
Perkuliahan pun selesai dengan sangat baik dan lancar. Empat perempuan itu keluar dari ruang kelas dengan sangat lega karena tugas mereka juga telah selesai dan mendapatkan nilai dengan baik.
"Untungnya Kak Zain sudah selesaikan tugas kita dengan baik ya Ci' dan ya ampun benar semua lho," ujar Naomi dengan wajah yang nampak sangat senang.
"Ya terang aja benar, kan dikerjakan oleh asisten dosen," jawab Jovanka tersenyum dengan bangga. Soalnya orang yang mereka ceritakan adalah Zain Abdullah yang merupakan saudara sepupunya.
"Dan kamu Jo, gimana gak benar jawaban kamu semuanya pasti dikerjakan oleh pak doktor Radith Aditya, iyyakan?" ujar Naomi dengan padangan ia arahkan pada perempuan cantik yang sedang hamil itu.
"Gak lah. Mas Radith gak pernah mau bantuin aku kerja tugas. Katanya aku gak akan bisa pintar kalau dibantuin terus," jawab Jovanka dengan wajah cemberutnya. Tiga sahabatnya itu langsung menatapnya tak percaya.
"Ah yang bener kamu Jo, pak doktor bilang begitu?" tanya Naomi dengan ekspresi tak percayanya. Ia tak menyangka kalau dosen mereka yang satu itu ternyata memang sangat jujur dan perhatian akan masa depan sang istri.
"Ih rada-rada kejam sih, tapi apa bener pak doktor gak mau bantuin kamu meskipun satu kali?" tanya Cici masih tak percaya. Zain pacarnya yang asisten dosen sudah baik sekali mau membantunya. Jovanka Baron alias Jojoba mengangguk kemudian melanjutkan perkataannya, "Mas Radith itu setiap aku minta dibantu bikin tugas, ia harus mentransfer ilmunya ke aku itu lewat jalur lain. Yang katanya lebih afdal gitu."
"Jalur lain? Jalur tol maksudnya?" tanya Cici dengan wajah polosnya. Naomi pun ikut mengerutkan dahinya bingung dengan jawaban sang sahabat Mereka berdua pun saling berpandangan dengan pikiran yang mulai menduga-duga.
"Iya jalur tol, bebas tanpa hambatan gitu tapi harus dikerjakan dengan penuh penghayatan agar hasilnya sangat baik."
"Ih, kamu ngomong apa sih Jo. Jangan-jangan kamu ini ngomong ngeres lagi," timpal Mini yang sudah mulai merasakan otaknya sudah mulai terkoneksi dengan baik dengan apa yang sedang dibicarakan oleh Jovanka Baron.
"Lah kamu mengerti, nah dua orang perawan tiang-ting ini belum sadar juga hahahaha," ujar Jovanka dengan tawa renyahnya.
"Astagfirullah Jo, kamu sudah membuat kami bingung tahu gak? Hahaha!" Naomi tertawa terbahak-bahak setelah menyadari kalau apa yang dikatakan oleh Jovanka adalah sebuah prank untuk mengerjai mereka berdua. Kembali mereka tertawa dan tak menyadari kalau Boby Dirgantara, sang ketua tingkat ada diantara mereka berempat.
__ADS_1
"Oh, jadi gini ya cara yang kalian lakukan sampai mendapatkan nilai bagus seperti ini!" ujar Pria itu dengan tatapan tajam pada keempat perempuan cantik itu. Wajahnya tampak marah dan kesal karena nilainya sendiri berbeda dengan apa yang didapatkan oleh keempat perempuan itu.
"Kalian tahu gak kalau kalian semua itu curang!" Mata pria itu berkilat penuh amarah. Rasa sakit hatinya pada genk empat perempuan itu kini semakin menjadi-jadi karena semalam Naomi memutuskannya secara sepihak.
"Bob, apanya yang curang coba? Kami bekerja sama dengan baik dan aku rasa semua juga melakukan hal yang sama." Cici cepat-cepat menyahut untuk menjawab perkataan pria itu pada mereka.
"Melakukan yang bagaimana Ci'? Menukar hasil pekerjaan itu dengan service plus-plus dari kalian, iyya?" tanya Boby lagi dengan tatapan marahnya.
"Ya Allah Bob. Jaga omongan kamu ya, gak baik lho menuduh orang sembarangan seperti itu." Jovanka ikut menimpali dengan suara dibuat untuk tenang dan tidak terpancing emosi.
"Lho, bukankah kalian sendiri yang mengatakannya. Kalian mengerjakan tugas dengan dibantu oleh para dosen pasangan kalian itu!" Boby Dirgantara menunjuk empat perempuan itu dengan wajah yang masih tampak sangat marah.
"Kok kamu gitu sih ngomongnya Bob? Gak semua yang kamu tuduhkan itu benar ya. Dan aku kira tidak ada aturan yang mengatakan kalau pengerjaan tugas ini tidak boleh dibantu oleh siapapun. Dan kita pun bebas mencari sumber atau referensi dari mana saja." Mini akhirnya ikut bicara setelah lama terdiam.
"Heleh, kamu juga Min. Kamu dibantuin suamimu kan ? Lalu Naomi, siapa pria yang membantumu? Kamu juga mencari senior atau dosen lain?" Pria itu menatap tajam wajah gadis yang sangat dicintainya itu.
"Heh. Aku tidak mau. Tidak ada kata End atau putus karena aku tidak setuju, mengerti kamu?!" Boby tetap bertahan dengan perasaannya. Ia benar-benar tidak ingin putus dengan gadis cantik itu.
"Udah ah, gak penting juga. Dan lagipula aku juga tidak peduli kamu setuju atau tidak. Kita pulang yuk guys," ujar Naomi seraya mengajak ketiga sahabatnya itu untuk pulang. Ia pun langsung berdiri dari duduknya dan meraih tas punggungnya. Ia sedang ingin menghindari untuk berdebat dengan pria itu yang merupakan mantan pacarnya sejak semalam.
"Hey, aku akan melaporkan hal ini pada prof Amuba. Dan yakinlah nilai kalian pasti akan di cancel oleh dosen itu."
"Coba saja kalau kamu bisa Bob, maka kami akan melawanmu!" tantang Naomi dengan tatapan tajam pada pria itu.
__ADS_1
Hal seperti inilah yang membuatnya tidak pernah nyaman menjalin hubungan dengan seseorang. Karena ketika mereka putus atau sudah tidak berjalan di koridor yang sama maka hal seperti inilah yang sering terjadi.
"Tentu saja aku bisa jika kamu masih berpikir kalau kita akan putus."
"Cih, aku tidak peduli!" Gadis itu menghentakkan kakinya marah dan juga kesal. Ia pun pergi dari sana yang diikuti oleh ketiga sahabatnya itu.
"Oh sial!" Boby Dirgantara memukul meja dihadapannya dengan sangat emosi karena Naomi sama sekali tidak mendengarkannya.
Kenapa Nom? Kenapa kamu tega memutuskan aku? Padahal aku sangat menyukaimu?! ujar pria itu dengan tangan meremas rambutnya yang cukup tebal dan juga gondrong.
Sementara itu semua sahabat Naomi berusaha untuk menghibur gadis itu yang nampak sangat terpukul dengan apa yang baru saja dikatakan oleh seorang Boby Dirgantara.
"Nom, jangan dipikirkan. Semuanya pasti akan akan baik lagi kok," ujar Jovanka menghibur. Naomi hanya tersenyum. Ia berharap keputusannya memutuskan ketua tingkat itu adalah keputusan yang sudah sangat tepat.
"Nah, bagaimana kalau kita minum es kelapa muda untuk mengganti cairan tubuh kita yang sudah habis karena berdebat dengan orang yang tidak jelas," usul Jovanka.
"Nah itu ide yang bagus. Air kelapa juga sangat bagus untuk ibu hamil lho Jo." Mini segera menjawab untuk membuat suasana kembali meriah dan heboh lagi.
"Iyaaa, itu sangat betul makanya aku mau hehehehe," kekeh Jovanka yang langsung dijawab dengan dengusan semua orang.
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading π