
"Iya pak nama anak itu Zion Sakti, usia 23 tahun." Heru menjawab dengan suara tegas. Prasetyo Mandala seketika merasakan tubuhnya membeku. Ia tidak sanggup untuk berkata-kata.
"Apa Pak Presdir mengenalnya?" tanya Heru dengan tatapan lurus kearah wajah pria itu.
"Bawa saya ke tempat anak itu. Saya ingin melihat langsung orangnya." Prasetyo langsung berdiri dari kursi kebesarannya.
Pria paruh baya itu ingin bertemu langsung dengan security baru yang bernama Zion Sakti yang sangat mirip ciri-cirinya dengan putra kandungnya sendiri.
Heru mengikuti langkah cepat Prasetyo dibelakangnya dengan perasaan campur aduk. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya dan security baru itu nantinya. Ia cuma berharap semua akan baik-baik saja.
Kasak-kusuk kembali terdengar dari beberapa karyawan yang melihat pimpinan tertinggi perusahaan itu nampak sangat serius tanpa memperdulikan keadaan sekitar. Mereka semua yakin bahwa Heru pasti akan mendapatkan hukuman karena melanggar peraturan dari Presiden direktur itu.
"Ruangannya ada di sini pak kata Heru menunjuk sebuah gudang di lantai 1 gedung pencakar langit itu."
Prasetyo nampak sudah tidak sabar membuka pintu itu. Ia bahkan tidak menunggu Heru untuk membukakan untuk dirinya.
"Maaf pak. Pintunya terkunci," ucap kepala divisi HRD itu saat sang pimpinan tidak berhasil membuka pintu itu. Prasetyo langsung menatap tajam pria itu dengan rahang mengeras. Ia sudah tidak sabar bertemu dengan security baru itu.
"Maaf Pak ini kuncinya," ujar seorang karyawan yang baru datang dengan nafas ngos-ngosan. Ia langsung memberikan anak kunci itu kepada Heru. Pria pria itu tanpa berucap sepatah kata langsung membuka pintu gudang yang ternyata sudah kosong. Prasetyo langsung masuk ke dalam ruangan itu dan melihat keseluruhan isinya. sebuah kasur tipis dengan 2 buah bantal di atasnya serta dua buah koper di sudut ruangan.
"Kemana security yang bernama Zion itu Pak Heru?" tanyanya seraya melangkah mendekati dua koper yang berisi pakaian itu. Ia berharap bisa menemukan petunjuk berupa gambar atau apa saja yang menunjukkan wajah yang dia cari.
"Maaf pak. Sepertinya ia sudah keluar dari ruangan ini dan membawa istrinya. Oh iya, pantas saja karyawan-karyawan yang bercerita itu melihat bahwa Zion pergi dari gedung ini dengan membawa seorang perempuan yang katanya sedang pingsan." Heru nampak berpikir dan mulai menghubungkan kejadian beberapa saat yang lalu dengan keadaan kosong di dalam ruangan ini."
__ADS_1
"Oh ya Allah. Tunjukkan foto atau identitas yang lain dari security itu pak Heru. Saya sungguh penasaran dengan orangnya." Prasetyo menatap Heru dengan wajah tak sabar.
"Ah iya Pak. Kebetulan ia pernah mengirim fotonya di handphone saya sewaktu dinyatakan lulus," ujar Heru dan segera meraih handphonenya. Ia pun membuka galeri di dalam benda elektronik itu dan menyerahkannya pada sang presiden direktur setelah mendapatkan gambar yang dicarinya.
"Ya Allah," ucap Prasetyo setelah melihat gambar itu. Ia merasakan hatinya remuk redam karena merasa sangat bersalah pada sang putra.
"Ada apa pak? Apakah pak Presdir mengenalnya?" tanya Heru hati-hati.
"Dia adalah penerus perusahaan ini pak Heru. Zion adalah putraku yang sudah lama saya cari."
"Oh," hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut kepala divisi HRD itu. Ia sungguh kehabisan kata-kata sekarang. Sedangkan Prasetyo langsung menatap ke sekeliling ruangan itu dengan perasaan miris.
Pria itu tak ingin membayangkan bagaimana menderitanya putranya selama sebulan di dalam tempat yang sangat pengap ini dengan hanya beralaskan kasur tipis bersama dengan istrinya.
"Saya ingin tahu di rumah sakit mana putraku membawa istrinya pak Heru. Cari informasi sekarang juga!"
Mereka pun keluar dari ruangan itu untuk segera mencari informasi tentang kemana Zion Sakti membawa istrinya berobat.
Sementara itu di rumah sakit.
Zion mencium kening istrinya dengan perasaan sedih dan juga bahagia. Ia bahagia karena istrinya dinyatakan positif hamil sedangkan sedihnya adalah, istrinya harus dirawat karena mengalami demam akibat dari tekanan darah rendah yang sedang dideritanya. Belum lagi tubuhnya juga sangat lemas.
"Kak, apa kamu senang karena aku hamil?" tanya Mini dengan wajahnya yang masih sangat pucat. Zion tersenyum seraya mencium lagi kening sang istri.
__ADS_1
"Tentu saja sayang. Aku sangat senang." Zion menjawab dengan berusaha melupakan keadaan ekonominya yang belum terlalu bagus untuk mempunyai seorang anak.
"Trus, kenapa kamu diam saja kak? Kamu tidak seperti para suami di luar sana yang bisa menunjukkan ekspresi bahagianya mendengar kabar gembira ini." Mini menatap wajah lelah suaminya dengan perasaan tak nyaman.
"Mini sayangku. Orang bahagia tidak selalu harus berteriak-teriak senang. cukuplah kita menyebut nama Allah atas segala nikmat yang ia berikan pada kita berdua sayang." Zion Sakti menatap wajah sang istri untuk memberinya penjelasan.
"Ah Iya kak. Maafkan aku kalau aku berpikir bahwa kamu tidak ingin anak dari rahimku," ucap perempuan itu dengan perasaan yang sangat sensitif. Matanya bahkan sudah nampak berkaca-kaca.
"Hey, jangan berkata seperti itu. Aku sangat senang kamu hamil, itu artinya kamu dan aku sudah dipercaya oleh Tuhan untuk membesarkan seorang bayi yang lucu."
"Jangan berpikir macam-macam ya, karena mulai sekarang kamu harus menjaga perasaanmu agar selalu bahagia."
"Iya kak."
"Nah sekarang kamu istirahat di sini ya. Aku akan ke apotek untuk menebus obatnya. Kamu juga perlu minum susu ibu hamil jadi aku mungkin akan ada di luar agak lama."
"Iya kak, aku ngerti kok."
Zion pun keluar ruangan perawatan itu seraya menghitung-hitung sisa uang yang ia miliki setelah membayar ini dan itu.
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?
Nikmati alurnya dan Heppy reading π