Impian 3 Dara

Impian 3 Dara
Bab 13 Minta Cium


__ADS_3

Zain Abdullah berpamitan pada Cici malam itu dengan wajah tak rela. Ia baru saja menyelesaikan tugas untuk presentasi gadis itu dalam bentuk power point.


Pria itu berdiri di depan pintu rumah kost sang kekasih dengan wajah ditekuk berpura-pura sangat kelelahan. Mengerjakan tugas yang sangat mudah buatnya itu kini ia tampakkan seperti orang yang sangat tersiksa dan kepayahan.


"Kenapa kak? Kok roman-romannya lelah banget sih? Maaf ya aku sudah bikin kamu kecapean," ujar Cici dengan perasaan tak nyaman dihatinya.


"Gak apa-apa kok, aku cuma ngantuk aja sih. Habis dari kampus tadi 'kan aku belum istirahat."


"Iya kak. Maaf aku ya karena udah bikin Kakak lembur padahal harusnya kan udah istirahat di jam segini." Gadis itu semakin tidak nyaman saja dibuatnya. Ia jadi tidak enak meminta pria itu untuk pulang meskipun jam berkunjung sudah lewat.


"Makasih banyak ya kak udah bantuin aku dan Naomi kerjakan tugas." Akhirnya kalimat itu lagi yang bisa ia ucapkan.


"Kamu sudah berterima kasih sampai puluhan kali Ci' bisakah kamu ganti dengan bentuk yang lain?" ucap pria itu dengan tatapan lurus kedalam mata bulat kekasihnya itu.


"Oh iya aku tadi gak ngasih minum ya, maaf kak aku lupa. Aku ambilkan minum ya," ujar gadis itu dan bersiap untuk berbalik ke dalam rumahnya untuk mengambil minuman untuk sang kekasih. Akan tetapi Zain langsung menarik tangan Cici agar tidak kemana-mana.


"Aku gak haus Ci'. Aku cuma ingin kamu memberikan aku ini," ucap pria itu seraya menunjuk pipinya. Cici langsung melotot tak percaya dengan keinginan pria itu padanya. Wajahnya tiba-tiba ia rasakan menghangat karena malu.


"Kak, aku gak mau. Kita kan belum halal. Aku kasih yang lain saja ya?" Zain Abdullah langsung menarik nafas berat. Ada rasa kecewa dari dalam hatinya tapi ia berusaha untuk maklum.


Sejak Cici memutuskan untuk berhijab, gadis itu tidak pernah lagi ingin disentuh apalagi dicium. Padahal saat ini ia ingin sekali mendapatkan itu sebagai penyemangatnya yang sedang sangat lelah malam ini.


"Kak Zain," panggil gadis itu karena sang kekasih tidak memberikan respon apapun dan bahkan terlihat sangat kecewa.


"Iya gak apa-apa. Kalau begitu aku pulang. Besok kita ketemu di kampus." Pria itu pun akhirnya pergi dari hadapan Cici dengan menggunakan motornya. Cici melambaikan tangannya yang dijawab dengan klakson dari pria itu.


Gadis itu pun masuk ke dalam rumah minimalis tapi sangat lengkap fasilitasnya itu. Ia mengunci pintunya kemudian menuju kamarnya yang ia tempati bersama dengan Naomi.

__ADS_1


"Kak Zain udah pergi ya?" tanya Naomi tanpa mengalihkan pandangannya pada layar televisi dihadapannya. Rupanya gadis itu sedang menonton drama Korea.


"Iya Nom. Tapi kayaknya ia agak kecewa gitu deh sama aku," jawab Cici seraya mendudukkan tubuhnya disamping sang sahabat.


"Kenapa? Bukannya kamu yang seharusnya kecewa dan marah padanya?" tanya gadis itu dengan tatapan ia alihkan dari layar televisi ke arah wajah sahabatnya itu.


"Aku menolak permintaannya Nom."


"Memangnya kak Zain minta apa sama kamu?" tanya Naomi dengan wajah serius.


"Kak Zain minta aku mencium pipinya. Dan aku menolak karena kita kan masih pacaran."


"Ya, itu sudah benar. Jadi kamu gak usah mikirin lagi, okey?" Naomi menyentuh tangan sahabatnya itu untuk memberinya dukungan.


"Boby juga sering minta itu padaku tapi tidak aku loloskan. Enak saja. Belum juga jadi suami. Makanya aku udah berpikir untuk putus saja," lanjutnya dengan wajah berubah kesal.


"Jadi? Apa aku juga harus memutuskan kak Zain karena hal itu Nom?" tanya Cici dengan wajah bimbang.


"Hah? Menikah? Kita belum sarjana Nom. Apa kata mama dan papaku kalau aku menikah diusia dini seperti ini?" Wajah Cici nampak sangat kaget dibuatnya. Naomi langsung tertawa.


"Heh, lihat Jovanka dan Mini. Mereka berdua sudah menikah. Sisa kita berdua. Dan kurasa itu lebih baik daripada harus melakukan hal yang dilarang bukan?" Cici membenarkan kata-kata Naomi tapi kemudian muncul lagi rasa ragu dari dalam hatinya.


"Terus kalau kita menikah muda seperti ini kita akan makan apa Nom? Apa kita akan makan cinta saja?" tanya gadis itu yang langsung membuat Naomi kembali tertawa terbahak-bahak.


"Ya mana ada orang bisa hidup dengan cinta Ci' yang ada tuh kita makan nasi dan juga ayam goreng lalapan itu baru enak plus sambel level 9, wuih mantap banget tuh." Naomi berucap dengan ekspresi yang sangat heboh. Cici langsung membuang nafas. Ia belum kepikiran akan menikah secepat ini hanya karena ciuman yang diinginkan oleh kekasihnya.


"Ya udah, ah aku mau tidur saja, ngantuk." Gadis itu pun berlalu dari hadapan sahabatnya menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya dan membersihkan diri sebelum tidur. Naomi pun mematikan pesawat televisi di hadapannya. Ia juga sebenarnya sudah sangat mengantuk.

__ADS_1


Lain halnya dengan keadaan salah satu sahabat mereka di sebuah kamar di dalam rumah sang mertua.


Zion Sakti merasa sangat gelisah malam itu, ia memandang istrinya yang sudah terlelap disampingnya dengan dada berdebar. Ingin rasanya ia meraih gadis itu dalam pelukannya dan meminta maaf atas kesalahannya selama ini. Akan tetapi ia masih ingin bersabar sedikit lagi.


"Kak Iyon, hiks..." Zion tersentak kaget mendengar istrinya itu mengigau memanggil namanya disertai isak tangis. Rasa empatinya pun seketika menyeruak keatas permukaan. Pria itu langsung meraih tubuh istrinya dan memberikannya pelukan.


"Mini, sayang," bisiknya dengan tangan mengelus punggung sang istri.


"Kak hiks," gumam gadis itu lagi dalam pelukan suaminya. Tubuhnya bergetar menahan rasa sedih yang ia rasakan. Pria itu langsung menciumi pucuk kepala sang istri membelai rambutnya dengan penuh kasih sayang.


"Mini sayang, aku ada disini. Ada apa? Apa kamu bermimpi buruk?" bisiknya dengan sangat pelan dengan pelukan semakin ia eratkan ke tubuh sang istri.


Perlahan-lahan isak tangis gadis itu memelan dan akhirnya berhenti. Ia juga balas memeluk tubuh suaminya karena merasakan kenyamanan dan keamanan disana.


Zion tersenyum. Ia merasakan hatinya menghangat bahagia. Meskipun begitu ia merasa sangat bersalah. Ia yakin bahwa karena ulahnya yang seperti inilah yang membuat hati sang istri terguncang kesedihan dan mengakibatkannya mengigau seperti ini.


Rasa hangat karena berpelukan dibawah selimut ternyata membuat sesuatu dari dalam dirinya menginginkan hal yang lebih.


Ia adalah seorang pria normal yang gampang tersulut saat ia bersentuhan dengan seorang perempuan skin to skin seperti ini. Apalagi yang ia peluk adalah seorang gadis yang sangat ia cintai dan merupakan istrinya sendiri.


Tangannya segera bergerak kedalam pakaian tidur sang istri kemudian mengelusnya dengan sangat lembut penuh hasrat.


Gairah yang menyentak-nyentaknya membuatnya lupa akan tujuannya selama ini. Ia sangat ingin memiliki istrinya malam ini juga.


🌺🌺🌺


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2