
"Kamu makan sendiri ya Nes, aku mau ngikutin mereka terlebih dahulu." Pamit Zain pada gadis yang sedang duduk menghadapi makanan di depannya. Nesti langsung menatap pria itu dengan wajah kesalnya. Sementara itu Zain sudah berlalu, ia tidak perlu jawaban setuju atau tidak gadis itu.
"Apa sih hubungan kak Zain dengan gadis itu, heran deh. Cantik gak kampungan iyya. Pakai teriak-teriak di jalan raya kayak gak pernah sekolah aja. Gak beradab!" Nesti menggerutu kesal. Ia sampai memukul mejanya dengan keras dan langsung membuat ayam goreng dihadapannya melompat dan jatuh ke lantai.
"Ih sebel. Tahu gini aku gak minta mampir makan, grrrr!," ujar gadis itu lagi dengan wajah yang semakin kesal. Ia memandang miris ayam gorengnya yang sudah tergeletak tak berdaya di lantai.
Akhirnya ia pun meraih handphonenya untuk melakukan kesibukan agar tidak menjadi pusat perhatian semua orang.
Sementara itu Zain dengan langkah panjangnya sudah berhasil mengejar langkah 3 gadis cantik yang salah satunya adalah pacarnya itu.
"Mau pada kemana sih, buru-buru amat?" tanyanya setelah berada di hadapan mereka bertiga dengan dengan maksud menghadangnya.
"Mau nonton. Kak Zain lagi sibuk 'kan? Jadi gak udah ngikutin kami deh." Cici yang menjawab dengan senyum mencibir.
"Sibuk apaan? Aku gak sibuk. Aku kan tadi cuma makan di tempat yang sama dengan kalian. Jadi apanya yang sibuk?" ujar pria itu dengan wajah tak berdosanya.
"Udah deh, itu tadi sibuk sama ceweknya. Kasihan tuh. Kok ditinggal sih?" Cici kembali menjawab kemudian mendorong tubuh pria itu kesamping agar tidak menghalangi jalannya.
"Nom, Min, kamu lihat kan aku gak akan peduliin orang yang juga gak peduliin aku," ujar Cici seraya menatap kedua orang sahabatnya. MIni dan Naomi hanya bisa tersenyum meringis. Mereka jadi merasa tidak nyaman dengan Zain yang menatap mereka dengan wajah bingung.
"Ini apaan sih? Aku tidak peduli sama kamu? Mana ada Ci'. Karena aku peduli sama kamu makanya aku sampai ngejar sampai disini. Aku sampai ninggalin Nesti disana." Zain Abdullah mencoba untuk menjelaskan kebingungannya tapi justru direspon dengan sinis oleh Cici.
"Oooh jadi cewek itu namanya Nesti? Kak Zain balik aja deh temenin dia. Kasih tahu ke dia ya, salam kenal dari kami bertiga. Dan ya, katakan kalau dia cantik dan berhasil membuat kak Zain bikin aku kesal."
__ADS_1
"Eh, maksudnya ini apa sih? Kamu cemburu sama Nesti?" tanya Zain seraya meraih tangan kekasihnya itu tetapi Cici malah menolak dan memundurkan tubuhnya. Wajah h
gadis itu semakin mengkerut kesal. Ia pun menarik tangan dua orang sahabatnya agar segera naik ke tangga eskalator menuju bioskop di lantai atas gedung Mall itu.
Zain menarik nafas panjang dengan perasaan bingung. Ia sungguh tidak mengerti dengan sikap Cici yang aneh seperti itu.
"Masak iyya , Cici cemburu sama Nesti. Aku kan gak ngapa-ngapain dengan cewek itu. Ini cuma kebetulan aja anak itu minta dianterin ke Gramedia. Lah kok jadi seperti ini sih?" ujarnya pelan. Selanjutnya ia hanya bisa meraup wajahnya kasar.
Ia sekarang berdiri saja di sana memandang punggung tiga gadis tadi yang semakin menjauh dengan cepat di atas tangga eskalator.
"Ah ya, aku akan antar Nesti secepatnya ke Gramedia. Setelah itu aku akan ikut nonton bersama dengan mereka," gumamnya dengan pelan. Ia pun segera mengajak langkahnya kembali ke restoran cepat saji tadi dimana Nesti sedang menunggunya.
"Udah makan Nes?" tanyanya saat ia baru saja sampai di hadapan gadis itu.
"Udah kak." Nesti menjawab seraya menyimpan handphonenya ke dalam tasnya. Gadis itu memandang Zain dengan senyum lebar diwajahnya. Ia sangat gembira karena ternyata Zain kembali lagi padanya.
"Emangnya urusan kakak udah selesai dengan mereka?" tanya gadis itu dengan senyum diwajahnya. Ia sangat senang karena pria itu tidak benar-benar meninggalkannya.
"Udah." Zain menjawab dengan singkat. Nesti semakin senang saja dibuatnya.
"Kak Zain juga 'kan belum makan. Kakak makan dulu gih. Aku gak apa-apa kok kalau agak lambat ke Gramedia."
"Aku gak lapar Nes. Udah. Ayo cepetan. Setelah itu kamu bisa pulang sendiri." Zain melangkahkan kakinya berjalan lebih dulu daripada gadis itu.
__ADS_1
"Lho kok? Aku datang sama Kak Zain kok jadi pulang sendiri sih. Gimana ceritanya nih?" Nesti tampak bingung dan mulai kesal. Ia pun berdiri dari duduknya dan segera ikut keluar mengikuti pria itu.
"Aku mau nonton," jawab Zain singkat saat Nesti sudah berhasil mensejajarkan langkah kakinya dengan dirinya.
"Ya bagus dong kak. Aku udah lama mau nonton juga. Ada film bagus itu yang pemerannya si Iko Uwais itu lho." Mata gadis itu langsung berbinar senang. Ia jadi punya banyak kesempatan untuk berdua dengan asisten dosen itu. Zain langsung menghentikan langkahnya kemudian menatap gadis itu sekilas.
"Gak gitu ceritanya Nes. Aku mau nonton sama tiga mahasiswi manajemen yang tadi itu lho."
"A-apa? Kak Zain masih mau menemui mereka?" tanya Nesti dengan wajah kesalnya. Zain mengangguk kemudian tersenyum.
"Iya. Aku khawatir mereka bertiga tidak akan mau lagi bertemu denganku jika hari ini aku gak ikut."
"Hah?!" Nesti melotot tak percaya dengan ucapan pria itu.
Detik berikutnya, Zain Abdullah pun segera berlalu ke arah pintu restoran. Ia sungguh tidak sabar untuk ikut ke bioskop dan bertemu dengan Cici tersayang.
Sedangkan di belakang sana, Nesti mengepalkan tangannya sangat marah. Ia sangat kecewa dengan apa yang dilakukan pria itu padanya.
"Enak saja kamu Kak. Kita datang bersama harusnya kita juga pulang bersama!" geram gadis itu kemudian memburu langkah Zain Abdullah..
🌻🌻🌻
*Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍