
Malam itu, Naomi Harun, memilih kembali ke tempat kostnya meskipun Mini dan suaminya memaksa. Gadis itu merasa tak nyaman berada di rumah sang sahabat. Bagaimanapun sederhana dan sempitnya kamarnya sendiri. Ia sudah sangat nyaman disana.
"Kamu gak asyik lho Nom, masak mau nginap di tempat kost kamu padahal gak ada temannya," ucap Mini menggerutu kesal karena sang sahabat benar-benar bertahan ingin kembali ke tempat kostnya sendiri padahal malam sudah larut.
"Lain kali aja deh aku nginap di rumah kamu. Aku lagi rindu berat nih sama kasur dan bantal guling aku," ucap Naomi memberi alasan. Gadis itu pun turun dari mobil yang dikendarai oleh Zion dan melambaikan tangan.
"Makasih banyak ya," ujarnya lagi pada sang sahabat sebelum mobil itu benar-benar pergi dari hadapannya.
"Hubungi kami kalau kamu berubah pikiran ya," ujar Mini dengan senyum diwajahnya. Naomi hanya mengangkat jempolnya kemudian berlari masuk ke dalam rumahnya.
"Kak, gimana kalau kita jodohkan Naomi sama bang Ferry," ujar Mini dan langsung mendapat tatapan dari suaminya.
"Kenapa? Kamu gak setuju ya?" tanya perempuan itu tak nyaman. Ia tahu betul kalau hubungannya dengan Ferry, sang Abang belum terlalu akur sampai sekarang.
"Ah bukan tidak setuju. akan tetapi aku nggak mau ngancurin harapan dari body sih soalnya anak itu meminta aku untuk menjaga Naomi untuknya."
"Hah? Maksudnya?"
"Gak usah kaget gitu. Bobby bisa gila kalau Naomi dimiliki oleh orang lain. Dan aku tidak mau itu terjadi. Anak itu baik juga kok dan cukup bertanggung jawab."
"Tapi kan Naomi gak nyaman dengannya kak. Hubungan gak bisa dipaksakan lho." Mini tampak cemberut.
"Heh, gak usah serius gitu lah. Kita gak usah mikirin mereka berdua. Biarkan mereka sendiri yang menentukan kebahagiaannya sendiri."
"Tapi aku kasihan pada Naomi kak. Kami bertiga udah mempunyai pasangan masing-masing tapi Naomi masih sendiri."
"Yah, tentang jodoh. Tuhanlah yang punya kuasa sayang, gak usah kamu pikirkan itu. Kamu hanya perlu menjaga buah cinta kita di dalam kandunganmu, oke?"
"Iya deh kak." Mini akhirnya diam seraya mengelus rambut perutnya yang sudah berusia 4 bulan. Ia pun tersenyum karena karena mulai merasakan perutnya bergerak dengan sangat lembut.
"Hey ada apa? Kamu kok jadi senyum-senyum sendiri seperti itu. Lagi ingat hal lucu ya?" tanya Zion seraya melihat sekilas wajah sang istri.
"Gak kok. Bayi kita mulai bergerak kak. Lembut banget," ucap perempuan hamil itu dengan wajah cerahnya.
"Benarkah? Aku jadi tidak sabar nih merasakannya juga," ucap sang suami dengan perasaan menghangat bahagia. Ia pun menambah kecepatan mobilnya agar bisa cepat sampai di rumahnya. Ia sudah tidak sabar menyentuh perut sang istri.
Sementara itu, Naomi memasuki rumahnya kemudian menyalakan semua lampu agar ruangan-ruangan di dalam rumah itu terang dan tidak membuatnya takut jika sendiri. Sebuah tarikan nafas panjang ia lakukan karena tiba-tiba merasakan perasaan sepi yang melanda.
Pintu kamarnya ia buka kemudian ia masuk dan langsung berbaring di ranjangnya yang nampak kelihatan sangat luas karena ia hanya sendiri.
Ia pun menatap langit-langit kamarnya kemudian mengalihkannya ke sekeliling ruangan. Biasanya ada Cici di sampingnya, tapi saat ini, untuk pertama kalinya ia merasa sangat sendiri.
__ADS_1
Gadis itu pun bangun kemudian berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur kemudian kembali naik ke atas ranjang.
"Kenapa aku tidak bisa tidur ya?" tanyanya pada diri sendiri seraya membolak-balik tubuhnya dengan gelisah.
"Apakah Cici sekarang sedang melakukan malam pertama dengan suaminya ya?" tanyanya lagi kemudian dengan cepat dia memukul kepalanya sendiri karena mulai membayangkan hal yang tidak tidak.
"Astagfirullah, apa yang aku pikirkan? Apa otakku sekarang sudah bergeser?" ucapnya seraya memeluk guling.
"Oh tidak, kenapa aku jadi sangat rindu pada Bobby?" ujarnya lagi dengan perasaan tak nyaman. Ia jadi merasa malu sendiri karena memikirkan pria yang sudah pernah ingin ka lupakan.
Ia pun merah handphonenya yang ia simpan diatas nakas dekat headboard ranjangnya. Bingung dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan supaya bisa tertidur. Akhirnya ia membuka layar handphonenya, menggulirnya tapi tidak ada hal yang penting. Sepi. Semua sahabatnya tidak ada yang aktif.
"Mereka semua sedang sibuk dengan pasangan masing-masing," gerutunya kesal. Akhirnya ia bangun lagi kemudian duduk di tepi ranjang
"Aaaa kenapa aku tidak ikut menginap di rumahnya Mini saja," ujarnya dengan perasaan kesal.
"Dan Bobby, apa aku menelponnya saja ya? Aku tidak tahu kenapa tapi aku ingin mendengar suaranya, setidaknya aku bisa memintanya bicara sepanjang malam sampai aku tertidur," ucapnya seraya mencari nomor pria itu yang sudah ia anggap sebagai sahabatnya saja.
Drrrt
Drrrt
Tok
Tok
Tok
Naomi menajamkan pendengarannya karena mendengar ketukan panjang dari arah depan pintu. Suasana yang begitu sepi di tengah malam itu membuatnya gampang mendengar suara apapun.
"Ah siapa yang datang malam-malam begini? Apakah dia orang jahat?" tanyanya tanpa mau bergerak dari tempatnya.
Tok
Tok
Tok
Drrrt
Drrrt
__ADS_1
Drrrt
Naomi semakin khawatir. Bunyi pintu kini bersamaan dengan bunyi panggilan lewat alat komunikasinya.
Tok
Tok
"Naomi!" Ia tersentak kaget karena mendengar namanya dipanggil dari arah depan.
"Siapa?!" tanyanya seraya berteriak.
"Naomi!" Terdengar kembali suara itu yang semakin jelas. Ia pun segera melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya menuju ke arah pintu depan. Mengintip dari tirai jendela ia melihat punggung seorang pria tinggi atletis.
"Bobby?!" ucapnya dengan wajah tak percaya ketika ia membuka pintu rumahnya.
"Iya Nom, boleh aku masuk?" jawab pria dengan tatapan lurus pada wajah perempuan cantik tanpa hijabnya itu.
"Eh iya silahkan masuk. Kamu darimana? Kok bisa ada di sini?" tanya Naomi seraya ikut duduk di depan mantan pacarnya itu.
"Aku kebetulan lewat sini dan lihat panggilan kamu. Aku pikir kamu ada masalah jadi ya, aku putuskan untuk segera mampir." Bohong pria itu. Padahal sejak tadi ia sudah berada di sana karena telah dihubungi oleh Zion untuk menjaga gadis itu malam itu.
"Ah iya, itu tadi aku lagi butuh teman untuk ngobrol. Kamu tahu 'kan kalau Cici sudah merid. Jadi aku tinggal sendiri deh di sini."
"Hum, gitu ya. Sekarang aku sudah di sini. Aku akan menemanimu jika kamu tidak keberatan." Bobby tersenyum dengan tatapan tak lepas pada gadis kesayangannya yang sedang memakai pakaian tidur yang begitu tipis itu.
"Tapi aku keberatan kalau kita cuma berdua Bob, apalagi ini udah larut banget lho," ucap Naomi kemudian segera masuk ke kamarnya. Ia baru sadar kalau ia telah lupa memakai hijabnya. Dan mata Bobby tampak menatapnya dengan tatapan berbahaya.
"Nom, aku sungguh tidak mau kamu membenciku kalau aku mengatakan kalau aku menginginkanmu saat ini," ucap pria itu yang tiba-tiba saja sudah berada di dalam kamar gadis itu.
"Bob? Ya Allah kamu berani masuk ke kamar aku?" tanya Naomi dengan tatapan tajam pada pria itu.
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan happy reading π
Bagi hadiahnya dong π€
__ADS_1