Impian 3 Dara

Impian 3 Dara
Bab 27 Harapan Terbaik


__ADS_3

Mini Geraldine sampai di depan motor sang suami dengan nafas ngos-ngosan. Ia terlalu senang sampai tidak ingin menunggu motor itu sampai di depan beranda rumah kediaman Radith Aditya dan langsung menyambutnya di depan gerbang.


"Lho kok sampai lari-lari kayak gitu? Aku kan mau kesana sayang," ucap Zion dengan tangan segera mematikan laju motornya.


"Gak apa-apa, aku pikir kak Iyon gak datang jemput. Sekarang aku udah seneng banget kak huffft." Mini menarik nafas dan menghembuskannya pelan.


"Ayo kita pulang, udah sore banget nih," ujar Zion seraya mengambil helm dari bagasi motornya.


"Kakak gak mau mampir di rumah pak Doktor dulu?" tanya Mini pada sang suami.


"Gak sayang, tampilanku sangat kacau dan gak matching juga sama acaranya. Dan lagi, aku malu karena datang terlambat." Zion menolak dengan halus. Ia pun mencoba untuk tersenyum diantara wajah lelahnya. Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan baginya. Lelah fisik dan juga hati.


"Memangnya Kakak habis darimana?" tanya perempuan cantik itu dengan wajah penasarannya. ia bisa melihat kalau suaminya itu tampak sangat kusut dan lelah.


"Dari rumah aja sih," jawab Zion seraya memakaikan helm di kepala sang istri karena sedari tadi Mini hanya memeluk di depan dadanya.


"Lhaa trus kakak kenapa terlambat sih? Aku sudah lama menunggumu lho, pengennya berdoa bersama semoga aku bisa cepat hamil juga kayak Jovanka."


Deg


Pria itu tersentak mendengar kata hamil dari istrinya. Itulah juga salah satu yang ia takutkan, makanya ia berpura-pura amnesia karena tidak ingin membuat istrinya hamil ditengah banyaknya masalah dalam keluarganya.


Mini menatap suaminya yang tiba-tiba saja menunjukkan wajah gelisah nya.


"Kak, ada apa? Apa ada masalah?" tanya Mini lagi karena pria itu hanya terdiam.


"Ah nggak kok. Aku hanya sedikit capek. Belum juga mandi sore. Rasanya gerah sekali." Zion menjawab kemudian menghidupkan mesin motornya.


"Ayo buruan naik. Ini udah larut banget sayang. Nanti kamu masuk angin," lanjutnya seraya meraih tangan sang istri agar segera duduk membonceng dibelakangnya.


Mini pun naik ke motor itu dan langsung memeluk suaminya dari belakang. Ia tidak memakai jaket jadi ia merasa angin benar-benar terasa menusuk kulitnya. Mereka tidak melakukan percakapan apapun di dalam perjalanan sampai mereka tiba di rumah.


Mini Geraldine tidak langsung memasuki rumah sang suami karena ia menunggu pria itu menyimpan motornya terlebih dahulu di dalam garasi rumah.


"Kok gak masuk sayang?" tanya Zion sesaat setelah menutup pintu garasi di rumah itu.

__ADS_1


"Aku tungguin kamu kan," jawab Mini seraya meraih tangan suaminya untuk ia genggam dan memasuki rumah.


"Ah iya, ayo masuk," ujar Zion dengan perasaan yang tiba-tiba merasa tidak nyaman. Sejak ia tahu dengan sangat jelas kalau ia hanya anak angkat di rumah itu, langkahnya jadi sangat berat memasuki rumah itu. Ingin rasanya ia tidak kembali tapi apa ia juga tidak tahu mau kemana membawa Mini.


"Kak? Kamu baik-baik saja 'kan!" tanya Mini lagi karena suaminya berhenti di depan pintu dan nampak ragu untuk masuk.


"Ah iya. Aku baik kok Ayo masuk," ucapnya seraya membuka pintu utama di rumah itu. Mereka pun memasuki rumah di mana Ferry dan Rossi sedang duduk di dalam ruang tamu. Mereka sepertinya sedang membicarakan hal yang sangat penting.


"Assalamu Alaikum," salam keduanya pada dua orang itu.


"Waalaikumussalam. Kalian sudah datang rupanya," jawab Rossy seraya berdiri dari duduknya. Mini langsung menghampiri perempuan itu dan mencium punggung tangan Mama mertuanya itu. "Pada dari mana nih kok pulangnya malam banget?" tanya Rossi berbasa-basi.


"Kami dari rumah jovanka ma, ia mengadakan acara syukuran untuk 4 bulan kehamilannya. Maafkan aku ma karena gak sempat kasih kabar sama mama."


"Ah gak apa-apa kok. Kamu masuklah ke kamar pasti udah lelah 'kan?" ujar Rossy dengan senyum diwajahnya.


"Iya ma." Mini pun masuk ke dalam kamarnya sendirian. Sedangkan Zion berdiri saja di dalam tempat itu. Baru setelah melihat kalau perempuan itu sudah memasuki kamarnya, ia pun mendudukkan dirinya di samping sang mama.


"Kamu sudah bertemu dengan Om Prass?" tanya Rossy dengan tatapan serius ke dalam mata putranya. Zion menganggukkan kepalanya lemah.


"Jadi apa katanya Yon?!" tanya Ferry dengan wajah tak sabar.


"Hah 1 milyar? Mama, ada apa denganmu? Kenapa utang kita sampai sebesar itu? Aku sungguh tidak percaya kita bisa berutang sebanyak itu hanya untuk pesta pesta pernikahan dan perawatan penyakit nya Zion."


"Ferry, dengarkan Mama. Jangan kamu salahkan adikmu seperti itu. Itu adalah utang yang sudah lama nak. Bukan cuma untuk Zion saja. Utang itu ada sejak perusahaan itu dalam masa diujung tanduk. Dan ketika adikmu kecelakaan, mama menambah lagi pada Pak Gani. Mama tidak tahu kalau selama ini, semua dana itu dari Om Prass."


"Lalu kenapa aku tidak tahu ma?' Ferry menatap sang mama dengan perasaan yang sangat marah.


"Perusahaan itu baik-baik saja. Dan jangan katakan kalau mama hanya ingin melindungi Zion!"


"Astagfirullah Fer. Kamu jangan bicara seperti itu!"


"Tentu saja aku akan berkata seperti itu. Mama terlalu memanjakannya padahal ia bukanlah darah daging maka sendiri!"


"Bang!"

__ADS_1


"Ferry!"


Zion langsung berdiri dari duduknya karena sudah tidak kuat mendengarkan perdebatan dari dua orang itu.


"Kenapa Yon! Kamu gak suka dengan apa yang aku katakan hah? Aku tidak perduli. Yang penting bagiku adalah kamu harus bertanggung jawab! Aku tidak akan rela jika harus menyerahkan usaha papa yang sudah dirintisnya sejak puluhan tahun itu pada om Prass."


"Iya bang, aku akan bertanggung jawab. Aku akan berusaha mencari dana untuk itu. Jadi Abang tidak usah khawatir. Jangan salahkan mama terus seperti itu." Zion menjawab dengan suara tegasnya. Ia pun memandang Rossy dan meraih tangan perempuan itu.


"Om Prass ingin bertemu dengan mama secara langsung. Ada hal yang ingin dibicarakannya dengan mama."


Deg


Rossy merasakan tubuhnya membeku. Entah kenapa ia sangat khawatir bertemu dengan pria dibalik semua masalah yang terjadi di dalam keluarganya ini.


"Aku akan mengantar Mama kalau mama sudah siap," ujar Zion seraya mengelus tangan sang mama yang tiba-tiba terasa sangat dingin ditangannya.


"Ah iya Yon. Aku akan memberitahumu kalau mama sudah siap. Kamu masuklah ke kamar."


"Iya ma, aku tidak ingin Mini jadi khawatir." Zion pun segera meninggalkan tempat itu tanpa mau melihat wajah Ferry yang sedang memandangnya dengan aura membunuh.


Brengsek tuh anak, sengaja mau pamer kalau ia sangat perhatian pada Mini daripada aku!


Sial!


Ferry pun meninggalkan tempat itu dan masuk ke kamarnya. Sungai ia sangat kesal dan marah saat ini. Rasanya nasib baik akan semakin menjauh darinya. Apalagi perusahaan itu ia inginkan menjadi miliknya satu-satunya.


Rossy hanya terpaku diam. Ia juga baru tahu dari Pak Ghani kalau ternyata dana yang ia pinjam selama ini untuk membantu modal pada perusahaan kecil itu adalah milik Prasetyo, sepupu jauhnya.


Semoga Tuhan memberikan jalan keluar terbaik dari masalah keluarga kami.


Perempuan itu pun menutup pintu rumahnya dan menguncinya. Ia segera menuju kamarnya untuk beristirahat.


🌺🌺🌺


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2