
"Kamu tahu apa maksudku bang, jadi jangan berpura-pura tidak tahu!" Zion berteriak kemudian melempar tubuh sang kakak ke arah dinding.
"Aaaargh!" Ferry mengeluh kesakitan. Punggungnya ia rasakan seakan ingin patah.
"Camkan ini baik-baik bang. Belajarlah menghormati sebuah hubungan. Karena aku tidak tahu apakah aku akan memaafkanmu atau tidak jika kamu melanjutkan niatmu ini!" Zion menunjuk wajah sang kakak dengan mata berkilat penuh amarah.
"Brengsek kamu Yon! Apa maksudmu berkata seperti itu ha! Kamu yang seharusnya tidak akan aku maafkan karena telah membuat Mini menderita!" Ferry balas berteriak keras kemudian berusaha untuk berdiri.
"Apa? Apa peduli mu brengsek!" Zion merangsek maju dan menarik kembali kerah kemeja pria yang lebih tua dari usianya itu.
Bugh
Ferry memukul perut Zion dengan sangat keras. Ia menggunakan tangannya yang sedang bebas hingga membuat pria itu meringis kesakitan.Tangannya yang sedang mencengkram kuat kerah kemeja Ferry perlahan terlepas. Akan tetapi kakinya tiba-tiba langsung memberikan tendangan pada tulang kering Ferry.
"Aaargh!" Ferry berteriak kesakitan kemudian melompat-lompat. Kakinya begitu sakit karena tendangan sang adik. Rossy dan Mini yang kebetulan mendengar keramaian itu dari dalam kamar mereka langsung berlari membantu dua orang itu.
"Kak Iyon!" Mini langsung berteriak keras dan memanggil nama suaminya. Begitupun Rossy ia pun ikut berteriak memanggil kedua anaknya.
"Ferry Iyon?!" Mereka berdua berusaha melerai dua orang bersaudara yang sedang saling ingin menyerang itu.
"Kalian ini kenapa sih?! Kalian seperti anak kecil tahu gak?!" Rossy menatap dua orang putranya bergantian.
"Min, bawa suamimu masuk ke kamar kalian!" titah sang ibu mertua. Mini menurut, ia pun menarik tangan suaminya itu untuk meninggalkan tempat itu.
"Lepaskan aku Min. Aku akan beri pelajaran pada laki-laki brengsek itu!" Zion berusaha melepaskan tangannya dan berhasil. Setelah itu ia kembali ke arah Ferry kemudian memberinya satu pukulan lagi diwajahnya.
"Kak!" teriak Mini histeris. Ia nampak sangat ketakutan melihat suaminya yang merupakan ketua BEM itu memukul saudaranya sendiri.
"Aaargh, brengsek kamu Yon!" Ferry mengerang sakit. Ia menyentuh wajah nya yang terasa berdenyut nyeri apalagi sudut bibirnya kini sudah pecah dan mengeluarkan darah.
Mini tidak tinggal diam. Ia langsung mencari kotak P3K berniat untuk memberi pertolongan pertama pada luka-luka yang telah diderita oleh Ferry sang kakak ipar.
"Iyon. Astagfirullah. Kamu kenapa nak? Apa yang kamu lakukan pada abangmu sendiri!" Rossy menatap tajam putra keduanya itu seakan-akan ingin menelannya hidup-hidup.
"Tanyakan padanya apa yang telah dilakukannya di belakang ku! Ia berani menggoda istriku Mi!" Zion menunjuk wajah Ferry dengan dada naik turun menahan emosi.
"Astagfirullah. Yon! Jaga mulutmu nak!" Rossy semakin kaget dibuatnya. Ia sampai mengurut dadanya karena mendengar perkataan dari putra keduanya itu.
__ADS_1
"Mami jangan berpura-pura tidak tahu! Mami tahu semuanya tapi kenapa mami diam saja?! Apa karena aku berbeda dengan bang Ferry? Apa karena aku ini adalah..."
"Stop!" Rossy berteriak keras seraya menutup kupingnya. Ia tidak sanggup mendengar perkataan putra keduanya itu.
"Kenapa Mi?!" Zion mendekat dan menatap sang mami. Ia ingin meminta jawaban dari apa yang telah lama mengganjal pikirannya selama ini.
"Min, bawa suamimu kembali ke kamar sayang," pinta Rossy sekali lagi pada Mini yang sedang membawa kotak P3K untuk Ferry.
"Bagaimana dengan ini Mi?" tanya Mini seraya memperlihatkan kotak P3K yang ada di tangannya.
"Letakkan itu du tempatnya Min. Jangan pernah berpikir untuk mengobati pria brengsek itu!"
"Tapi kak. Bang Ferry gimana?!" Mini tampak bingung. Ia ingin sekali memberikan obat pada kakak iparnya yang baik hati itu.
"Kamu pilih dia atau aku?!" Zion menjawab dengan tatapan tajam pada istrinya.
Mini merasakan tubuhnya gemetar karena tatapan marah suaminya. Ia patuh. Ia sangat tahu jawabannya. Ia pun meletakkan kotak P3K itu di depan Ferry kemudian mengikuti langkah suaminya ke kamar.
Brak!
Zion membanting pintu kamarnya saat ia dan istrinya sudah sampai di dalam kamar. Pria itu menatap istrinya dengan tatapan tajam.
"Kamu tidak bisa menjaga diri sebagai seseorang yang sudah punya suami!"
"A-aku minta maaf kak. Kalau aku salah hukum saja aku tapi kenapa bang Ferry yang kakak pukul?"
"Diam kamu! Apa kamu menyukai dia? Kamu lebih ingin pria itu menjadi suamimu Min?!"
"A-apa yang kamu katakan kak? Jaga mulutmu itu! Kamu meragukan aku kak?!" Mini menatap suaminya dengan cairan bening yang sudah memenuhi kelopak matanya. Pria itu tidak menjawab.
Sungguh ia tak sanggup melihat mata indah istrinya itu menampung rasa sedih dihatinya. Ia pun meninggalkan Mini di dalam kamar mereka sendirian. Pria itu ingin menenangkan dirinya di luar rumah.
Mini berlari ke tempat tidur dan melanjutkan tangisnya di sana. Ia merasa bahwa keluarga suaminya sedang dalam sebuah masalah yang buruk. Dan sekarang Zion menuduhnya kalau semua masalah yang terjadi adalah gara-gara dirinya.
Ya Allah, apakah ini pilihan yang tepat yang aku lakukan?
Ia terus menangisi nasibnya sampai tidak sadar kalau ia sudah tertidur dengan airmata yang menggenang di pipinya.
__ADS_1
Sementara itu, perdebatan juga terjadi di rumah kost Cici Dewangga dan juga Naomi Harun. Zain Abdullah datang untuk menjelaskan apa yang terjadi di Pusat perbelanjaan tadi siang.
Akan tetapi Cici tidak mau menerima penjelasan dari pria itu. Ia sudah berjanji untuk tidak gampang memberi maaf pada seseorang yang telah menyakitinya.
"Kak Zain pulang saja, aku sedang ada tugas yang harus aku kerjakan malam ini," ujar Cici dengan wajah datarnya.
"Jangan gitu dong, kamu gak mau dengarkan aku sayang?"
"Jangan panggil sayang-sayang. Sana pergi saja." Cici berusaha untuk tidak terpengaruh. Pokoknya ia sudah berjanji untuk tidak gampang terpengaruh bujuk rayu siapa pun.
"Kamu tega padaku Ci, masak sih kamu gak mau terima permintaan maafku?"
"Aku sudah terima permintaan maaf Kakak tapi aku tetap tidak menerima alasan Kakak menemani seorang mahasiswi ke Gramedia seperti itu." Cici menatap pria yang dicintainya itu dengan tatapan tajam.
"Iya sayang, aku tidak akan seperti itu lagi, janji deh. Aku tadi itu cuma mau tunjukin buku apa yang paling cocok untuk referensi modul yang aku ajarkan di kelas gadis itu."
"Tapi kan gak gitu juga kak caranya. Kamu kasih tahu aja judulnya dan belinya dimana. Gak usah diantar kayak gitu." Cici kembali mendengus kesal.
"Iyya, lain kali aku tidak akan kayak gitu lagi." Zain menatap Cici dengan dada berdebar. Ia sangat mencintai gadis itu jadi ia tidak ingin membuatnya marah lagi.
"Janji?" tanya Cici dengan hati mulai melunak.
"Iya, aku janji Cici sayang," ujar Zain dengan wajah cerahnya.
"Buktikan kak!"
"Caranya?"
"Tolong bantu kami menyelesaikan tugas dari Prof Amuba."
"Hah?!" Wajah Zain langsung berubah warna. Ia kesini ingin ngedate dan bukannya mau kerja tugas.
Waduh π€§
πΊπΊπΊ
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading π