Impian 3 Dara

Impian 3 Dara
Bab 39 Rahasia Saudara Kandung


__ADS_3

"Fer, perusahaan dari papamu adalah milikmu seutuhnya nak. Zion memang tak punya hak disana. Jadi kamu tidak perlu menyalahkan adikmu lagi." Rossy menatap putra pertamanya itu dengan tatapan teduhnya.


"Tentu saja masalah ini karena Zion. Mama mana pernah mengerti perasaan aku!" Ferry menjawab dengan wajah yang masih menunjukkan kemarahan pada sang adik.


"Ferry stop! Jangan bicara seperti itu. Kasih sayang mama tidak pernah membeda-bedakan kalian." Rossy merasakan dadanya sesak. Ia tidak rela dituduh seperti itu oleh putranya sendiri. Selama ini ia tidak pernah membeda-bedakan kedua putranya itu.


"Mama kenapa tidak mengizinkan aku melaporkan Zion yang telah memukul aku sampai terluka seperti ini ma? Kenapa? Itu karena mama lebih menyayangi Zion daripada aku!"


"Cukup Fer! Mama tidak suka mendengarnya." Rossy menutup kupingnya karena tak sanggup mendengarkan tuduhan dari putranya itu. Ia sangat sakit hati jika anak yang pernah dikandungnya mengatakan hal itu.


Ferry tidak menjawab. Ia ingin membalas sang mama tapi ia bisa melihat Prasetyo menatapnya dengan tatapan tajam. Nampak sekali kalau pria itu tidak suka akan apa yang dikatakannya.


"Kamu tidak menyayangi mamamu Fer?" tanya Prasetyo berusaha menengahi suhu yang memanas dari dua orang ibu dan anak itu.


"Mamamu yang mengandung kalian berdua dengan perjuangan yang sangat berat selama sembilan bulan. Tidak ada yang dibeda-bedakannya karena kalian sama-sama darah dagingnya," lanjut pria paruh baya itu dengan suara tenangnya.


"Untuk itu jangan sakiti perasaan mamamu. Ia sudah cukup banyak menderita dengan menjadi seorang single parent sampai kalian sebesar ini." Prasetyo menatap Ferry dengan tatapan lurus kedalam mata pria muda itu.


"Zion tidak pernah berada dalam kandungan mama tapi kenapa perhatian mama sangat besar padanya Om?" Ferry menjawab dengan sebuah pertanyaan yang langsung berhasil membuat Prasetyo dan Rossy terhenyak kaget.


"Kenapa kamu selalu mengatakan itu Fer? Zion itu adik kandungmu. Kalian berdua berasal dari kandungan Mama yang sama. Kamu tidak percaya? Mama akan menunjukkan sebuah bukti padamu." Rossy langsung berlari ke dalam kamarnya untuk mencari album foto yang menyimpan foto-fotonya dulu sewaktu ia mengandung Zion.

__ADS_1


"Lihat ini. Ini kamu waktu masih kecil dan kamu bisa lihat kan perut Mama waktu itu. Adikmu Zionlah yang berada didalam sana. Jadi Mama mohon untuk tidak mengatakan hal itu lagi." Rossy tak bisa lagi menahan rasa sedih dari dalam hatinya. Ia pun menangis.


Perempuan itu teringat akan masa 21 tahun yang lalu ketika ia baru melahirkan Zion.


Ia harus menitipkannya ke panti asuhan karena ia takut orang akan mencibirnya karena ia hamil pada saat suaminya tidak bersama dengannya.


Dan setelah hubungannya dengan suaminya kembali membaik, ia pun datang untuk mengadopsi anak itu hingga seolah-olah Zion adalah anak angkatnya padahal bukan. Hanya dia dan Tuhan yang tahu akan rahasia besar ini.


"Benarkah Ma?" tanya Ferry dengan dengan raut muka yang mulai menunjukkan rasa bersalah.


"Iya Fer. Zion adalah adik kandungmu. Kalian lahir dari kandungan mama yang sama." Tapi dari ayah yang berbeda, lanjutnya dalam hati. Ia tidak tahu apakah ia mampu mengatakan kebenaran ini atau tidak. Ia pun menatap Prasetyo untuk meminta pertimbangan dari suaminya itu. Tapi pria itu hanya tersenyum seraya meraih bahu Rossy dan memeluknya. Ia tidak mengizinkan perempuan kesayangannya itu untuk jujur. Cukup mereka berdua saja yang tahu untuk saat ini.


"Kalau begitu maafkan aku Ma," ujar Ferry seraya meraih tangan sang mama. Tiba-tiba saja ia merasa sangat menyesal membenci adiknya seperti itu padahal mereka selama ini sangat akrab dan saling menyayangi.


"Minta maaflah pada adikmu Fer. Ia juga sudah sangat menderita dengan persangkaan buruk mu ini." Rossy berucap seraya tersenyum. Hatinya sekarang sudah lebih lega.


"Iya Ma. Tapi aku ingin minta maaf sekali lagi," ucap pria itu dengan perasaan semakin bersalah pada mama dan adiknya.


"Kenapa Fer?" tanya Rossy dengan wajah penasarannya.


"Aku telah mengusir Zion dari rumah ini ma, tolong maafkan aku."

__ADS_1


"A-apa?!" Rossy dan Prasetyo berteriak tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Ferry langsung bersujud dibawah kaki sang mama dan memohon ampun.


"Aku mengusir adikku sendiri Ma, maafkan aku. Entah dimana sekarang mereka tinggal." Ferry benar-benar merasa sangat bersalah dengan apa yang telah dilakukannya pada sang adik.


"Astaghfirullah. Kak, hiks." Rossy tak bisa lagi menahan air matanya. Ia memeluk suaminya dengan tangis sesenggukan. Pantas saja putra keduanya itu tidak pernah ia lihat selama beberapa hari ini. Tadinya ia maklum kalau Zion tidak datang ke rumah sakit karena sedang bermusuhan dengan Ferry. Tapi ternyata ia sudah tidak berada di rumah ini bersama dengan istrinya.


"Kak, kita harus mencari Zion. Ia membawa istrinya dan pasti tidak tahu akan tinggal dimana, hiks." Tangis Rossy di dalam pelukan sang suami.


"Tenanglah sayang, aku yang akan mencari putraku sendiri." Prasetyo menjawab seraya mencium kening istrinya.


"Aku tahu Zion pria kuat dan tahu cara bertanggungjawab," lanjutnya dengan senyum diwajahnya.


Ferry tersentak kaget mendengar perkataan papa tirinya itu tapi ia sedang tidak ingin mencari masalah baru. Ia pun diam saja sambil berusaha memikirkan dimana kira-kira Zion berada.


🌺🌺🌺


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like dan ketik komentar agar author semangat updatenya oke?


Kasih hadiah dong 🀭

__ADS_1


Nikmati alurnya dan Heppy reading 😊


__ADS_2