Impian 3 Dara

Impian 3 Dara
Bab 21 Bertemu Usman Ali Kemal


__ADS_3

"Boleh gak aku minta izin ke rumah Jovanka hari ini kak?" izin Mini pada sang suami yang ternyata sudah menunggu di parkiran Fakultas Manajemen. Rupanya pria itu tidak mengangkat telpon dan membaca pesan dari sang istri hingga ia bisa berada di tempat itu.


"Ada acara apa emangnya?" Zion balik bertanya. Ia balas menatap istrinya yang sedang menatapnya.


"Katanya mau syukuran empat bulanan kehamilannya kak. Dan kita-kita dipanggil tuh untuk ngumpul-ngumpul sekaligus bantu-bantu, hehehe," kekeh perempuan cantik itu. Zion nampak berpikir. Sebenarnya ia ada rencana membawa istrinya ke suatu tempat tapi ia juga tidak enak kalau mengganggu acara keempat sahabat itu.


"Kak? Boleh gak?" tanya Mini lagi dengan wajah khawatir karena sang suami tidak menjawab ataupun memberikan izin. Padahal ia sudah mengiyakan pada para ketiga sahabatnya kalau ia akan ikut.


Zion masih tampak berpikir dengan lama dan membuat Mini semakin gelisah. Apalagi tiga sahabatnya itu sudah berada di atas mobil Jovanka yang dikemudikan oleh sang dosen, yaitu Doktor Radith Aditya.


"Iya deh kamu bisa ikut. Acaranya jam berapa biar aku juga bisa nyusul ke sana." Mini langsung tersenyum lebar. Ia sangat lega karena sang suami memberinya izin.


"Habis magrib gitu. Zikir dan doa bersama kak. Datang sebelum magrib ya, supaya bisa berjamaah bareng." Mini menjelaskan agenda dan juga waktu acara tersebut.


"Iya, insyaallah," jawab pria itu dengan senyum diwajahnya. Mini rasanya ingin mencium pipi suaminya tapi sayangnya ini di tempat umum.


"Okey kak. Aku ikut mereka ya," ujar Mini kemudian segera pergi dari parkiran motor itu menuju ke arah mobil Jovanka yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang. Zion pun naik ke motornya dan menghidupkan mesinnya.


Kalau begitu ia masih ada waktu ke hotel tempatnya dulu magang untuk memasukkan permohonan menjadi karyawan disana. Ia pun melajukan kendaraan roda dua itu dengan kecepatan sedang. Sejak kecelakaan waktu itu, ia tidak pernah lagi mengendarai kendaraan di atas kecepatan enam puluh kilometer per jam. Ia jadi sangat menyayangi nyawa dan juga keluarganya.


Tak lama kemudian ia pun sampai di hotel itu. Penampilannya ia rapikan karena akan bertemu dengan sang manager hotel.


Meskipun ia belum diwisudah dan baru mendapatkan surat keterangan yudisium dari fakultas tetapi ia sudah ingin melamar pekerjaan agar ia bisa menafkahi istrinya tanpa harus menunggu jajan dari sang mama.


Langkahnya begitu percaya diri memasuki lobby hotel dan mencari ruangan sang manager yang sudah ia hafal tempatnya.

__ADS_1


"Silahkan duduk Yon," ujar Zacky Indra mempersilahkan. Pria muda itu pun duduk pada kursi yang ditunjuk oleh sang manager.


"Makasih banyak pak," jawab Zion tersenyum. Ia pun duduk dengan dada berdebar-debar. Ia berharap permohonannya yang ia ajukan kemarin itu sudah lolos sehingga ia diminta untuk datang menemui pria yang mempunya kedudukan tinggi di hotel mewah ini.


"Pa kabar Yon? Udah sehat kamu?" tanya pria tampan dan berpenampilan rapih itu dengan wajah ramahnya.


"Alhamdulillah sudah sehat pak. Terima kasih banyak karena udah diberi nilai yang sangat baik sewaktu aku magang di tempat ini pak," jawab Zion tersenyum.


"Oh, nilai itu pantas buatmu yang memang sangat berdedikasi tinggi pada tempat ini. Dan perlu kamu ketahui kalau kami sangat menyukai kedisiplinan dan juga kejujuran."


"Terimakasih banyak pak." Zion membungkukkan badannya dengan hormat.


"Eh ngomong-ngomong, Aku sudah melihat permohonanmu Yon dan aku sangat senang dengan keinginan kamu untuk bekerja di tempat ini. Meskipun kamu pasti tahu sendiri kalau persyaratan admistrasi nya belum terpenuhi dengan baik."


Zion Sakti meringis tak nyaman. Ia tahu kalau ia belum menyertakan foto kopi ijazah terakhirnya karena memang belum selesai.


Zion Sakti tersenyum meskipun sangat kecewa. Ia terlalu berharap tapi apa boleh buat, ia harus sabar menunggu atau ia akan mencari pekerjaan lain yang lebih cepat.


"Terimakasih banyak pak. Aku memang terlalu bersemangat sampai tidak mencoba cari tahu terlebih dahulu tentang lowongan pekerjaan di tempat ini."


"Ah gak apa-apa. Itu kan bagian dari usaha Yon," ujar Zacky Indra tersenyum. Ia suka dengan anak muda yang punya semangat untuk bekerja seperti pria dihadapannya ini. Karena ada banyak mahasiswa yang sangat menikmati kiriman jajan dari orang tuanya saja tanpa mau bekerja.


"Kalau begitu aku permisi pak, terimakasih banyak atas waktunya." Zion Sakti pun meminta pamit untuk pulang ke rumahnya. Ia akan mandi dan berganti pakaian kemudian mendatangi rumah Dr. Radith Aditya dimana istrinya berada.


"Nomor handphonemu ada di dalam berkas permohonan kamu kan Yon?" tanya Zacky Indra sebelum pria muda itu keluar dari ruangannya.

__ADS_1


"Ah Iya pak. Ada di dalam map."


"Baiklah, tunggu informasi dari pihak hotel jika sewaktu-waktu kamu dibutuhkan."


"Baik pak, siap terimakasih." Zion pun keluar dari ruangan sang manager. Ia melihat jam tangannya dan berusaha untuk menghitung waktu antara ia pulang ke rumahnya dulu atau langsung ke rumah Jovanka.


"Aaaawww! Ya ampun mas, kalau jalan yang lihat-lihat jalan dong," tegur seseorang yang tak sengaja ia tabrak. Pria itu pun mengangkat wajahnya dan melihat siapa yang sedang mengeluh padanya.


"Maaf mbak, gak sengaja," ujarnya dengan wajah yang tampak sangat bersalah. Apalagi gadis itu sedang didampingi oleh walikota dan juga keluarganya.


Pria itu jadi khawatir kalau-kalau keluarga nomor satu di kota itu adalah keluarga sombong seperti yang ia lihat pada keluarga pejabat pada umumnya.


"Asma, kamu gak apa-apa sayang?" tanya Fardan Larigau sang tunangan.


Gadis yang bernama Asma itu hanya tersenyum meringis seraya menunjuk handphonenya yang sempat terlempar karena insiden tabrakan tadi. Fardan Larigau segera mengambil handphone itu mendahului Zion yang juga ingin mengambil benda pipih elektronik itu.


"Maaf, aku tadi kaget aja sih, jadi reflek berteriak," ujar Asma tak enak hati karena melihat pria dihadapannya tampak merasa sangat bersalah. Zion begitu kaget karena gadis itu yang malah meminta maaf atas kesalahannya.


"Ya udah, ayok kita pulang, maafkan adik kami ya," ujar sang walikota ikut-ikutan meminta maaf. Zion hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal melihat kejadian barusan. Rupanya keluarga walikota itu memang benar-benar baik seperti yang orang cerita selama ini. Mereka semua low profile.


Ia pun akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumahnya karena masih ada waktu untuk mandi dan mengganti pakaiannya.


🌺


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2