
Mini Geraldine memasuki dapur dengan perasaan campur aduk. Ia sedang bersedih dengan apa yang terjadi pada hubungannya dengan suaminya. Akan tetapi ia harus kuat dan tidak boleh lemah. Makan adalah hal yang paling penting saat ini.
Tangannya membuka lemari penyimpanan makanan kemudian menatanya di atas meja. Ia pun duduk di depan meja makan kemudian memulai makannya. Ia tidak sadar kalau ada seseorang yang sedang memperhatikannya.
"Makannya lahap sekali sampai gak balik-balik, hem," ujar Ferry seraya berdehem. Mini langsung tersedak karena kaget.
"Uhukkk uhukkk uhukkk." Pria itu langsung mengambil segelas air minum kemudian memberikannya pada Mini.
"Makasih banyak bang," ujar gadis itu kemudian meneguk air putih itu agar lehernya kembali terasa nyaman.
"Kalau makan jangan mengkhayal. Tersedak begini jadi gak nyaman 'kan?" ujar Ferry seraya menarik kursi di hadapan Mini kemudian duduk di sana.
"Bukan mengkhayal, aku cuma kaget aja, bang Ferry datang-datang langsung ngagetin kayak gini," jawab Mini kemudian melanjutkan makannya yang tertunda.
"Lapar banget kayaknya." Sang kakak ipar menatap gadis itu dengan dada berdebar. Ia sangat suka melihat gaya makan gadis itu yang tidak sok jaim di depan orang lain.
"Iya Bang. Aku lapar banget. Gak bisa tidur kalau gak makan hehehe," kekeh Mini tanpa berhenti mengunyah.
"Kamu kayaknya suka banget makan ya tapi kok tubuhmu gak gemuk-gemuk," ujar pria itu lagi dengan tatapan masih tak lepas dari wajah Mini yang sangat cantik dimatanya.
"Ih Abang, bentar lagi aku gemuk kok. Kalau semua masakan mami aku coba seperti ini pasti deh tubuhku udah gak bisa bergerak."
"Kok kamu gak makan masakan aku Min?" Gadis itu reflek langsung menghentikan kunyahannya. Ia tidak menyangka kalau pria yang merupakan saudara iparnya itu bisa memperhatikan apa saja yang sedang dimakannya.
"Oh itu? Aku ada riwayat sakit mag, jadi aku lagi menghindari makanan pedas dan juga gorengan seperti masakan Abang. Maaf Ya," jawab Mini dengan wajah tak nyamannya. Sungguh, ia sangat ingin makan masakan pria itu yang rasanya sangat lezat tapi apa daya, ia tidak mungkin melanggar perkataan suaminya.
__ADS_1
"Ah aku tahu, itu karena Zion ya? Ia tidak membiarkan kamu memakan semua masakan aku 'Kan?" tanya Ferry dengan tatapan lurus kedalam mata bening Mini Geraldine.
Untuk beberapa detik tatapan mereka mampu membuat Ferry semakin merasakan dadanya berdebar tak karuan.
"Bukan begitu bang, yang sebenarnya adalah aku sedang sakit dan tidak diizinkan untuk memakan makanan yang berminyak." Mini berusaha terus untuk memberi alasannya karena ia tidak mau melanggar aturan dari suaminya.
"Kalau begitu, aku akan memasak makanan yang tidak menggunakan minyak. Gimana kalau ayam bakar atau opor ayam?"
Mini tersenyum kemudian berdiri dari duduknya. Ia sudah menghabiskan makanannya dan bersiap untuk membersikan meja makan kemudian mencuci piringnya.
"Gak usah repot-repot bang. Aku bisa makan apa saja kok. Abang 'kan mau kerja. Dan lagipula aku akan belajar untuk memasak sendiri kok. Kak Iyon pasti ingin makan makanan buatan istrinya sendiri. Iyyakan bang?" Ferry langsung merasakan perasaan tak nyaman dihatinya. Ia tidak suka mendengar kata-kata Mini tapi ia berusaha untuk tersenyum. Ia pun berucap, "Besok, aku gak masuk kerja. Aku bisa meluangkan waktu untuk mengajarimu memasak. Bagaimana?"
Mini tersenyum kemudian mengangguk. Ia sangat gembira dengan ide dari kakak iparnya itu.
"Wah, aku senang banget bang. Itu adalah ide yang sangat bagus. Jadi kami berdua gak perlu ngerepotin abang sama mami di dapur lagi," ujar Mini seraya berjalan ke arah wastafel untuk mencuci dua piring yang sudah digunakannya. Akan tetapi Ferry buru-buru mendahului gadis itu dan mengambil piring kotor itu dari tangan gadis itu.
"Bang, gak usah. Aku bisa kok nyuci piringnya," ujar Mini tak enak hati. Akan tetapi Ferry tidak merasa kalau itu adalah penolakan. Ia hanya tersenyum kemudian benar-benar mencucikan piring kotor itu.
"Kamu pikirkan saja, makanan apa yang ingin kita masak dan pelajari untuk besok, Okey?"
Mini kembali duduk sekaligus mengambil satu buah piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk kesukaan suaminya. Ia tahu kalau pria itu pasti juga sangat lapar sekarang karena belum makan malam gara-gara insiden sambel goreng itu.
"Bang, makasih banyak karena udah nemenin aku makan. Aku kembali ke kamar ya," ujar Mini seraya mengangkat sebuah nampan yang berisi sepiring nasi dan juga jus jeruk kesukaan suaminya.
"Lho, kamu mau makan lagi?" tanya Ferry dengan tatapan menyelidik. Ia menatap tangan gadis itu sedang membawa sebuah nampan beserta isinya.
__ADS_1
"Gak bang, makanan ini untuk kak Iyon. Ia pasti lapar juga sekarang."
"Halah, gak usah dibawakan lah Min. Memangnya ia sakit apa?" Iyon kan sehat-sehat saja. Ia bisa datang dan makan sendiri di sini." Ferry mendengus dan tidak suka kalau Mini terlalu memanjakan suaminya.
"Gak apa-apa bang. Aku juga gak keberatan kok. Aku permisi ya bang," ujar Mini tak nyaman. Ia pun segera pergi dari ruang makan itu dengan langkah cepat akan tetapi Ferry memintanya untuk berhenti.
"Aku tunggu kamu besok ya, disini. Kita bisa masak-masak bareng," ujar Ferry dengan perasaan yang tak biasa.
"Insyaallah bang, aku ke kamar ya," jawab Mini dan melanjutkan kembali langkahnya yang sempat terhenti.
Gadis itu tak mau berlama-lama disana karena merasa kalau tingkah kakak iparnya semakin meresahkan saja. Ia yakin otak dan perasaan pria itu pasti sedang tak baik-baik saja.
Sesampainya ia di kamar ia tidak mendapati suaminya disana. Ia pun menyimpan nampan itu diatas meja kemudian segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah ini ia akan mengerjakan tugas kampus kemudian tidur. Tak ada kegiatan menyenangkan yang akan ia lakukan dengan suaminya yang sama sekali tidak mengingatnya.
Lain halnya dengan Zion, pria itu sedang melakukan kegiatan yang cukup menguras tenaga dan emosinya. Ia sedang berhadapan dengan Ferry dengan tatapan membunuh.
"Oh, jadi Abang ingin menarik perhatian istriku ha?" tanyanya pada Ferry seraya meraih kerah kemeja pria itu dan mencengkeramnya dengan sangat kuat. Tubuh Ferry sampai terangkat ke udara karena perbuatan sanga adik. Ya, tubuh Zion memang lebih tinggi dan juga kekar daripada Ferry sang Kakak.
"Apa maksudmu?" tanya Ferry dengan wajah mengeras.
🌻🌻🌻
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍