
Rossi menarik nafas beratnya. Entah kenapa dadanya terasa sangat sesak tetapi ia tidak ingin menjawab pertanyaan Prasetyo tentang Zion.
"Ross?" panggil pria itu dengan nada rendah. Ia menunggu dengan sabar sampai perempuan cantik itu mau membuka mulutnya.
"Aku minta maaf kak karena baru bisa datang memenuhi undanganmu. Kamu pasti tahu maksudku 'kan? Aku tidak menyangka kalau kamu di belakang pak Gani selama ini. Dan itu sangat mengagetkanku." Akhirnya keluar juga suara Rossi yang sudah lama ia rindukan.
"Lama tak berjumpa ya Ros dan ternyata kamu semakin cantik," ucap Prasetya dengan tatapan tak lepas dari wajah Rossi. Pria itu sengaja mengalihkan perhatian pada pembicara yang lain karena ia sedang tidak butuh membahas tentang utang ataupun perusahaan itu.
Saat ini ia hanya merasakan dadanya berdegup kencang sementara bibirnya tak berhenti untuk tersenyum. Ia sangat bahagia bertemu dengan Rossi, seorang sepupu yang sangat ia cintai.
"Terima kasih kak Pras atas pujian mu tapi kurasa itu sangat berlebihan. Usiaku kini sudah tua dan mungkin sebentar lagi akan menjadi seorang nenek."
"Hahaha, kamu selalu seperti ini. kamu tak pernah mau menerima pujian dariku. Padahal kamu tahu betul bahwa aku sangat suka padamu dan menginginkanmu menjadi istriku." Prasetyo tertawa sembari menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi empuknya.
"Itu sudah sangat lewat kak Pras. Aku sudah mempunyai dua putra dewasa. Dan aku dengar kamu juga sudah mempunyai seorang istri yang sangat cantik 'kan?" Rossi mengangkat wajahnya dan menatap wajah pria yang ternyata masih tampan diusianya yang sudah kepala Lima itu.
"Aku tidak pernah menikah karena bagiku hanya kamu yang pantas menemaniku sampai aku tutup usia."
Deg
Rossi merasakan dadanya berdegup kencang. Pria dihadapannya telah mengatakan hal ini lagi. Ia mengulang kata-kata itu puluhan tahun yang lalu.
"Kak. Mari kita bicarakan tentang perusahaan itu," ucap Rossi berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. Prasetyo berdiri dari duduknya. Ia sungguh tidak suka dengan apa yang dikatakan oleh perempuan kesayangannya itu. Ia pun menghampiri Rossi dan duduk di atas meja dihadapan perempuan cantik itu.
__ADS_1
"Kenapa Ros? Apa aku tidak bisa mempertanggungjawabkan apa yang pernah aku lakukan padamu waktu itu?" tanya pria itu dengan suara yang sangat rendah bagaikan bisikan. Seolah-olah apa yang dibicarakannya ini adalah sebuah rahasia yang tak boleh didengar oleh orang lain.
Rossi bergerak gelisah. Ia merasakan dirinya sedang terdesak dan tak mampu untuk keluar dari lorong buntu ini. Perempuan itu menundukkan wajahnya dengan jari-jarinya ia pilin.
"Jawab aku sayang?" Prasetyo berusaha menyentuh wajah Rossi yang semakin tampak tegang.
"Tolong kak Pras. Jangan ingatkan aku tentang kesalahan masa lalu kita waktu itu. Itu sudah lama terjadi dan aku tidak ingin mengingatnya, sungguh." Rossy berusaha untuk berdiri dari duduknya. Ia tidak ingin berdekatan dengan pria ini apalagi dalam keadaan seperti ini.
"Rossi, aku yang tidak bisa melupakannya sampai sekarang. Kamu menyiksaku." Prasetyo meraih bahu perempuan itu agar tidak bisa menghindari dirinya.
"Kak, aku mohon maaf. Itu adalah kesalahan besar yang pernah kita lakukan saat aku mempunyai seorang suami. Dan sekarang, aku mohon. Biarkan aku pergi dari sini. Masalah perusahaan itu, aku rela. Kak Prass ambil saja. Aku bisa hidup sendiri tanpa usaha itu." Rossi merasakan tubuhnya gemetar. Tenggorokannya tercekat dan kini ia tidak bisa lagi menahan tangisnya.
"Rossi jangan menangis. Air matamu ini yang membuatku rela melakukan apa saja," ujar Prasetyo seraya meraih tubuh perempuan itu kedalam pelukannya. Tangannya menghapus cairan bening yang semakin deras menganak sungai di pipinya yang mulus.
"Aku berharap sekali kita akan melakukannya lagi Ross. Aku sangat merindukanmu," ujar pria itu dengan tangan mengelus punggung sang kekasih hati dengan pelan dan berirama.
"Kak, biarkan aku pulang. Kita tidak halal melakukan ini," ujar perempuan itu saat ia menyadari bahwa pelukan sang sepupu sudah berubah rasa. Ada gelenyar aneh yang ia rasakan saat mereka kembali bersentuhan setelah puluhan tahun.
Prasetyo tidak mendengarkan perkataan Rossy, ia malah semakin mengeratkan pelukannya dengan memberikan sentuhan-sentuhan yang cukup memacu adrenalin mereka berdua.
"Tidak kak. Aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama denganmu," ujar Rossy seraya mendorong tubuh pria itu hingga tubuh mereka berdua terlepas.
"Rossy? Ada apa denganmu? Dulu kamu datang padaku saat suamimu menikah lagi, dan sekarang apa masalahnya? Kamu sudah sendiri dan aku sendiri. Kita bisa menjalin hubungan lagi sayang. Aku akan menikahimu. Biarkan aku bertanggung jawab atas apa yang pernah kita lakukan di masa lalu."
__ADS_1
"Tidak kak. Aku sudah berumur dan aku sudah bahagia dengan anak-anakku. Permisi, aku pergi." Rossi segera berlari ke arah pintu. Ia takut berdua dengan pria itu meskipun mereka pernah melakukan hal yang sama puluhan tahun yang lalu.
"Rossy berhenti!" teriak Prasetyo dengan suara menggelegar marah. Akan tetapi perempuan itu tidak ia mau mendengarkannya. Ia terus saja berjalan dengan cepat ke arah pintu.
Prasetyo mengeratkan rahangnya menahan amarah di dalam dadanya. Perempuan itu selalu saja membuatnya menderita dengan mempermainkan perasaannya.
"Kalau kamu keluar dari ruangan ini, kamu akan tahu akibatnya Ros!" ancam pria itu dengan nada suaranya yang tinggi. Rossi menghentikan langkahnya sejenak. Prasetyo tersenyum. Ia yakin bahwa perempuan itu akan mengikuti perintahnya tetapi sayangnya apa yang ia harapkan tidak terjadi. Menit berikutnya Rossi kembali melangkah meninggalkannya.
"Rossy berhenti atau aku akan bilang bahwa Zion adalah putraku!" Tubuh perempuan itu langsung membeku. Ia tidak bisa lagi bergerak apalagi berlari dari kenyataan ini. Prasetyo tersenyum miring. Kecurigaannya kini terjawab sudah. Ia pun menghampiri perempuan kesayangannya itu yang sudah berada di depan pintu ruangan tempat mereka berdua berada.
Tangannya yang kokoh langsung memeluk tubuh Rossi dari belakang. Ia tahu kalau ia sudah memegang kartu As perempuan cantik ini.
Perempuan yang sangat ia cintai sejak remaja tapi harus dinikahkan dengan pria dewasa yang katanya kaya dan memiliki masa depan yang cerah.
"Lepaskan aku kak. Zion adalah putraku sendiri dan tidak ada urusannya denganmu!" Rossi berusaha memberontak agar bisa terlepas dari pelukan posesif pria tinggi besar dibelakangnya.
"Tidak akan aku lepaskan lagi dirimu Rossi!"
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor, mohon dukungannya yang banyak ya, dengan cara klik like, ketik komentar, dan kirim hadiahnya yang banyak agar othor semangat updatenya oke?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan Heppy reading π