Impian 3 Dara

Impian 3 Dara
Bab 18 Tertawa Bahagia


__ADS_3

Mini Geraldine mencium punggung tangan Zion Sakti saat pria itu akan meninggalkannya di depan fakultas Manajemen.


"Hati-hati kak. Jangan ngebut," ujar perempuan itu seraya menyerahkan helmnya pada pria tampan itu.


"Iyaa, aku akan hati-hati sayang. Hubungi aku kalau kamu udah mau pulang. Aku ada di sekitar sini kok. Mau ngurus yudisium aku dulu," jawab pria itu tersenyum.


"Iya kak. Pokoknya kalau gak ada dosen aku langsung hubungi kakak deh. Kita kan bisa jalan bareng kayak dulu," ujar Mini dengan hati berbunga-bunga. Rasanya ia tak ingin jauh-jauh dari suaminya yang sangat dicintainya ini.


"Hemm, iya. Kamu masuk deh, aku mau lanjut ke fakultas aku." Zion pun menghidupkan mesin motornya. Sungguh ia ingin mengecup bibir istrinya itu tapi ia ingat kalau mereka berdua sedang berada di tempat umum.


"Iya kak. Hati-hati ya bye." Mini melambaikan tangannya dengan tatapan tak lepas dari sosok suaminya yang semakin menjauh dari balik gerbang.


Plak!


"Aaaawww!"


Perempuan itu terlonjak kaget. Ia langsung memutar tubuhnya untuk melihat siapa yang berani memukul bahunya sampai sangat keras seperti itu.


"Ya ampun Cici! Naomi!?"


"Wah, kayaknya aku lihat ada bunga bermekaran nih di taman cinta," ujar Naomi dengan mata berkedip-kedip lucu. Ia sengaja menggoda sahabatnya yang tampak sangat berseri-seri seperti itu.


"Kamu lihat 'kan Ci?" lanjut gadis itu semakin mengompori Mini Geraldine.


"Iya nih, aku sampai silau dibuatnya, hehehe," jawab Cici terkekeh. Wajah Mini semakin memerah dibuatnya. Ia baru sadar kalau sedang dikerjai oleh dua orang sahabatnya itu.


"Ya ampun kalian menggoda aku ya," ujarnya dengan wajah malu. Ia pun menutup wajahnya yang terasa sangat panas.

__ADS_1


"Ayok ah, kita ke kelas. Aku takut sahabat kita ini jadi gak bisa jalan karena meleduk hahahaha," ujar Naomi dengan tawanya yang menggelegar dan terasa sangat menyebalkan ditelinga Mini.


Mereka pun memutuskan untuk ke kelas. Tak ada yang bicara karena mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Akan tetapi dua gadis perawan itu tak berhenti melirik Mini seraya tersenyum-senyum sendiri.


"Ih apaan sih? Dari tadi liatin aku terus. Aku jadi malu tauk." Mini kembali merasakan dadanya berdebar dengan pipi semakin memanas.


"Kamu gak mau cerita pada kami berdua kalau kak Zion udah gak amnesia lagi?" tanya Naomi akhirnya. Rupanya menyimpan rasa penasaran didalam hatinya membuat dirinya jadi tersiksa juga.


"Iya Min. Kalau lagi bahagia cerita ke kita juga dong jangan sedihnya aja yang dibagi," ujar Cici menimpali. Mereka berdua benar-benar penasaran dengan apa yang terjadi pada sang sahabat. Mini menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Ia pun berhenti melangkah dan diikuti oleh dua sahabatnya.


"Hey, kalian kok serius banget ngomongnya sampai melupakan aku?" Jovanka tiba-tiba saja sudah berada di tengah-tengah mereka dengan nafas ngos-ngosan seraya memegang perutnya yang sudah membuncit. Mereka bertiga tersentak kaget dan memandang Jovanka Baron, sang sahabat.


"Ya ampun Jo kamu ada di sini?" tanya Naomi seraya membantu Jovanka membawakan diktat yang perempuan itu pegang.


"Iyalah," jawab perempuan hamil itu dengan wajah cemberutnya. "Aku sudah lama manggil-manggil kalian tapi kalian sepertinya sibuk ngobrol sampai tak dengar aku panggil," lanjutnya dengan dengusan.


"Ya iyalah, kamu kayaknya lagi seneng banget sampai melupakan aku. Untung aku nggak jatuh di koridor itu,"


"Aduh maafkan kami ya, kami emang lagi sibuk banget memperhatikan pengantin baru kita yang sedang happy-happy-nya gitu," ujar Cici seraya memandang wajah Mini yang ternyata masih tampak sangat berseri-seri.


"Nah, coba ceritakan ada apa sih sebenarnya? Mini tambah cantik loh kalau lagi senang seperti ini," ujar Jovanka seraya mencari tempat duduk yang ada di sekitar koridor itu.


"Kita duduk yuk aku capek ngejar kalian," lanjutnya lagi seraya memegang perutnya seolah-olah akan terjatuh.


"Iya, dosen pun sepertinya belum datang," sahut Cici seraya memeriksa grup chat kelasnya. Biasanya ada informasi dari grup itu kalau dosen yang mengisi kelas sudah datang dan mengisi kelas. Mereka semua pun semua pun ikut duduk bersama dengan Jovanka.


"Nah, ayo cerita Min. Apakah kak Zion udah kembali seperti semula?" tanya Jovanka dengan tatapan lurus ke dalam bola mata sang pengantin baru. Mini tersenyum kemudian mengangguk pelan.

__ADS_1


"Iya guys. Kak Iyon ternyata tidak amnesia. Dan ia hanya berpura-pura saja selama ini."


"Apa?!" Tiga perempuan cantik itu langsung berseru 'bersamaan. Mereka sangat kaget dengan apa yang baru mereka dengar.


"Iya." Mini mempertegas jawabannya.


"Tapi kenapa?" Ketiganya kembali bertanya dengan kompak. Mini menggemparkan kepalanya karena ia juga tidak tahu kenapa suaminya berpura-pura amnesia.


"Suamimu tidak mengatakannya Min?" tanya Jovanka dengan wajah semakin penasaran. Mini Geraldine kembali menggelengkan kepalanya.


"Tapi kalian udah MP 'Kan?" tanya Cici dan Naomi bersamaan. Jovanka dan Mini langsung menatap dua orang itu dengan tatapan tajam.


"UPS. Maaf. Kami terlalu penasaran, hehehe," ujar Cici seraya terkekeh malu.


"Kalau itu sih gak usah ditanya lagi dia. Wajah cerah penuh dengan bunga bermekaran begitu sudah pastilah MP nya sukses tanpa kendala hahahaha," jawab Jovanka Baron dengan tawanya yang sangat renyah.


"Oh ya ampun Nom, gini nih kalau kita gaul sama emak mesum," timpal Cici ikut tertawa.


"Iya, otak kita yang masih sangat suci ini langsung terkontaminasi dan menginginkan hal itu juga hahaha," balas Naomi ikut tertawa. Mereka berempat pun akhirnya tertawa bersama merayakan kebahagiaan Mini, sang sahabat.


🌺🌺🌺


*Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍

__ADS_1


__ADS_2