Impian 3 Dara

Impian 3 Dara
Bab 23 Kenyataan Pahit


__ADS_3

"Tapi kenapa Ma?" Tanya Fery dengan perasaan campur aduk. Antara sedih, kecewa, dan juga marah ada didalamnya. Hanya satu hari ia tidak pergi bekerja karena ingin menyenangkan Mini, tapi ia sudah mendengar kabar buruk seperti ini.


Rossy hanya terus terisak seraya menundukkan wajahnya. Lidahnya terasa sangat keluh. Rasanya sangat berat mengatakan bahwa masalah ini karena utang-utang mereka yang sudah sangat banyak.


"Katakan ma, apakah ini karena Zion?" tanya Ferry lagi karena sang mama hanya diam saja. Ia menyentuh bahu perempuan itu agar mau menjawab pertanyaannya. Rossy pun mengangkat wajahnya dan menatap sang putra.


"Bukan Fer. Kenapa kamu berkata seperti itu?" jawabnya dengan tangan menyusut airmatanya.


"Halah, mama kenapa tidak mau jujur padaku?!" Ferry balas menatap sang Mama dengan rahang mengeras.


"Jujur bagaimana?" Rossy merasakan dadanya semakin sesak. Ia pikir hal ini tidak perlu dibicarakannya dan akan ditanggungnya sendiri.


"Uang pengobatan untuk operasi Zion saat itu mama dapat darimana? Biaya nikahan Zion juga, semuanya mama dapatkan darimana? Padahal itu cuma perusahaan kecil. Kenapa mama tega menggadaikannya?!" Ferry tak sadar berteriak pada perempuan paruh baya itu.


Zion yang sedang berdiri di depan pintu penghubung antara ruang tamu dan ruang keluarga merasa bagaikan terkena petir yang menyambar seluruh tubuhnya. Panas karena rasa terbakar yang ia rasakan.


"Ferry! Jangan berteriak pada mama! Bagaimana pun adikmu juga mempunyai hak pada usaha itu!" Rossy balas berteriak. Mereka saling mengeraskan rahang karena menahan perasaan amarah yang sedang mengaduk-aduk emosi mereka berdua.


"Berarti benar 'kan, kalau semua itu karena Zion anak kesayangan Mama?!" Ferry kembali menyudutkan sang mama.


"Adikmu juga punya hak Fer. Jadi jangan pernah berkata seperti itu. Kalian berdua anak mama dan mempunyai hak yang sama di Perusahaan, di rumah ini maupun di hati mama!"


"Hak apa ma? Bukankah Zion hanya anak angkat yang mama ambil dari panti asuhan?!"


Duarr


Petir sekali lagi menyambar tubuhnya. Hal yang sudah pernah dicurigainya kini ia dapatkan jawabannya. Zion akhirnya mendengar dan melihat kisah ini langsung di depan matanya. Tenyata Tuhan begitu baik karena telah membuka tabir tentang posisinya di rumah itu.

__ADS_1


Jadi, aku hanya anak angkat. Cerita yang pernah aku dengar di rumah sakit itu benar adanya. ujarnya dalam hati dengan dada sesak.


"Ferry! Jaga mulutmu! Kamu tega mengatakan hal itu tentang adikmu?!" Rossy berusia menahan perkataan putranya itu dengan hari yang teriris sakit.


"Ma, kenapa kalau aku mengatakan yang sebenarnya? Karena kasih sayangmu yang berlebihan padanya inilah akibatnya. Dan sekarang aku tidak rela kalau perusahaan itu diambil oleh Om Pras. Aku tidak rela! Aku akan meminta Zion membayar utang-utangnya sendiri." Ferry mengibaskan tangannya dengan emosi. Ia tidak ingin mendengar apapun dari sang mama.


"Ferry!" Rossy kembali memanggil putranya itu dengan suara tercekat. Ia tak menyangka kalau sang putra berani berkata seperti itu pada saudaranya sendiri yang belum mempunyai pekerjaan.


"Aku akan membayar utang-utang itu ma, insyaallah perusahaan itu tidak akan pergi dari tangan mama maupun keluarga ini!" ucap Zion dengan suara bergetar. Rossy dan Ferry tersentak kaget. Mata mereka langsung tertuju ke arah pintu dimana Zion berada.


"Yon, anakku," ujar Rossy dengan suara tercekat. Ia langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri putra keduanya itu. Ia memeluknya dengan tangis sesenggukan.


"Baguslah kalau begitu. Aku sangat senang mendengarnya." Ferry berucap dengan tatapan tajam pada sang adik. Zion tidak ingin membalas perkataan pria itu padanya ia hanya ingin menghibur hati sang mama.


"Maafkan aku ma karena sudah membuatmu menanggung kesulitan ini sendiri. Maafkan aku yang sudah sebesar tapi masih saja membuat kamu kesusahan." Zion membalas pelukan perempuan itu dengan dada sesak.


Tanpa sadar airmatanya menyeruak keluar dari dalam kelopak matanya. Rossy tidak bisa berkata-kata. Perempuan itu hanya menangis. Ia tidak ingin bertanya apa sejak kapan putranya itu berdiri di sana dan mendengarkan pembicaraannya dengan Ferry.


"Halah. Jangan terlalu sombong kamu. Dimana kamu bisa menemukan uang sebanyak itu dalam waktu dekat seperti ini. Kamu tahu bagaimana om Prass itu 'kan?"


"Yang aku heran Mama kok mau meminta bantuan pada lintah darat itu. Kenapa mama tidak meminta pada aku saja waktu itu?!" lanjut Ferry dengan emosi yang kembali tersulut. Rossy tidak ingin menjawab. Jelas saja ia tidak mau meminta karena Ferry menginginkan Mini waktu itu untuk menggantikan Zion jika itu ia lakukan.


"Mama, istirahat saja. Aku akan menemui Om Prass saat ini juga. Aku akan tidak apa jadi pelayan atau melakukan semua perintahnya yang penting kita diberikan keringanan membayar utang itu," ujar pria itu seraya membawa sang mama untuk duduk di sebuah sofa di dalam ruang keluarga itu.


"Kita? Kamu lah sendiri. Jangan bawa-bawa aku, mama, ataupun istrimu. Karena ini semua terjadi karena dirimu sendiri, mengerti kamu?!"


"Iya bang." Zion menjawab dengan suara yang sangat pelan sampai ia merasa kalau hanya telinganya sendiri yang mendengarnya.

__ADS_1


"Aku ke rumah om Prass sekarang ya ma. Doakan semuanya berjalan dengan lancar." Zion tidak jadi memasuki kamarnya untuk membersihkan diri. Ia langsung berbaik arah dan segera menuju Prasetyo, seorang rentenir yang tempat tinggalnya tidak jauh dari rumahnya sekarang.


Pria itu melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Alasannya untuk berpura-pura amnesia salahsatunya adalah karena hal ini dan tentu saja karena ia mencurigai abangnya dan Mini mempunyai sebuah hubungan khusus dari banyaknya cerita yang beredar di sekitarnya.


Ciit


Pria itu menghentikan motornya di depan sebuah rumah besar dan juga mewah. Om Prass adalah saudara sepupu dari Rossi, sang mama.


"Om Prass ada didalam gak mbak?" tanyanya pada seorang pelayan yang kebetulan baru saja dari dalam rumah itu.


"Oh den Zion. Panjang umur ya karena sedang dibahas di dalam rumah dan ternyata sudah berada di sini."


"Mba? Om Prass ada didalam gak?" tanya pria itu lagi berusaha untuk sabar pada sang pelayan.


"Eh, iya den. Ada kok. Silahkan masuk saja," jawab perempuan itu mempersilahkan.


"Terima kasih banyak Mbak." Pria itu pun melangkahkan kakinya memasuki sebuah pintu kayu besar dengan ukiran yang sangat indah itu.


"Oh Zion. Mari silahkan duduk nak." Pria paruh baya itu langsung menyambutnya seolah-olah ia memang sudah lama ditunggu-tunggu kedatangannya.


"Ah iya Om." Pria itu pun duduk di depan meja Prasetyo.


"Apakah kamu datang untuk membicarakan perusahaan itu?"


🌺🌺🌺


*Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading ya 😍


__ADS_2