
Rossy membuka pintu rumahnya dan membantu putra sulungnya untuk masuk. Semua ruangan tampak sangat sepi. Ia pun memandang berkeliling karena lampu yang ada di dalam rumah itu pun masih menyala padahal ini sudah siang.
Dalam hati ia bertanya ke mana Zion dan istrinya padahal hari ini adalah hari libur. berada 3 hari di rumah sakit menemani Ferry membuatnya tak pernah pulang ke rumah dan juga bertemu dengan putra keduanya itu maupun menantunya itu.
"Kamu istirahat dulu di kamar ya Fer," ujar Rossy pada sang putra yang masih berbalut perban di kepalanya.
"Iya mam." Pria itu menjawab kemudian meninggalkan sang Mama ke dalam kamarnya sendiri. Sementara itu Rossy mengangkat barang-barang ke bagian dalam rumah. Sejak beberapa hari ini, asisten rumah tangga yang biasa bekerja membantu di rumahnya sedang pulang kampung. Jadi sekarang ia sendiri yang harus mengerjakan semua pekerjaannya sendiri.
Tok
Tok
Tok
Rossi cepat-cepat menyimpan barang-barang itu di dalam ruang keluarga. Ia kembali melangkahkan kakinya ke arah pintu depan karena sebuah ketukan panjang meminta untuk dibukakan pintu.
Pintu itu pun ia buka dan melihat seseorang yang ia kenal berdiri di depan sana.
Deg
Tiba-tiba ia merasa gelisah dan khawatir akan kedatangan tamu ini. Ia yakin bahwa pria ini pasti datang untuk membicarakan utang-utangnya
"Eh, Pak Ghani. Silakan masuk pak," ucapnya mempersilahkan dengan wajah meringis khawatir.
"Ah iya bu terimakasih banyak." Pria itu pun masuk ke dalam rumah yang cukup luas itu.
"Maaf ya pak, kami baru pulang dari rumah sakit jadi rumahnya agak berantakan. Silakan duduk pak," ujar perempuan yang masih sangat cantik itu diusianya yang hampir setengah abad. Ia meminta tamunya itu untuk duduk.
"Mau minum apa pak, maaf?" tanyanya lagi menawarkan minuman.
"Gak usah repot-repot bu. Saya hanya sebentar saja kok. Jadi ibu bisa duduk disini." Pria itu sekarang yang mempersilahkan sang tuan rumah untuk duduk.
__ADS_1
"Ah iya pak. Apa ini tentang jaminan utang-utang saya Pak?" tanya Rossi dengan perasaan khawatir. Ia tahu bahwa ia telah mangkir dari panggilan Prasetyo padahal Zion sudah memberitahunya bahwa pria itu ingin bertemu dengannya secara pribadi.
"Betul sekali Bu Ros. Dan kalau bisa ibu menemui Pak Pras sekarang juga. Beliau sedang sangat marah Bu. Dan anda pasti sudah tahu 'kan bagaimana orangnya?"
"Ah iya pak Gani baiklah saya akan ikut. saya pamit pada Ferry dulu ya," ujar Rossi takut-takut. Sesungguhnya ini yang ia takutkan jika meminjam uang pada pria kaya itu meskipun mereka ada hubungan keluarga yang cukup dekat.
"Iya Bu silahkan." Ghani tersenyum dan mempersilahkan janda beranak dua itu untuk melakukan yang ia ingin lakukan sebelum bertemu dengan bosnya yaitu Prasetyo.
Rossi pun berdiri dari duduknya dan segera memasuki kamar putra sulungnya.
"Fer, mama izin keluar sebentar ya."
"Mau kemana mam?"
"Pak Ghani ada di depan. Beliau mau membawa mama menemui om Prass. Kamu nggak apa-apa kalau sendiri saja kan di sini?" Ferry menatap sang mama kemudian tersenyum.
"Iya mam. Dan tolong katakan pada om Prass bahwa Zion yang akan mengganti utang-utang Mama itu. Aku tidak setuju jika harta papa itu diambil alih oleh om Prass hanya karena kebutuhan Zion."
"Astaghfirullah Fer. Kamu masih saja menyalahkan adikmu hah? Kebutuhan Zion itu tak seberapa nak. Perusahaan itu sudah berada di ujung tanduk hingga mama meminta bantuan kepada Pak Gani. jadi Mama mohon jangan terlalu menyalahkan adikmu."
Perempuan cantik itu sungguh ingin menceritakan hal yang sebenarnya bahwa Zion benar-benar adik kandungnya sendiri tetapi melihat kondisi Ferry yang sangat membenci Zion karena mencintai Mini, membuatnya jadi ragu mengatakannya.
"Baiklah, mama pergi. Dan berdoalah semoga kita mendapatkan jalan keluar untuk masalah ini." Ferry tidak menjawab. Ia benar-benar gerah dengan masalah yang menimpa keluarganya ini.
Rossi pun keluar dari kamar itu kemudian menata sedikit penampilannya karena akan bertemu dengan seorang pria yang tidak ingin ditemuinya. Tapi apa boleh buat, pria itu adalah orang yang telah memberinya bantuan selama ini melalui pak Gani.
"Mari pak, kita berangkat sekarang," ujarnya setelah merasa sudah cukup siap lahir dan batin.
"Ah iya Bu. Mari," jawab pria paruh baya itu dan mempersilahkan Rossy untuk keluar terlebih dahulu.
Tak lama kemudian mereka berdua pun berangkat ke rumah Prasetyo yang jaraknya sekitar 30 menit berkendara.
__ADS_1
"Kita sudah sampai Bu. Silahkan," ujar Ghani setelah mereka berdua sudah tiba di depan sebuah rumah besar dan mewah. Prasetyo adalah salah satu pengusaha yang cukup sukses di kota itu.
"Terima kasih banyak Pak Gani," ucapnya setelah pria itu mengantarnya untuk masuk ke dalam rumah itu.
"Ibu duduk disini ya, saya akan memanggil pak Prass." Gani sengaja mengantar Rossi ke dalam sebuah ruangan yang cukup privat. di tempat itu ia meninggalkan Rossi kemudian mencari pemilik rumah sekaligus bosnya yaitu Prasetyo.
Rossi hanya menganggukkan kepalanya kemudian tersenyum. Ia menatap punggung pak Gani yang meninggalkannya di dalam ruangan itu seraya menarik nafas berat. Entah kenapa dia jadi merasa sangat khawatir. Ia gugup sampai merasakan tangannya dingin karena keringat.
Menunggu adalah hal yang paling ia tidak sukai. Entah di mana Prasetyo sekarang, sampai ia sudah lama menunggu di dalam ruangan itu tetapi pria itu bahkan tidak muncul setelah beberapa menit ia berada di sana.
Untuk mengurangi rasa bosannya Ia pun berdiri dari duduknya dan memperhatikan keseluruhan isi ruangan itu. perempuan itu berjalan berkeliling melihat beberapa figura yang berada di atas sebuah Buffett.
Dadanya berdesir. Semua foto-foto yang ada di dalam ruangan itu adalah foto-foto dirinya sewaktu ia masih remaja sampai sekarang.
perasaan khawatirnya semakin menjadi-jadi saja. Andaikan ia tidak ingat ingat utang-utangnya ia mungkin sudah kabur dari sana.
"Rossi, maafkan saya. Kamu sudah lama menunggu ya?" tanya seseorang dari arah belakangnya. Ia cukup kaget tapi ia berusaha bersikap biasa saja. Tangannya pun meletakkan figura-figura itu kemudian duduk di kursinya tadi.
"Apa kabar? Saya dengar putramu baru masuk rumah sakit ya?" tanya Prasetyo dengan tatapan tak biasa pada perempuan cantik itu. Nampak sekali kalau ia sangat merindukan sepupunya itu.
"Iya." jawabnya singkat.
"Dan Zion? Dimana dia?"
Deg
Rossy menatap pria dihadapannya itu dengan jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya.
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayang, jangan lupa like dan komentar ya.
Nikmati alurnya dan Heppy reading π