iya bener. Sekarang makan dulu." Bobby dengan cepat menimpali. Ia tidak mau lagi Naomi menatapnya dengan kesal, karena sejak tadi hanya gadis itu yang menjadi objek percakapan di rumah itu.


Mereka pun sarapan bersama dengan diam dan khusyuk. Setelah itu Gina pamit ke sekolah dengan mengendarai motornya sendiri.


Naomi cukup tahu diri. Ia segera ikut membantu membersihkan meja makan dan mencuci piring-piring kotor di rumah itu meskipun ada asisten rumah tangga.


"Nom, kamu gak usah nyuci piring sayang," tegur Salma saat melihat gadis itu berdiri di depan wastafel dan mencuci piring-piring kotor yang sudah mereka gunakan.


"Gak apa-apa tante. Aku suka kok nyuci piring, lagipula piring kotornya nggak banyak." Naomi tetap melanjutkan kegiatannya membersihkan.


"Aku biasa nyuci piring di rumah tante, aku suka main air hehehehe," ucap Naomi terkekeh.


"Oh gitu ya? Kamu berapa bersaudara Nom?" Salma bertanya seraya menarik kursi dan duduk di belakang gadis itu.


"Aku anak bungsu dari tiga bersaudara. Dua kakakku sudah menikah."


"Orang tua masih hidup gak Nom?" tanya perempuan paruh baya itu lagi. Sungguh, ia ingin tahu lebih banyak tentang gadis ini jika ingin menjadikannya seorang menantu.


"Udah mendingan tante, sekarang aku dibiayai kuliah sama kakak sulung."


"Oh, turut berdukacita ya sayang. Kamu pasti kuat dan berhasil mengejar cita-citamu."


"Makasih banyak tante. Aamiin ya Allah," balas gadis itu seraya menyusun mengeringkan tangannya yang baru saja bermain air.

__ADS_1


"Nah, udah selesai 'kan? Kita ke kamar yuk, mumpung papa udah berangkat kerja bersama Bobby."


"Lho? Bobby udah kerja Tante? Bukannya ia masih ngampus gitu?" Naomi tampak kaget mendengar informasi ini.


"Iya, Bobby itu suka ikut bantu-bantu papanya di Perusahaan. Katanya pengen belajar. Jadi kalau dia gak ada kegiatan di kampus anak itu pasti ikut Papanya."


"Oh," ucap Naomi singkat. Ia tidak menyangka kalau Bobby sudah berpikir dewasa seperti itu diusia mereka yang masih sangat muda.


Mereka berdua pun memasuki kamar utama di rumah itu. Salma menunjukkan banyak kenangan-kenangan lama masa kecil putra-putrinya kepada gadis itu. Hingga tak terasa waktu berjalan begitu cepatnya.


Naomi sudah ingin pulang karena baru ingat kalau ia ingin mengerjakan sesuatu di tempat kostnya, yaitu mencuci pakaian kotor mumpung ia tidak ada kegiatan di kampus.


"Duh, maaf nih tante. Aku harus pulang sekarang. Aku baru ingat kalau ada hal yang harus aku kerjakan di rumah." Salma tampak kecewa. Ia sungguh tak ingin gadis itu cepat pulang.


"Mama telepon Bobby dulu ya, biar dia yang nganter kamu."


"Gak usah tante, ngerepotin nantinya. Bobby juga sedang bekerja 'kan?" Naomi tampak tak nyaman.


"Eh, ini waktunya makan siang. Anak itu pasti pulang. Ia tidak suka makan di kantin. Ia lebih suka makanan buatan mama."


"Oh gitu ya Tante?" Naomi tersenyum meringis. Ia pernah berpacaran dengan pria itu tetapi ia belum banyak tahu tentang kebiasaan Boby selama ini.


Ding dong


"Nah, tuh. Baru aja diomongin. Anak itu sudah ada di sini. Padahal mama belum masak hehehe," ucap Salma terkekeh.


Naomi ikut tertawa. Entah kenapa ia begitu nyaman dengan semua anggota keluarga pria itu. Dan sekarang ia jadi sangat ingin menjadi salah satu anggota keluarga ini.


🌺🌺🌺


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😊


__ADS_2